Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Sumpah Gamawan


Wartawan : Mohammad Isa Gautama - Pengajar Komunikasi Politik, Fakultas Ilmu Sosial-UNP - Editor : Riyon - 20 March 2017 12:22 WIB    Dibaca : 163 kali

 

Perkara sumpah, mungkin orang Minang rajanya. Mulai dari anak kecil, sampai orang dewasa, ada-ada saja pameo tentang ’cara’ atau ’teknik’ bersumpah. Sumpah pun bisa dibagi dua, sumpah yang baik, atau katakanlah ’sumpah putih’, sampai sumpah yang tidak baik, semacam ’sumpah hitam’ yang mengandung ’kutukan’.

Orang yang sedang kasmaran setengah mati, demi meyakinkan (calon) kekasihnya biasa bersumpah, “Demi Tuhan, cintaku sedalam samudra, setinggi Himalaya”. Atau yang lumayan legendaris, “Sumpah mati, aku sayang kamu melebihi diriku sendiri.” Itu hanya beberapa contoh dari banyak contoh ’sumpah putih’ lainnya. Karena derajat ’kelebayannya’, tak jarang sumpah putih disebut juga sebagai janji atau sumpah gombal.

Sebaliknya ’sumpah hitam’ seringkali diucapkan dengan bumbu-bumbu menyeramkan, seperti mengikutsertakan deskripsi kematian, nama binatang, bahkan juga benda-benda yang disandingkan dengan tujuan ’mengutuk’ orang yang disumpahi. Sumpah kutukan yang paling terkenal di Indonesia mungkin juga berasal dari ranah Minang yaitu mitologi Malin Kundang. Dalam mitologi itu, si anak durhaka disumpahi menjadi batu oleh ibunya, dan ’monumen’ Malin Kundang kini setiap hari bisa dikunjungi di pantai Air Manis.

Bentuk-bentuk ujaran sumpah lainnya sungguh bervariasi, di antaranya bahkan sering tanpa sadar kita ucapkan di waktu kita kanak-kanak, semisal (meminjam salah satu status dari wartawan senior Indra Sakti Nauli): “Sumpah den ko ha, kok iyo den mancilok, mati amak jo apak den.” Atau yang ini, “Sumpah, den amuah tembak patuih”. Atau yang terdengar lebih serius dan meyakinkan, “Sumpah, kok iyo den tangguang doso ang jo amak ang”.

Secara teoritis, sumpah yang berkembang dalam sebuah masyarakat secara turun-temurun bahkan masuk ke dalam kajian khusus secara sosio-antropologis terutama kajian folklor. Sesepuh dan pakar folklor Indonesia, (alm.) James Danandjaja mendefinisikan folklor secara keseluruhan sebagai hikayat, ejekan, koor, sumpah, cercaan, celaan, dan juga ucapan- ucapan yang berkembang dalam sebuah budaya dan atau lingkungan masyarakat setempat, mengandung pesan dan kesan dari interaksi yang dipelihara dalam interaksi sosial (Danandjaya:1991).

Di dunia politik kebangsaan kita, sumpah yang paling terkenal tidak ada yang melebihi Sumpah Pemuda. Itu semacam ikrar dan janji suci untuk mengikat batas-batas nasionalisme, menjadi buhul spirit untuk bersatu dan keluar dari nasib bangsa terjajah. Terbukti, ’sumpah putih’ kolosal sekaligus politikal itu menjadi titik bangkit bangsa. Dus, sumpah ternyata bermakna sangat positif bilamana memang dirancang sedari awal untuk mempertegas sebuah visi dan misi.

Di tataran lebih mikro (namun massal dan klasikal), sumpah wajib dibacakan dalam sebuah prosesi pelantikan jabatan. Pejabat publik mana pun, bahkan di seluruh dunia, harus mengucapkan sumpah sebagai janjinya untuk berlaku dalam tataran ideal, berlindung dalam nilai-nilai moral dan agama. Buktinya, selalu ada kitab suci yang didekatkan ke atas kepala si calon pejabat, sesuai agamanya, semacam makna semiotik bahwa pejabat yang akan dilantik wajib berpegang teguh berdasarkan wahyu yang termaktub dalam kitab suci agamanya. Harapan sederhananya, ia akan selalu membuka dan membaca kitab itu, manakala godaan duniawi menerpanya untuk melanggar sumpahnya.

Di dunia perkorupsian Indonesia, ternyata sumpah itu seringkali dilanggar. Kata-kata sumpah yang dengan detail diucapkan secara serempak dengan calon pejabat lainnya secara umum berbunyi sebagiannya sebagai berikut: “DEMI ALLAH, saya bersumpah, Bahwa saya, tidak akan menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja dari siapapun juga, yang saya tahu atau patut dapat mengira, bahwa ia mempunyai hal yang bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan saya.”

Dari kutipan tersebut sebenarnya ada pesan tegas agar si pembaca sumpah mau menghindari diri dari praktik korupsi, penyuapan, gratifikasi. Dus, pejabat yang konsisten dengan sumpahnya tentu akan selalu ingat dengan konten sumpah tersebut. Namun, apa dikata, bisa jadi godaan untuk tetap korupsi terlalu besar, ditambah dengan benteng pertahanan diri yang memang lemah. Alhasil, kita masih ingat sumpah banyak orang penting yang kini masuk bui, salah satunya Anas Urbaningrum, saat ia bersumpah bersedia digantung di Monas jika terbukti satu rupiah pun mencuri uang negara via korupsi.

Namun Anas Urbaningrum, dan banyak nama lainnya, entah kenapa bukanlah contoh kasus terakhir dari para ’penyumpah’ yang kemudian menjadi berita utama di media itu. Terakhir, mantan idola kita semua, Gamawan Fauzi, yang notabene orang Minang pula, bersumpah di depan semua orang di sidang korupsi E-KTP, beberapa hari lalu.

Intinya, mantan Gubernur Sumbar kharismatis itu mengatakan, bahwa biarlah dirinya dikutuk seluruh rakyat Indonesia jika terbukti menerima suap atau apapun namanya dalam kasus korupsi E-KTP.

Semoga ini bukan sumpah yang membawanya semakin terperosok ke jurang pusaran korupsi yang sedang ’mengintainya’. Karena, jujur saja, trik bersumpah itu sudah sedemikian klisenya diucapkan para ’calon pesakitan’. Meskipun demikian, tetap jugalah kita hargai, karena itu hak Gamawan dan semua orang yang sedang dirundung masalah serupa, sebagai bagian dari pembelaan diri. Kita wajib pula menerapkan asas praduga tak bersalah.

Di luar semua itu, tetap sikap jujur adalah sikap paling mulia yang publik tunggu-tunggu. Kita tunggu pembuktian integritas tokoh yang pernah mendapat anugerah Bung Hatta Anticorruption Award ini. Wallahualam Bissawab. (*)

© 2014 Padek.co