Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Perjuangan Yasmidar Penjual Mainan


Wartawan : Ade Nidya Zidittia - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 02 April 2017 11:26 WIB    Dibaca : 66 kali

 

Cari Uang untuk Kesembuhan Anak dan Suami

Menjadi tulang punggung keluarga bukanlah hal yang mudah bagi seorang perempuan. Apalagi di usia senja. Namun tidak bagi Yasmidar Niati, 66, warga Siteba, Kelurahan Nanggalo. Agar asap dapur tetap mengepul, ia berjalan kaki menjual mainan ke banyak tempat.

Kasih ibu sepanjang masa. Seperti itulah gambaran yang terpancar dari perjuangan Yasmidar. Belasan tahun lalu, anak kesayangannya, Febri Ganda Lius, 23, mengalami kejadian nahas dan membuat si buah hati mengalami gangguan mental organik. Selain itu, suami yang sudah berumur 77 tahun juga jatuh sakit. Hal itulah yang membuat, ibu 3 anak ini masih tetap berjualan di usia senjanya.

Rabu kemarin, sekitar pukul 11. 000 WIB, gerombolan anak-anak TK Pertiwi, Kelurahan Suraugadang, Kecamatan Nanggalo berbondong ke luar kelas mereka masing-masing. Dengan tas yang disandang, dan tangan memegang uang kertas, bocah-bocah kecil itu berlarian keluar pagar menghampiri sebuah gerobak kayu, dengan berbagai macam mainan yang tersusun dan tergantung di setiap sisinya.

Mereka mengerumuni gerobak itu dan memilih-milih mainan apa yang ingin mereka beli. Seorang wanita berjilbab putih melayani pelanggan kecil itu dengan sangat ramah. Dialah Yasmidar. Anak-anak itu berebut saling menunjuk mainan yang diinginkan.

“Yang ini nak? Tunggu, ya,” ucap Yasmidar. Dengan cepat perempuan paruh baya itu, mengambil mainan yang diinginkan anak-anak tersebut.

Senyuman ramah perempuan asal Batusangkar itu, juga diberikan kepada Padang Ekspres, saat berkunjung ke rumahnya sederhana. Di depan rumah mungil itu terlihat tumpukan beberapa karung berisikan gelas pastik air mineral. Plastic bekas itu sengaja dikumpul Yasmidar dan kemudian dijual kembali.

Di dalam rumah, ada seorang remaja bertubuh kurus. Pandangan matanya tak fokus, kadang ia berbicara pelan, kadang berbicara sendiri. Ucapannya juga sulit dipahami.

“Ini anak Ibu, namanya Ganda,” sebut Yasmidar memperkenalkan anak laki-lakinya itu. Ganda bergumam pelan, mengatakan sesuatu dan berjalan ke sana kemari. Kadang keluar dan kembali masuk lagi. 

Yasmidar menyebut, sejak tahun 2005, Ganda berubah perilaku, ia sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi. Ganda, yang semula pintar dan selalu mendapatkan rangking di sekolah, tiba-tiba bersikap aneh.

“Waktu itu pas Ganda kelas 6 SD. Tiba-tiba telinganya sakit, ibu membawanya ke bidan. Katanya ada masalah dengan telinga Ganda, kemudian diberi obat,” jelasnya.

Namun pengobatan yang dilakukan tidak memberikan kemajuan terhadap kesehatan Ganda. Anak kesayangannya itu semakin berubah dan suka berbicara sendiri, bahkan kadang mengamuk tanpa alasan yang jelas.

Sewaktu duduk di bangku di SMP, Ganda tidak naik kelas sebanyak dua kali. Seorang guru memberikan solusi agar anaknya di bawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof HB Saanin Padang. Setelah mengalami pemeriksaan, baru diketahui Ganda mengalami gangguan mental organik berujung trauma dan depresi.

“Setelah itu juga ibu baru tau, ternyata ketika kelas 6 SD, ada kejadian yang membuat Ganda seperti ini,” ujarnya.

Yasmidar menceritakan, kejadian yang membuat Ganda berubah sikap adalah pemukulan yang dilakukan oleh oknum guru. Pada saat itu Ganda duduk di kelas VI salah satu SD negeri di Siteba. Ganda seorang diri berada di kelas, ia memukul-mukul meja cukup keras sehingga memunculkan suasana gaduh.

Kejadian itu didengar kepala sekolah (kepsek) dan membuat kepsek marah. Karena kejadian yang ditimbulkan Ganda, kepsek kemudian menempeleng kepala Ganda dengan keras sehingga terjatuh. 

