Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Asferi Ardiyanto, Penyelamat Hewan Langka dari Yayasan Kalaweit di Nagari Supayang


Wartawan : Riki Chandra - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 05 March 2017 12:00 WIB    Dibaca : 82 kali

 

Selamatkan Hewan Langka dari Kepunahan

Tak banyak orang yang peduli terhadap kelangsungan hidup satwa primata di hutan-hutan Indonesia. Karena itu, kepedulian Asferi Ardiyanto mengabdikan diri menyelamatkan dan mengkonservasi kehidupan siamang (kalaweit) dan owa-owa patut dicontoh.

Asferi mengaku, kepeduliannya untuk menyelamatkan hewan satwa langka karena prihatin melihat populasi siamang, owa-owa sebagai hewan dilindungi, menyusut sekitar 60 persen dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini. Maka lewat yayasan penangkaran hewan satwa langka Kalaweit, Asferi mulai menggeluti kehidupan hewan langka.

Ia bercerita, Yayasan Kalaweit berdiri sejak tahun 1998 di Kalimantan Tengah dimotori Aurelien Brule alias Chanee asal Perancis. Yayasan ini sebagai wadah bagi orang-orang penyelamat satwa langka di Indonesia. 

“Kalaweit itu diambil dari bahasa Dayak Nganju, Kalimatan Tengah. Kita fokus penyelamatan hewan siamang dan owa-owa. Tapi, selain jenis primata, kami juga melakukan rehabilitasi satwa dilindungi lainnya,” kata Asferi yang juga General Manager Yayasan Kalaweit wilayah Sumatera, kepada Padang Ekspres, kemarin (4/3).

Lelaki 40 tahun itu mengisahkan, Yayasan Kalaweit di Sumatera berdiri pada tahun 2003 silam berpusat di Pulau Marak, Kabupaten Pesisir Selatan. Namun, setelah kontrak habis tahun 2013, rumah penyelamat satwa langka ini beralih ke kawasan hutan Nagari Supayang, Kecamatan Payungsekaki, Kabupaten Solok.

“Sebenarnya, pada tahun 2011 kami sudah di Supayang ketika masa transisi sebelum kontrak habis si Pesisir Selatan,” ujarnya.

Sebagai lembaga penangkaran satwa dilindungi, Kalaweit lebih sebagai wadah penetralisir sifat alamiah hewan-hewan langka. “Kalaweit sifatnya tempat penitipan hewan langka sebelum dikembalikan ke alam bebas,” terang lulusan Biologi Unand tahun 1995 itu.

Setiap masyarakat yang memelihara hewan langka, harus diambil atau diserahkan langsung pada pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Setelah itu, pihak BKSDA sendiri yang menitipkan hewan tersebut pada Kalaweit untuk direhabilitasi.

“Jadi, hewan yang ada di yayasan kita ini ada yang dari hasil sitaan BKSDA. Ada juga yang langsung diserahkan masyarakat,” tutur ayah satu orang anak ini.

Lokasi rehabilitasi Kalaweit Nagari Supayang ini memiliki luas lahan sekitar 10 hektare. Terdapat sebanyak 130 ekor siamang dan owa-owa, beruang 3 ekor, musang bulan 1 ekor, kera dan beruk.

“Siamang dan owa-owa di lokasi ini berasal dari hasil sitaan berbagai tempat. Mulai dari DKI, Jawa Barat, Bengkulu, Lampung, Jambi, dan Sumbar sendiri,” sebutnya.

Lebih jauh Asferi mengatakan, sebelum dilepas ke alam bebas, hewan harus di karantina terlebih dahulu, minimal selama 3 bulan. Pengurungan hewan ini bertujuan untuk memastikan kondisi satwa itu, apakah terjangkit penyakit atau tidak. Kemudian selama di karantina, tim dokter Kalaweit melakukan pengecekan darah masing-masing hewan.

