Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Penjual Kantong Plastik jadi Wakil Rakyat


Wartawan : Debi Virnando - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 12 March 2017 11:52 WIB    Dibaca : 147 kali

 

Menjual kantong plastik di Pasar Raya Padang, buruh angkut hingga membersihkan selokan kumuh dilakoni pria kelahiran Padang, 15 Desember 1972 ini untuk berjuang melanjutkan pendidikan. Dulu. Sebelum nasibnya hanyut dibawa untung.

Mata Zulhardi Z Latif berkaca-kaca saat menceritakan masa kecilnya. Bibir tersenyum, namun, tatapan nanar. Kata-katanya memberat bak dihimpit kenangan saat mengisahkan kepergian kedua orangtua.

Ayah meninggal ketika masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMA). Setelah tamat, kehilangan pertamanya disusul oleh kepergian ibunda tercinta. Ia menjadi yatim piatu.

Perasaan canggung lebih terasa karena tidak dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi. Siswa yang aktif di Osis dan Palang Merah Remaja (PMR) bingung kemana jiwa organisasi akan diluapkan.

“Karena keterbatasan. Saya harus membiayai kuliah sendiri, bekerja sambil kuliah, tapi kerja dulu, baru kuliah,” kenangnya saat ditemui di kantor DPD Golkar, kemarin (11/3).

Baginya, bekerja sambil kuliah sudah biasa. Sebab sejak masih di bangku SMP ia sudah menjajaki berbagai macam pekerjaan. Mulai dari menjual kantong plastik di Pasar Raya, hingga menjadi tukang angkut belanjaan pengunjung. Dari sana jajan sehari-hari dapat dipenuhi.

Selain berdagang, saat SMA, tokoh masyarakat Kuranji itu pernah bekerja membersihkan selokan Bandaolo, tepat di depan kampus Universitas Ekasakti (Unes) sekarang. Tidak peduli air hitam maupun kotoran yang lalu lalang, bandar tetap dibersihkan.

Jakarta pun sempat dijelang untuk membawa peruntungan. Di sana, ia dikejar-kejar oleh hansip. Zulhardi Z Latif mencoba menjual mainan anak-anak di sekitar tugu Monas. Sayang tidak bertahan lama.

Hanya berlangsung selama satu tahun. Sekitar 1993 ranah bundo kembali terkenang. Setahun kemudian, akhirnya mendapat kesempatan untuk mengenyam bangku perkuliahan.

Sekembali dari rantau itulah suami Atisah Aduski tersebut kembali haus akan organisasi. Terkenang masa-masa aktif di sekolah. Maka muncullah inisiatif untuk membuat persatuan alumni SD. Wadah menyalurkan keinginan berorganisasi. Pengabdian pada masyarakat pun dimulai.

Perlahan namanya mulai dilirik oleh tokoh masyarakat Kuranji. Zulhardi Z Latif dinilai sebagai sosok anak muda yang layak diorbitkan sebagai tokoh masa depan.

Kepercayaan masyarakat terus naik hingga dipercaya di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) kecamatan dan Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) kecamatan.

“Belum terbayang untuk menjadi anggota dewan, belum,” kenangnya. Tujuannya hanya berorganisasi dan mengabdi pada masyarakat. Sukses di kecamatan, karir keorganisasian berlanjut ke tingkat Kota Padang.

Pernah menjabat sebagai ketua Karang Taruna Kota Padang, Ketua Gerakan Pemuda (GP) Anshor hingga Wakil Ketua KNPI Kota Padang selama dua periode.

Meski belum memiliki kekuatan seperti sekarang, perjuangan untuk rakyat sudah dimulai. Dirinya tetap mencarikan bantuan-bantuan untuk warga. Kelompok tani dicarikan bantuan mesin bajak, pemilik kolam dicarikan bibit, bahkan dalam rentang waktu pengabdian tanpa pamrih tersebut, anggaran pembangunan jalan di tarik ke Kuranji.

Terlebih setelah berkecimpung di Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM). Zulhardi mendapat kekuatan baru untuk membangun nagari. Bahkan anggaran Rp 1 miliar pernah dibawa ke wilayahnya untuk pembangunan jalan, WC dan gedung-gedung PAUD.

“Belum punya kekuatan, tapi tetap mencoba sharing bantuan. Meminta bantu pada anggota dewan pada waktu itu dan sejenisnya. Yang penting masyarakat terbantu, pembangunan jalan,” jelasnya.

Belum jadi siapa-siapa, sudah mengabdi. Tidak heran apabila kesehariannya terasa begitu akrab dengan masyarakat. Salah satu buah tangannya yang masih segar diingatan, yakni Rumah Singgah.

Program Rumah Singgah diinisiasi ketika dirinya dipercaya sebagai ketua Karang Taruna Kota Padang. Zulhardi bersama kawan-kawannya membina anak-anak asongan, menuntun tuna netra dan memberikan rumah istirahat bagi pengamen.

Zulhardi Z Latif merasai betul, karena pernah berada di posisi anak-anak yang diasuhnya. Di rumah itu disediakan beras, mie rebus, tv dan kebutuhan lain untuk menarik hati anak-anak yang hidup di jalanan. Setelah tertarik, baru mereka diberi pembinaan. (*)

© 2014 Padek.co