Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

HPN 2018 Penantian Sejak 1988


Wartawan : Sukri Umar - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 26 March 2017 11:47 WIB    Dibaca : 148 kali

 

Sumatera Barat sah menjadi tuan rumah peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang pelaksanaan puncaknya pada 9 Februari 2018. Menjadi tuan rumah ternyata tidak mudah, insan pers dan pemerintah daerah bisa dibuat gundah sebelum ada penetapan panitia pusat. Itu pula yang dialami Sumatera Barat sebelum akhirnya pada Selasa 14 Maret lalu, panitia pusat sudah bulat mendaulat Sumatera Barat.

Meski berbenah diri dan melancarkan lobi sejak tahun 2008 untuk kandidat tuan rumah tetapi baru tahun ini niat kesampaian. Tahun 2010 diurungkan karena Sumbar dirundung malang akibat gempa September 2009. 

Niat menjadi tuan rumah dikubur karena situasi yang dinilai belum pas karena Sumbar tertatih tatih untuk bangkit akibat hancurnya infrastruktur umum dan rumah rumah penduduk.

Hampir satu dekade niat menjadi tuan rumah dikubur, lalu setelah situasi memungkinkan PWI Sumbar kembali memberanikan diri untuk mencalonkan diri pada tahun 2016 untuk tuan rumah 2017. Usai pelaksanaan HPN Lombok saat itu, PWI Sumbar di bawah kepemimpinan Basril Basyar telah memulai langkah dan hampir ke titik final. Namun tim pusat menjatuhkan pilihan pada kandidat lain, Maluku. Walaupun tahun sebelumnya tuan rumah juga wilayah timur yakni Nusa Tenggara Barat.

Sama dengan perjuangan tahun ini, tahun lalu tim verifikasi dari pusat telah turun meninjau Padang sebagai calon pelaksana. Bagaimana persiapan hotel untuk penyambutan ribuan tamu, dan bagaimana sikap pemerintah daerah serta komitmennya mendukung perhelatan. Sebab dengan serangkaian kegiatan yang disiapkan pusat dan daerah, dana yang harus disediakan cukup besar. Bisa mencapai belasan miliar rupiah, tentunya yang sesuai dengan kebijakan anggaran dan memiliki azas manfaat.

Tuan rumah sudah sah, di bawah kepemimpinan Heranof Firdaus sebagai Ketua PWI Sumbar. Kita menyisihkan dua kandidat lainnya Sumatera Utara dan Solo. Tugas berat bagi insan pers sebagai tuan rumah dan penyelenggara bagimana iven nasional ini benar benar memberikan azas manfaat bagi insans pers, bagi organisasi pers, dan bagi rakyat Sumatera Barat secara keseluruhan. Sebab untuk iven penyelenggaraan sudah jelas sepandai-pandai mencincang, landasan akan kena juga. Sebagai tuan rumah, APBD Sumatera Barat akan tersedot juga untuk mendukung iven nasional ini.

Asas Manfaat

Seperti apa HPN sehingga sebegitu hebatnya magnet yang menjadi daya tariknya. Membuat insan pers dari seluruh penjuru nusantara dan bahkan dari negara tetangga mau berduyun-duyun datang. Tak kurang dari 2000 orang datang setiap peringatan HPN, yang secara berurut terakhir diadakan di Lombok Nusa Tenggara Barat dan Ambon Provinsi Maluku. 

HPN memang secara seremoni merupakan pestanya insans pers, dengan serangkaian kegiatan berkaitan dengan kewartawanan tetapi dipayungi oleh Keputusan Presiden (Keppres) No 5/1985 yang mengesahkan 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional, merujuk pada Kongres Wartawan Indonesia yang melahirkan PWI pada 9 Februari 1946 .

Dalam catatan sejarah pers di Indonesia, HPN muncul pada Kongres ke-16 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Padang, Desember 1978, saat PWI Pusat dipimpin Harmoko. Padang menjadi catatan sejarah soal organisasi pers, Kongres di Padang melahirkan salah satunya HPN. Setelah sepuluh tahun barulah Sumbar menjadi tuan rumah atau peringatan ke-4. Lalu tigapuluh tahun setelah menjadi tuan rumah, Sumbar kembali dipercaya sebagai penyelenggara tepatnya 2018 nanti.

HPN rutin dilakukan setiap tahun dan tak ada bolongnya, sebagai sarana ajang kumpul dan temu ramah para petinggi organisasi pers dan media. Setiap HPN, ada yang menjadi nilai jual atau daya tarik yakni presiden atau wakil presiden hadir membuka acara seremoni, pemberian penghargaan kepada pejabat publik, perusahaan-perusahaan besar dan insane-insan pers. Semisal sejak beberapa tahun belakangan adanya press card number one, sertifikasi wartawan, dan perusahaan pers yang terverifikasi.

