Pegiat Literasi


Wartawan : Nashrian Bahzein - Wartawan Padang Ekspres - Editor : Riyon - 05 March 2017 12:29 WIB    Dibaca : 102 kali

 

Berkhidmat menemu-kenali anak-anak muda pengabdi, sungguh nikmat. Meski langka bukan berarti tiada. Tidak percaya? Hmm, coba saja berselancar di internet. Begitu ketik kata positif sebagai keyword, sekelebat terdedah tokoh-tokoh tempo doeloe sebagai inspirator. Hanya secuil dari tokoh-tokoh masa kini. Dunia maya cenderung dijejali sampah dan sumpah serapah.

Adagium bad news is good news ternyata kebablasan di kalangan netizen. Tak heran bila media sosial disesaki kata-kata destruktif ketimbang konstruktif. Para “jurnalis warga” keranjingan memproduksi kata-kata sampah di dunia maya, yang notabene “haram” bagi kalangan jurnalis mainstream. Bermodal gawai pintar, kelas menengah kita aktif menebar berita dan informasi dengan asumsi-asumsi. Bukan data dan fakta. Disinilah berita-berita bohong dan palsu membiak.

Saya menemukan manusia-manusia modern berpikir primitif di dunia online. Lebih mengedepankan siapa aku daripada gagasan. Tidak peduli benar atau salah yang penting berkomentar. Aden hebat. ”Aku berkomentar maka aku ada”. Begitulah jargon kaum netizen yang kian jago mempelesetkan pemikiran filsuf Perancis Rene Descartes, “aku berpikir maka aku ada”.


Silahkan Login Untuk Lanjut Membaca

Username/ Email
Password
© 2014 Padek.co