Selesai karantina, ia dan anggota lainnya mencarikan pasangan bagi masing-masing siamang. Lantas, siamang yang telah berpasangan itu dimasukkan ke dalam kandang rehabilitasi berukuran sekitar 12x6 meter, dilengkapi dengan pohon kayu yang menjadi identik tempat hidupnya siamang.

Lalu setelah proses itu dilakukan, pihaknya mengecek beberapa indikator alamiah hewan tersebut sebelum dibebaskan ke hutan liar. Di antaranya, satwa tidak lagi ketergantungan dengan manusia, cocok dengan pasangan, makanannya sudah alami, dan bunyinya sudah teratur. 

Dengan kata lain, lamanya proses pengambilan jati diri hewan satwa itu tergantung lamanya berada di tangan manusia. “Kalau cepat, bisa 3 sampai  6 bulan. Ada juga yang sampai 1 hingga 5 tahun,” terang Asferi.

Saat ini, Kalaweit di Supayang dijalankan oleh 26 personel. Di antaranya, 3 orang dokter hewan, 1 orang tenaga ahli tanaman, ahli kehutanan dan petugas lainnya.

“Secara kewenangan, kita hanya tempat penitipan rehabilitasi satwa langka. Sebab, otoritas satwa ini penuh ditangan Departemen Kehutanan,” katanya lagi.

Untuk kondisi hewan langka sendiri, tambah Asferi, Sumbar masih belum separah Provinsi lain. Dengan kata lain, habitat satwa-satwa liar di hutan Sumbar masih sedikit terjaga. Hanya saja, karena maraknya perburuan, hewan-hewan itu lari keluar hutan dan mudah ditangkap orang-orang yang tak bertanggungjawab. 

Melihat kondisi itu, iapun melakukan sosialisasi dan penyadaran kepada masyarakat terutama warga yang bermukim di sekitar hutan Supayang untuk tidak menangkap satwa dilindungi.

Selama ini, masyarakat yang memelihara jenis hewan itu beranggapan, jika satwa tersebut nyaman dan aman berada di rumah dengan pemberian makan teratur. Padahal tidak, setiap hewan liar justru akan nyaman hidup di alam bebas.

“Kalau dipelihara di rumah, ujung-ujungnya mati. Kalau dilepaskan, mereka bisa berkembang biak,” kata Asferi.

Untuk keamanan lokasi rehabilitasi, pihaknya menempatkan beberapa petugas untuk selalu berjaga-jaga setiap hari. “Karena lokasi kita di hutan, petugas kita patroli menggunakan kuda,” sebut sumando Nagari Batubanyak, Kecamatan Lembangjaya itu.

Di sisi lain, sumber dana Kalaweit sebagian besar berasal dari sumbangan perorangan sahabat Kalaweit dari Perancis. Setidaknya, dari sekitar 1.500 orang sahabat Kalaweit menyimpan secara rutin setiap bulan. Masing-masing sahabat Kalaweit menyumbang 5 hingga 10 US dolar/bulan.

“Dari situlah semuanya sumber kita untuk menjalankan program Kalaweit dan memberi gaji staf,” katanya.

Untuk makanan satwa sendiri, paling tidak pihaknya harus merogoh kocek sebesar Rp 46 juta/bulan. Jenis makanannya bermacam-macam di antaranya, pisang manis, wortel, mentimun, pepaya, rambutan plus vitamin hewan. “Paling tidak, satu ekor hewan biaya makannya sehari Rp 15 ribu lebih,” sebut Asferi.

Menjadi komandan penyelamat hewan langka wilayah Sumatera tak lantas membuat Asferi selalu nyaman. Bahkan, tak jarang dia bersama tim Kalaweit sempat frustasi dalam proses mengembalikan sifat hewan satwa tersebut. “Butuh kesabaran dan proses lama untuk bisa mengembalikan satwa ini ke alam bebas,” tutur Asferi.

Apalagi hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya paham tentang tujuan Kalaweit. Masih banyak pula masyarakat yang memburu satwa liar. “Tapi, kita akan terus berupaya untuk mengembalikan hewan-hewan ke habitatnya,” tutup Asferi. (*)

© 2014 Padek.co