Bagi daerah kunjungan presiden bukanlah hal biasa apalagi hadir bersama ribuan wartawan dari berbagai penjuru dengan media yang berbeda-beda. Walaupun sebagian hanya sekadar ikut-ikutan saja.  Daerah terutama pemerintah setempat tentu berharap agar insan pers yang hadir bisa mempromosikan daerahnya di seluruh tanah air. Potensi yang terekspose itu diharapkan menjadi daya tarik masyarakat dan pengusaha untuk berkunjung dan berinvestasi.

Tak hanya nilai tambah promosi yang diharapkan disebar gratis tadi, tetapi kehadiran presiden atau wakil presiden tentunya diiringi para pejabat negara seperti menteri dan setara menteri. Para pengambil kebijakan yang langsung memotret potensi daerah setempat, dengan harapan agar ada program pembangunan nasional yang selaras kebijakan presiden bisa dibagi-bagi ke daerah mereka yang menjadi tuan rumah.

Apapun yang menjadi magnet HPN namun yang jelas menjadi tuan rumah iven nasional sekelas HPN hendaknya menjadi kebanggaan dan tanggung jawab kita bersama. Tidak hanya insan pers dan pemerintah daerah saja, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan yang bisa memberikan contoh kepada para tamu bagaimana kita menghargai sebuah iven, bagaimana kita menghargai para tamu, dan bagaimana kita menunjukkan diri bahwa Sumatera Barat terbuka buat siapa saja yang berkunjung, dan siap untuk bekerja sama.

Puluhan tahun menanti HPN merupakan penantian yang cukup panjang. Kesempatan ini tentu harus dibuktikan bahwa Sumatera Barat siap menjadi tuan rumah, siap dengan serangkaian program dan skenario bagaimana ajang ini memberikan multiplier effect, terutama bagi daerah. Kesempatan terbuka bagi daerah untuk mem-publish potensi oleh karya para jurnalis hanya bisa dilakukan bila disusun program yang berkaitan dengan itu.

Mengawal dan mengajak ribuan wartawan untuk bisa mengikuti apa yang akan kita jual memang tidak mudah. Tetapi bila program yang disediakan memang punya nilai tambah bagi insans pers tersebut, dipastikan mereka akan tertarik. Cara dan konsep itu yang harus dirumuskan bersama-sama agar selaras keuntungan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan oleh daerah. Memang tak tampak hasilnya secara instan, tetapi akan terasa dalam waktu yang panjang.

Gong sebagai tuan rumah dan siap sebagai penyelenggara sudah ditabuh. Stakeholders terkait terutama pengambil kebijakan seperti gubernur dan DPRD secara prinsip dan kebijakan sudah menyatakan kesediaan. HPN harus kita buktikan bukan sebagai ajang menghambur-hamburkan uang daerah, tetapi sebagai cara bagaimana membangun daerah melalui sebuah iven. 

HPN bukan seremoni dan sekadar kedatangan presiden, tetapi benar benar menjadi ajang untuk membuka potensi daerah agar terjadi percepatan pembangunan dan ekonomi. Itu  bisa dilakukan bilamana stakeholders terkait menyamakan visi dan persepsi, tidak jalan sendiri sendiri, tidak mengelempokkan sektoral. Bila tidak dirancang secara matang dikhawatirkan minyak habis sambal tak enak, rumah sudah tukang dibunuh.

Pembenahan Organisasi

HPN bukanlah perhelatan organisasi wartawan tertentu saja, tetapi  dengan catatan sejarah semestinya kegiatan ini juga untuk seluruh organisasi profesi wartawan. Tak hanya PWI saja, tetapi juga AJI dan IJTI sebagai organisasi wartawan yang sah. Namun dalam perjalanannya, ketiganya seperti belum menunjukkan kesamaan persepsi dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan HPN.

Bilamana kebijakan HPN lahir dalam Kongres PWI di Padang tahun 1978, yang saat itu PWI sebagai organisasi wartawan kala itu, maka memungkinkan pelaksanaan HPN 2018 di Padang menjadi momentum bagaimana kesamaan dan kesepakatan HPN menjadi kebulatan tekad semua insan pers. Baik secara person wartawan, maupun sebagai organisasi wartawan.

Kita yakin dan meyakini momentum ini manjadi bahan pikiran kita bersama karena tak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan, sepanjang mau satu meja membicarakan dan memutuskannya. Tentu dengan kepala dingin dan cara-cara yang demokratis.

Terakhir kita berharap kegiatan HPN di Sumbar menjadi kebangkitan bagi insans pers untuk terus memperbaiki diri dan melaksanakan tugas profesi secara baik dan profesional.

Melahirkan karya-karya jurnalistik yang kritis dan membangun, serta khusus bagi jajaran panitia untuk sangat berhati-hati dalam menyelenggarakan kegiatan. Terutama dalam penggunaan dan pertanggungjawaban keuangan. Semoga kita bersama bisa menjadi tuan rumah yang baik dan sukses mengambil manfaat dari perhelatan HPN. (*)

© 2014 Padek.co