Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Kehidupan Asnimar, Janda Tujuh Anak di Padangpariaman


Wartawan : Aris Prima Gunawan - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 12 March 2017 11:49 WIB    Dibaca : 204 kali

 

Tak Ingin Anak Bermentalkan Pengemis

Menghidupi tujuh anak yang masih kecil bukan perkara mudah. Apalagi hanya seorang diri tanpa suami. Namun Asnimar, 36, janda tujuh anak di Padangpariaman menunjukkan kegigihannya menghadapi kerasnya zaman.

Meski terlilit erat oleh kemiskinan, ia tetap menyekolahkan anak-anaknya dari hasil memulung dan penjualan kayu bakar. Berikut kisahnya.

Iba, itu perasaan yang muncul ketika berjumpa dengan Asnimar, warga Korong Dukubanyak, Nagari Balahaie, Kecamatan Tujuhkoto Sungaisarik, Kabupaten Padangpariaman.

Wajahnya mulai keriput, berbanding terbalik dengan usianya yang sekarang. Terlihat jelas kalau dirinya seorang pekerja keras, tidak kalah dengan para lelaki.

Asnimar berjuang menafkahi keluarga dengan cara mencari kayu bakar kemudian dijual kembali. Meski sedikit uang didapat, namun itu sudah berkah luar biasa baginya karena dari uang itulah beras bisa didapat dan anak-anaknya bisa makan.

Uang tambahan lainnya juga didapat oleh Asnimar dari hasil memulung pada malam hari. Janda ini tidak malu sedikitpun meski harus bekerja banting tulang seperti kaum pria, yang penting uang yang dihasilkan didapat dengan cara halal.

Asnimar sudah dua kali kehilangan suami. Kedua suaminya meninggal dunia. Suami pertama bernama Marlis, meninggal karena kecelakaan sepeda motor. Sedangkan suami kedua, Darman Muntir, meninggal karena terserang penyakit.

Tidak mudah bagi Asnimar kehilangan suami, apalagi saat itu hidup di rantau orang. Ia dipaksa keadaan menafkahi anak-anaknya seorang diri. Kerasnya hidup di kampung orang membuat Asnimar kembali ke kampung halamannya di Padangpariaman. Namun apalah daya, di tanah kelahiran pun Asnimar dan anak-anaknya masih menjalani kehidupan pahit. 

Padang Ekspres bertemu dengannya beberapa waktu lalu, saat itu dia dan anak-anaknya sedang dalam perjalanan menjual kayu bakar ke salah satu warung nasi di depan kantor Camat Pariaman Selatan. Sambil menggendong anak yang masih kecil, Asnimar mengayuh becak berisikan kayu bakar.

Empat anaknya ikut membantu mendorong becak, walau masih kecil namun mereka sadar kalau ibu mereka sedang kelelahan. Tidak sempat bagi mereka untuk bermain berbeda dengan anak lain yang seusia dengan mereka. 

Beberapa menit kemudian Asnimar melalui jalan dengan turunan tajam, tergopoh-gopoh ia turun dari becak dan menahannya dengan sandal jepit tipis yang dipakainya. Laju becak terus tidak tertahan.

Anak-anaknya juga mencoba menahan laju becak dari belakang, dengan memegang tali yang telah diikatkan di kerangka becak. Asnimar sendiri panik bukan main, becaknya terus tidak tertahan, sementara seorang anaknya yang masih kecil berada di atas becak, tiga orang warga yang melihat langsung berlari dan membantunya.

Asnimar memulai menjual kayu bakar besama anak-anaknya ke Kota Pariaman siang hingga sore hari. Sedangkan memulung dilakukannya setelah menjuang kayu tersebut, hingga malam hari sekitar pukul 22.00. 

“Jualan kayu bakar ini sebenarnya hanya dua atau tiga kali seminggu. Jadi kalau tidak ada yang memesan kayu bakar, sore saya pergi memulung, anak-anak juga ikut,” ujar Asnimar saat berbincang dengan Padang Ekspres di Simpang Kuraitaji.