Kejadian itu tak pernah diceritakan Ganda. Hingga salah seorang guru yang mengetahui kejadian itu, baru menceritakan kepala Yasmidar setelah kepala sekolah yang melakukan tindakan kekerasan, meninggal. 

Hati ibu mana yang tidak hancur mendengar cerita seperti itu. Tidak ada maaf yang terlontar dari mulut kepala sekolah bahkan keluarga. Yasmidar yang tahu bahwa kepala sekolah itu sudah meninggal, tak memperpanjang perkara hingga ke kepolisian.

“Biar Allah saja yang membalas,” ucapnya pelan sambil mengelus dadanya

Masa depan Ganda sudah hilang. Dokter pun mengatakan Ganda tak bisa sembuh seperti sediakala, meskipun harapan Yasmidar untuk kesembuhan anaknya sangat besar.

Sejak tahun 2006 hingga sekarang, Ganda mengonsumsi obat dari RSJ, entah sudah berapa banyak obat penenang yang diminumnya agar tak mengamuk.

Sejak berumur 17 tahun hingga tahun 2014, Ganda sudah keluar masuk rumah sakit untuk menjalani perawatan, karena tidak ada kemajuan. Ganda kemudian menjalani rawat jalan.

“Kalau ngamuk, ibu yang jadi sasarannya. Badan bahkan sampai biru-biru dipukuli. Tapi ibu pasrah saja, kalau dilerai malah semakin menjadi-jadi,” sebutnya. 

Di sisi lain, perjuangan Yasmidar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga tidaklah mudah. Uang hasil berjualan mainan tidak banyak didapat. Kadang dalam sehari sampai Rp 100 ribu, kadang Rp 50 ribu bahkan pernah tidak jual beli sama sekali.

Pendapatan itu juga harus dibagi. Pertama untuk memenuhi kebutuhan seharai-hari, kemudian disisihkan membayar sewa rumah dan modal pembeli barang dagangan serta belanja Ganda. Tiap harinya, Ganda selalu meminta uang untuk beli makanan atau rokok.

“Dari pagi hingga malam, untuk jajan Ganda saja sudah Rp 50 ribu,” ujarnya.

Menyisiasati agar ada uang tambahan, Yasmidar mengumpulkan botol-botol plastik saat berjualan. Setelah terkumpul banyak plastik itu dijual. Uangnya digunakan untuk membyar listrik dan air.Tambahan uang untuk kebutuhan juga diberi oleh anak sulungnya, Agusondak, 25, yang bekerja sebagai pengantar galon. 

Yasmidar menuturkan, berjualan mainan sudah dimulainya sejak tahun 2004. Saat itu ia mendapat bantuan modal sebesar Rp 800 ribu dari  PT Semen Padang. Awalnya ia berjulan di depan rumah kontrakan, kemudian selanjutnya menggunakan gerobak.

“Sudah 8 tahun saya berjualan menggunakan gerobak,” sebutnya. Ia tidak bisa berhenti berjualan, karena suaminya, Masril, 77, sakit sejak tahun 2012, sehingga tidak bekerja dan hanya bisa terbaring di tempat tidur.

“Dua anak ibu sudah tamat SMA, setidaknya mereka nanti bisa mengurus diri mereka sendiri. Tapi Ganda yang ibu pikirkan sekarang. Bagaimana nantinya kalau ibu sudah tidak ada lagi,” ujar Yasmidar menatap Ganda dengan mata berkaca-kaca. Ketika di tatap ibunya, Ganda berdiri dan mengucapkan kata

“Sayang mama,” laki-laki itu berjalan kearah ibunya dan menicum pipi keriput Yasmidar. Yasmidar berharap, ada seorang donatur yang mau membantu perawatan Ganda. Setidaknya hingga kondisi Ganda sudah sedikit membaik, dan membuatnya dapat mandiri. 

“Kalau ibu sudah tidak ada lagi, Ganda bisa mencari uang sendiri,” ucapnya.

Meski begitu, Yasmidar saat ini tetap gigih bekerja mengumpulkan uang, jika uang yang didapat berlebih akan disisihkan untuk biaya pengobatan Ganda beserta suaminya.

Ia tetap yakin di usianya yang senja bisa mendapatkan uang banyak untuk mengobati kedua orang yang disayanginya itu. Sementara itu, salah seorang tetangga Bainar, 71,turut merasa iba dan berharap untuk untuk kesembuhan Ganda.

“Kadang si Ganda acok mambae atau manendang Amanyo pas manggaleh. Tanang se Ganda, ndak marabo mungkin alah ringan lo babannyo Yasmidar,” sebut wanita yang mempunyai toko pakaian di Pasar Siteba ini. (*)

© 2014 Padek.co