Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Sisi Lain Harimau Sumatera di TMSBK Bukittinggi


Wartawan : Nanda Anggara - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 05 March 2017 12:03 WIB    Dibaca : 132 kali

 

Meskipun Diamputasi tetap Hewan Buas

Merawat maupun menjaga dan mengawasi hewan liar yang terluka bukanlah persoalan gampang. Diperlukan kesabaran dan pengetahuan serta kerja sama dalam hal itu. 

Paling tidak hal itulah yang diterapkan petugas di Taman Marga Satwa Budaya dan Kinantan (TMSBK) Bukittinggi. Saat ini, di sana ada dua Harimau Sumatera dititipkan karena luka terkena jerat masyarakat.

Kedua Harimau Sumatera itu mengalami nasib yang sama meski dalam waktu dan lokasi berbeda. Pertama seekor Harimau Sumatera terjerat dalam jerat babi masyarakat di Sijunjung pada tahun 2007. Kemudian disusul seekor lagi tahun lalu di Pesisir Selatan.

Kedua hewan itu dititipkan dinas terkait ke TMSBK untuk mendapatkan perawatan khusus. Malang, karena tulang kaki rusak akibat meronta saat terjerat, kaki harimau tersebut terpaksa diamputasi. Kondisi ini tentu berefek bagi hewan bertaring tersebut.

“Yang namanya luka dan sakit tentu dirasakan juga oleh hewan, sekalipun hal itu membuat trauma hewan-hewan itu. Bahkan, karena biasa di dalam hutan, hewan itu tidak mau bertemu dengan manusia. Namun, karena harus merawat luka yang dialaminya mereka mesti bertemu manusia juga,” terang Masrizal, salah seorang pawang harimau TMSBK kemarin.

Menurut Masrizal, awal-awal setelah diamputasi, pengawasan bersama dokter hewan terus dilakukan hampir setiap hari hingga luka itu berangsur sembuh. “Setelah agak baikan baru pengawasan dilakukan dua atau sekali dalam sepekan, namun makannya terus diperhatikan,” ujarnya.

Untuk sementara waktu sembari beradaptasi dengan manusia, harimau itu dikarantina terlebih dahulu. “Dengan bertemu petugas setiap hari, lama kelamaan mereka akhirnya terbiasa dengan manusia. Meski begitu hewan tersebut tetap buas selayaknya di habitat asli,” jelasnya.

Perlahan tapi pasti, kondisi kedua harimau tersebut terus membaik. Meski kehilangan anggota badan, namun Harimau tersebut tetap buas seperti kondisi di habitat asli. “Sekarang semua mendapat perlakukan sama, baik perawatan maupun makannya. Minimal empat kilogram sehari,” jelas Masrizal.

Kondisi yang terus membaik itu terang Masrizal, dibuktikan dengan masih produktifnya harimau jantan yang terluka itu. Bahkan, sudah beberap kali memiliki keturunan yang lahir dari induk betina yang memang sudah ada di TMSBK.

“Sekarang kami memiliki sembilan ekor harimau, dua di antaranya cacat. Dari sembilan itu dewasa enam ekor, dan tiga masih baru tiga bulan. Dari sembilan itu empat di antaranya betina, dan empat jantan,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Bidang (Kabid) TMSBK Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Bukittinggi Ikbal mengatakan, setidaknya saat ini di TMSBK memiliki dua harimau dalam kondisi cacat pada bagian kaki, karena terpaksa diamputasi akibat terjerat.

“Satu pada tahun 2007 silam di daerah Sijunjung yang kita beri nama Banca, dan satu lagi yang di Pesisir kemarin, keduanya sudah diamputasi,” terang Ikbal.
Ikbal menjelaskan, yang namanya hewan liar memiliki sifat kepribadian yang lebih pendiam.

“Bisa jadi karena trauma, jadi Harimau yang ada di TMSBK itu lebih memilih di dalam kandang dari pada di luar kandang,” sebutnya.

Namun, kondisi itu bisa diatasi oleh petugas atau pawang hewan dengan membiasakan secara perlahan untuk beradaptasi. “Dari semula takut bertemu manusia, hingga saat ini sudah bisa keluar kandang. Meski begitu, pada prinsipnya kami tidak menjinakkan, karena hewan yang ada di TMSBK bukan untuk dijinakkan,” jelasnya.

Ikbal menyebutkan, untuk saat ini koleksi harimau yang ada di TMSBK terhitung sebanyak sembilan ekor. Dua di antaranya akan di serahkan pada pihak Bali Zoo dalam rangka pertukaran satwa.

“Jadi dengan kondisi yang dialami oleh dua harimau jantan itu, otomatis gerakannya terbatas. Oleh karena itu kita fokuskan untuk dijadikan pasangan kawin bagi harimau betina lainnya,” jelas Ikbal.

Untuk sehari, harimau minimal diberi makan empat hingga lima kilogram bahkan lebih untuk menjaga kondisi nya agar tetap fit. “Tidak saja daging khusus yang diberikan, melainkan berupa hewan hidup seperti ayam, kelinci, dan kambing,” jelasnya.

Intinya terang Ikbal, hewan yang mengalami cacat dan yang tidak mendapat perawatan khusus dari petugas. “Kesehatannya selalu kita periksa, makannya harus teratur, dan setiap gerak-geriknya selalu dipantau,” terangnya. (*)

 

© 2014 Padek.co