Asnimar memilih memulai bekerja siang, karena tiga anaknya sudah bersekolah. Jika bekerja pagi, tidak ada yang mengurus anak-anaknya itu sebelum pergi ke sekolah. Baginya pendidikan anak lebih utama daripada mencari nafkah. Karena dirinya yakin dengan ilmu nasib hidup bisa diubah.

“Anak-anak wajib sekolah. Jadi semiskin apapun kehidupan saya, anak-anak harus berpendidikan. Saya tidak mau nantinya anak saya memiliki mental pengemis. Makanya saya barengi mengajar mereka dengan mengajak membantu saya bekerja,” sebutnya.

“Kalau menjual kayu bakar saya dapat Rp 50 ribu per becak. Sedangkan dari hasil memulung, paling banyak itu dapat Rp 40 ribu per hari. Alhamdulillah saya sangat bersyukur,” tambahnya.

Asnimar menceritakan, rumitnya kehidupan yang dijalani bermula suaminya yang pertama Marlis meninggal dunia. Almarhum sendiri tidak meninggalkan warisan untuk menghidupi enam anak yang ditinggalkannya. 

”Almarhum suami saya pertama, bekerja sebagai tukang jahit. Beliau meninggal tahun 2012 lalu karena kecelakaan,” ujarnya.

Namun sesudah dua tahun kematian suaminya pada 2014, Asnimar kembali mendapatkan jodoh, laki-laki itu bernama Darman Muntir. Suaminya yang kedua ini, bekerja sebagai pedagang kebutuhan dapur seperti sayur, cabai, tomat, dan bawang. Keberadaan Darman mampu membuat Asnimar dan enam anaknya berkecukupan. 

“Bersama suami kedua, saya dan anak-anak merantau ke Pekanbaru. Namun tak cukup setahun usia pernikahan, beliau mengalami sakit berat hingga meninggal dunia. Inilah yang namanya malang tak dapat dihelakkan,” ujarnya.

Bersama Darman, Asnimar dikaruniai lagi seorang anak. Asnimar sempat bertahan beberapa bulan di Pekanbaru. Sayangnya, dia tidak mampu melanjutkan usaha suaminya itu, karena kesulitan dalam permodalan. Sedangkan rumah yang mereka tempati, masih berstatus kontrak.

“Kemudian saya memilih kembali ke kampung halaman saja,” ujarnya. Namun nasib tetap tidak berpihak kepada Asnimar. Pekerjaan kasar harus ia jalani, meski begitu ia tetap berusaha meski tulangnya harus merapuh.

Keinginannya yang besar adalah mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga puncak tertinggi, mengangkat harkat dan martabat keluarga serta memili rumah sendiri untuk berteduh.

Mirisnya kehidupan yang dijalani Asnimar juga sudah mendapat perhatian dari banyak pihak. Sejumlah bantuan pernah ia terima seperti dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Padangpariaman, artis minang, LSM, Pemerintah Kabupaten Padangpariaman, Kodim 0308 Pariaman, hingga Anggota DPR RI John Kenedy Azis.

Sekarang, seluruh pihak tersebut tengah membantu pendirian rumah untuk Asnimar. Meski sudah mendapat perhatian namun pantang bagi Asnimar untuk bermalas-malasan palagi menggantungkan hidup pada orang lain.

“Kita berharap Asnimar dapat tinggal nyaman bersama anak-anaknya. Makanya kita lakukan gerakan untuk pendirian rumah beliau,” ujar Ketua PWI Padangpariaman, Ikhlas Bakri.

Sementara Bupati Padangpariaman, Ali Mukhni mengharapkan, Asnimar bisa membuka usaha seperti dagang kelontong, dengan modal yang diberikan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Padangpariaman. (*) 

© 2014 Padek.co