Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Cegah Peredaran Kunci Jawaban UN


Wartawan : Tim Padang Ekspres - Editor : Riyon - 02 April 2017 11:36 WIB    Dibaca : 155 kali

 

Bangun Rasa Percaya Diri saat Ujian

Hingga saat ini, belum ada yang memastikan kunci jawaban UN yang beredar jelang pelaksanaan UN itu adalah benar. Namun, tak dipungkiri banyak siswa yang masih percaya akan kebenaran kunci jawaban itu. 

Pengamat Pendidikan dari UNP, Jamaris menyebutkan selama ini tidak ada kebocoran kunci jawaban UN. Namun ada oknum-oknum yang memanfaatkan ini.

Untuk UNBK tahun ini bisa dikatakan tidak ada kebocoran kunci jawaban karena sistem UNBK melalui server yang penjagaan IT sudah diperkuat. Kecuali adanya penjebolan server oleh hacker.

“Ini bukanlah masalah bocornya kunci jawaban tapi lebih kepada tindak kriminal dari oknum tidak bertanggung jawab. Yang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Masyarakat mengenal fenomena tersebut sebagai bocornya kunci jawaban. Kalau pun ada jawaban yang sama itu hanya kebetulan saja,” katanya.

Permasalahan tersebut terjadi karena kurangnya penguasaan materi dari guru bersangkutan. Ketidaksiapan siswa secara mental, ditambah media belajar yang tidak memadai.

Sehingga membuat beberapa oknum guru berupaya membantu siswa dengan mencari jawaban agar siswa lulus 100 persen. Ini seolah mejadi budaya bahwa sekolah yang hebat adalah siswanya yang lulus UN 100 persen.

Dia meminta para peserta ujian nasinal (UN) tingkat SMP hingga SMA/SMK/MA tidak terpancing isu peredaran kunci jawaban UN. “Isu itu untuk membuat para siswa tidak belajar dalam menghadapi UN. Pemerintah sudah menjamin bahwa soal ujian terjamin kerahasiaanya,” katanya.

Ia juga berpesan agar para siswa tidak menjadikan UN sebagai beban. “Mereka jangan menjadikan UN sebagai beban. Setiap guru harusnya bisa menanamkan keyakinan kepada siswanya,” ujarnya.

“Saya kira kecurangan-kecurangan itu berasal dari bawah. Memang dibutuhkan pengawasan yang lebih ketat. Tapi pelaksana UN sudah bekerja secara ekstra dan hasilnya semoga baik,” imbuhnya.

Menurutnya, sebaiknya pemerintah harus melakukan perubahan yang serius. Dia mengakui cukup puas terhadap konsep pemerintah dalam pelaksanaan UN. Yakni tidak menjadikan nilai UN sebagai patokan kelulusan.

Mantan Kepala LPMP Sumbar ini berharap perubahan sistem ini terus dilakukan secara bertahap. Dia mengungkapkan, ketidakjujuran ketika UN tampaknya seperti kebudayaan dan kebiasaan. Oleh sebab itu, akan merasa sulit untuk melakukan perubahan secara sekaligus.

“Untuk itu harus dilakukan perubahan secara bertahap dan serius,” tegasnya. Kejujuran ketika melaksanakan UN itu sangat penting. Penyebabnya, kata dia, itu merupakan patokan penting untuk melihat moral bangsa. Moral itu harus dijaga dengan baik agar bangsa ini tidak mengalami masalah ini secara terus menerus.

Pengamat pendidikan lainnya, Z Mawardi Effendi, mengatakan kecurangan yang terjadi sewaktu pelaksanaan UN tersebut dinilainya akibat sejumlah target yang dibebankan kepada sekolah. Pihak sekolah itu, diberi target harus lulus maksimal. Sehingga akhirnya terjadi kecurangan dan lulus UN dengan menghalalkan segala cara.

Pemerintah daerah, terlalu mengagung-agungkan target 100 persen siswa lulus UN. Seharusnya para siswa tidak dibuat stres dengan sejumlah target yang ada. Namun yang perlu dilakukan adalah memberikan motivasi agar mereka bisa mencapai hasil maksimal.

Dia menambahkan pemerintah harus menindaklanjuti persoalan ini lebih dalam. Bisa jadi banyak temuan kasus lain yang perlu disikapi pemerintah lebih arif dan bijaksana. Serta tidak mengorbankan para siswa.

Dalam persoalan ini, perlu harus dilihat banyak sisi dan jangan sampai merugikan para siswa. Dia juga mengatakan, seharusnya sejumlah kecurangan itu tidak perlu terjadi karena anggaran untuk sektor ini telah dialokasikan cukup besar dan idealnya dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Pemerintah daerah harus berani mengambil keputusan tegas dengan mencopot oknum guru-guru yang terbukti terlibat mekukan kecurangan. Seperti memberitahukan jawaban soal bagi siswanya ketika berlangsungnya pelaksanaan ujian. 

Para guru seharusnya tidak melakukan sejumlah kecurangan hanya demi mengharumkan nama sekolahnya. Biarlah siswa lulus sesuai kemampuannya sendiri, karena itu akan lebih baik untuk masa depannya.

