Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Murni, Membesarkan Enam Anak dari Berjualan Bedak Beras dan Sanggul


Wartawan : Ade Nidya Zodittia - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 19 March 2017 11:45 WIB    Dibaca : 63 kali

 

Suami Meninggal bukan Alasan untuk Menyerah

Jerat kemiskinan memang menyesakkan, namun tidak bagi Murni, 64, warga Gunuangledang, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Meski sudah tua, ia tetap gigih berjualan di Pasar Raya Padang. Memanfaatkan pelataran toko milik pengusaha, recehan demi recehan dikumpulkan untuk menghidupi keluarga.

Rabu (15/3) siang, Pasar Raya Padang sudah mulai ramai. Hiruk pikuk pasar begitu kental terasa. Kondisi itu tidak membuat para pedagang lelah untuk terus berjualan. Mereka terus bersorak-sorak kepada tiap orang yang lewat, untuk menjejalkan dagangannya.

Dalam kebisiangan itu, satu di antaranya tampak berbeda. Seorang perempuan tua, duduk bersimpuh di lantai emperan antara dua toko emas, Pasar Raya.

Bajunya terlihat lusuh berpadukan sarung. Kerudung merah muda yang dikenakannya tidak rapi lagi. Helaian rambut putih mencuat dari tepi kerudung dan menempel di pipinya yang keriput. 

Rak kayu bertingkat dua yang dibuat seadanya terletak di sampingnya, di sanggah dengan kotak buah bekas agar rak menjadi lebih tinggi. Beralasan terpal bekas, barang dagangan seperti badak bareh, sanggua, kaus kaki, dan peniti disusun sedemikian rupa agar orang-orang yang lewat dapat melihat dengan jelas barang apa saja yang dijual.

Hanya saja, orang-orang yang berlalu lalang di depannya tampak acuh. Jangankan singgah, melirik pun sepertinya enggan. Tetapi ibu enam anak itu tidak patah semangat. Setiap orang yang lewat, tetap disapanya, sembari menawarkan sejumlah barang yang dijualnnya.

“Apo bali, buk, apo bali, ni, apo bali nak. Singgah lah. Apo namonyo?” ujarnya sembari membersihkan debu yang menempel di dagangannya dengan bulu ayam. Murni tetap berusaha tersenyum. Dari wajahnya tergurat garis-garis yang tidak muda menandakan dirinya sudah menghadapi kerasnya zaman.

Tawaran yang sama dilontarkannya saat Padang Ekspres mampir. Setelah berbasa-basi, dan mengutarakan maksud kedatangan Padang Ekspres, Murni merespons positif. Dengan blak-blakan dia menceritakan perjalanan hidupnya.

Sudah 31 tahun Marni ditinggal mati suaminya, perekonomian keluarganya semakin sulit saat itu. Ia harus menghidupi dan membesarkan enam anaknya seorang diri.

Bisa dikatakan ia tidak sanggup menjalani kondisi itu, namun apa daya keadaan memaksanya untuk berjuang mengumpulkan rupiah. Dia boleh disebut perempuan tua yang tangguh. Kendati tidak muda lagi, ia tetap berusaha bekerja dan tidak ingin jadi pengemis.

“Amak mangaleh sajak tahun 1986, sajak apak (suaminya, red) maningga. Kalau indak manggaleh, jo apo ka manggadangan anam anak amak,” ujarnya membuka cerita

Sejak berumur 30 tahun, Murni memang menjadi single parent. Mendiang suaminya bekerja sebagai penjual ayam di Pasar Raya. Dengan usaha itu, mereka membangun rumah di tanah pusako keluarga.

Rumah itu sekarang ditempatinya bersama dua anak, menantu, dan dua cucunya. Anak beserta cucunya yang lain sudah hidup mandiri dan tinggal di rumah mereka masing-masing.

Murni bercerita, kendati ditinggal suami untuk selamanya di usia muda, tidak pernah terbesit di hatinya menikah lagi. Walau diakui, ada sejumlah lelaki yang mengajaknya membina rumah tangga. Mengingat enam anak yang ditinggalkan suami, wanita ini lebih memilih bertahan membesarkan dan menyekolahkan buah hatinya seorang diri.

“Apak maningga dunia saat si bungsu baumua tiga bulan. Indak ado sakik kronis yang diderita apak. Hanyo tibo-tibo sajo kapalo taraso pusing, lalu maningga,” kenangnya lirih. Sejenak Murni tampak terdiam. Bola matanya mendadak berkaca-kaca.