Sementara, Kepala Ombudsman Sumbar Yunafri mengutarakan sampai saat ini belum ditemukan adanya kebocoran kunci jawaban UN. Jika ada Ombudsman akan menindak lanjutinya.

Menanggapi masalah adanya beredarnya kunci jawaban yang dibeli seharga Rp 15.000 per orang, ia akan mensurvei ke sekolah-sekolah dengan melibatkan polisi dan dinas terkait. 

Apabila itu terbukti, UNBK pada sekolah tersebut akan langsung dibatalkan karena melanggar tata tertib UNBK. Ini sudah dibahas dalam rapat persiapan UNBK di Jakarta pada tanggal 21 Maret 2017 lalu. Ia menyayangkan fenomena tersebut terus menjadi masalahan tiap tahun dalam dunia pendidikan.

Seharusnya saat ini kunci jawaban bukanlah penentu kelulusan bagi siswa. UNBK merupakan upaya melihat kualitas pendidikan nasional. Rencananya, UNBK akan diterapkan pada seluruh sekolah, mulai dari tingkat SMP hingga SMA sederajat. 

Untuk menyiasati sekolah yang tidak memiliki komputer, akan digabung dengan sekolah terdekat yang memiliki komputer. Dan akan dimulai tahun depan dengan variasi soal yang lebih banyak, untuk menghindari adanya kebocoran kunci jawaban.

Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Burhasman menyebutkan pelaksanaan UN baik yang berbasis kompter maupun kertas diyakini akan sukses. Dinas Pendidikan Sumbar menargetkan 100 persen kelulusan bagi siswa yang mengikuti UN mendatang.  

Katanya, program jangka pendek saat ini menyukseskan ujian nasional dan menargetkan kelulusan siswa 100 persen. Ia mengatakan, saat ini pihaknya sudah merampungkan persiapan pelaksanaan UN dan menetapkan sebanyak 305 sekolah tingkat SMA/SMK/MA menjadi sekolah pelaksana ujian nasional berbasis komputer. Jumlah peserta UNBK sebanyak 41.701 siswa.

Sekolah-sekolah ini tersebar di kabupaten dan kota dan sekolah tersebut juga sudah kita persiapkan untuk pelaksanaan UNBK. Tentunya fasilitas komputer sudah sangat memadai untuk digunakan siswa nantinya.

Sedangkan untuk ujian berbasis kertas diikuti 398 sekolah untuk tingkat SMA/SMK/MA. Dengan jumlah peserta sebanyak 34.172 siswa. Pelaksanaan UN secara reguler dipastikan tidak ada kendala sedikitpun. Karena pelaksanaan UN masih dilakukan menggunakan cara yang lama dan tidak menggunakan komputer.

Sebutnya, meski tidak seluruh sekolah bisa melaksanakan UNBK, namun tingkat kelulusan ditargetkan mencapai 100 persen. “Untuk itu, pihak sekolah dan seluruh guru yang ada diminta terus mendukung peserta didik agar giat, optimis dan percaya diri dalam  menghadapi UN nantinya,” harapnya.

Saat ini, pihaknya juga sudah menganggarkan pengadaan komputer untuk pelaksanaan UNBK. Namun karena pelaksanaan UN sudah mendesak dan pengadaan komputer membutuhkan peroses yang lama, maka penambahan komputer belum dilakukan pada UN 2017.

“Tahun 2018 akan dilakukan penambahan komputer untuk UNBK selanjutnya. Jadi sekolah pelaksana UNBK terus bertambah di Sumbar,” ujarnya. 

Dia menekankan dengan sistem yang ada seperti saat ini, tak mungkin ada kebocoran soal. Makanya dia meminta siswa tak percaya dengan kunci-kunci tersebut. Dia memastikan tak benar kunci yang beredar itu. 

Kapolresta Padang Kombes Pol Chairul Aziz mengatakan petugas kepolisian dari Polresta Padang, menerjunkan anggotanya. Nanti di lapangan, petugas tak menggunakan seragam dinas. Anggota ini untuk menjaga pelaksanaan UN 2017.

“Ada dua personel nantinya petugas yang berpakaian sipil untuk pengawasan yang ikut UN. Itu kami lakukan agar secara psikis, siswa tidak takut,” ungkap Chairul Aziz.

Ia menambahkan lagi, personel kepolisian yang diturunkan adalah dari Polsek dimana sekolah itu berada. Petugas tersebut akan terus berjaga di sekolah. Selain menurunkan anggota yang berpakaian sipil, terdapat personel khusus yang akan mengawal dan menjaga naskah ujian. 

Setiap pagi, petugas dari Dinas Pendidikan akan mengambil soal ujian dan akan didistribusikan ke setiap sekolah penyelenggara. Pihaknya juga mengimbau, agar para pelajar tidak percaya begitu saja bocoran jawaban UN dan diminta agar para pelajar lebih percaya diri. “Percayalah pada diri sendiri. Tetap semangat dan rajin belajar,” katanya. (*)

© 2014 Padek.co