“Tuhan memang bakahandak sasuai kemauan-Nya,” lanjutnya kemudian. 

Berjualan sejak pagi hingga sore setiap harinya, tidak berarti Murni pulang membawa uang banyak. Kadang selama tiga hari ia tidak pacah talua sama sekali alias tidak ada yang membeli dagangannya. Karena memang pembeli tidak menentu. Tergantung rezeki. Jika sudah demikian, Murni harus rela ’berpuasa’. 

“Mangaleh ko rasaki harimau. Kadang ado, kadang indak samo sakali. Kalau ndak bajua bali, amak tapaso manahan lapa. Makan di rumah se lai. Karano amak indak ado baok nasi, dek ndak batanak pagi,” bebernya. 

Padahal, berjualan di Pasar Raya tidak gratis. Murni harus mengeluarkan uang sedikitnya Rp 5.000 per hari. Uang segitu untuk membayar tempat, tukang angkat, uang keamanan dan yang lain.

Harga barang dagangannya pun tidak mahal. Badak bareh, yang ia buat sendiri bersama cucu-cucunya dijual dengan harga Rp 3.000 hingga Rp 15.000. Lalu, sanggua yang juga buatan sendiri dijual Rp 20.000 hingga Rp 30.000. Tergantung ukurannya.

“Bahan sanggua pakai rambuik asli. Balinyo ka tukang salon. Biasonyo sakantong Rp 50.000. Bisa menghasilkan babarapo buah sanggua ,” imbuh wanita yang tak tampak ekspresi lelah di raut wajahnya yang sudah mengeriput.

Badak bareh buatan Murni memang natural. Selain beras, juga ditambah bengkuang dan kunyit. Dua bahan itu digiling lalu dijemur. Kalau cuaca bagus (panas, red), satu hari penjemuran sudah bisa dijual. 

“Khasiat badak bareh, sangat bagus untuk wajah. Yang pasti tidak ada efek samping, seperti bahan kosmetik keluaran pabrik,” sebutnya seperti berpromosi.

Sama dengan badak bareh, sanggua juga dibuatnya sendiri. Bahannya dari rambut asli. Pekerjaan ini merupakan keterampilan turun temurun keluarganya. Ibu dari Murni, dulunya juga membuat dan berjualan sanggua. 

“Yang mambali sanggua ko biasonyo anak-anak gadih yang ka manari,” jelasnya sambil menunjuk sanggua yang terletak di ujung rak kayu pajangannya.

Alasan Murni tetap berjualan di usia senja, agar tidak membebani anak-anaknya. Walau sudah berumur, nenek belasan cucu ini tidak mau berdiam diri di rumah. Apalagi, kehidupan anak-anaknya juga pas-pasan. 

“Kalau lai ka pasa, paliang indak untuak pambali bareh, dapek juo,” imbuh wanita yang menjadi wanita paling tua berjualan badak bareh di Pasar Raya.

Murni sadar, karena penghasilannya tidak tetap, ia selalu menyisihkan sebagian penghasilannya. Kendati demikian, Murni pernah mengalami nasib buruk. Rupiah demi rupiah yang ditabungnya dicopet. Bahkan, kejadian itu dialaminya dua kali.

“Uang Rp 5 juta, dan Rp 1,5 juta melayang digondol copet,” bebernya. Padahal uang itu juga termasuk modal pembeli barang. Ceritanya berhenti sejenak ketika ada seorang perempuan muda singgah. Senyum tampak di wajah ibu tua itu, yang langsung melayani calon pembelinya dengan ramah.

“Untuk nenek di rumah, dari kemarin minta dibelikan badak bareh,” ucapnya. Wanita muda yang mengaku bernama Intan, dan tercatat sebagai mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Padang itu mengaku sering membeli badak bareh ke tempat Murni. ”Ambo langganan mambali badak bareh jo amak ko,” lanjut wanita berjilbab itu.

Selain badak bareh disana cocok bagi neneknya, alasan Intan membeli badak bareh bersama Murni juga karena merasa iba dengan ibu lanjut usia itu, tetapi masih tetap bekerja. Melihat Murni, gadis berbaju merah ini mengaku teringat neneknya di rumah “Semoga ibu ini (Murni, red) tetap diberi kesehatan terus,” doanya sambil berlalu. 

Murni adalah sosok wanita yang tegar, meski sudah tua tidak terlintas di hatinya menyusahkan keluarga apalagi orang lain. Pantang baginya untuk meminta-minta.S elagi tulang masih kuat tidak ada kata menyerah untuk berusaha. (*)

© 2014 Padek.co