Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Gusnaini, Perempuan Pendulang Emas di Padanglaweh, Sijunjung


Wartawan : Hendri - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 26 February 2017 11:25 WIB    Dibaca : 86 kali

 

Bertaruh Nyawa Demi Mencari Sebongkah Emas

Karena keterpaksaan untuk menyambung hidup, Gusnaini, 44, warga Jorong Teratak Baru, Nagari Persiapan Padanglaweh Selatan, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung rela bertaruh nyawa demi sebongkah emas.

Ia harus berebut pasir di dalam kerukan ekskavator yang masih hidup. Jika lengah ia bisa tertimbun pasir atau terkena kerukan ekskavator. Gusnaini bukanlah satu-satunya kaum wanita yang mempertaruhkan nyawanya untuk mendapatkan emas saat mendulang emas.

Selain diintai bahaya, mendulang emas juga membutuhkan tenaga ekstra. Untuk menghidupi diri dan anak-anaknya, Gusnaini biasanya bekerja di sawah warga, itupun jika musim menanam tiba.

Maklum, Gusnaini tidak memiliki sawah satu petakpun, sehingga dia bekerja di sawah orang lain. Namun belakangan ini, dia lebih banyak bekerja menampung emas di beberapa lokasi tambang emas yang ada di daerahnya.

Menurutnya, menambang emas, atau lebih akrab disebut menggali emas langsung bisa menghasilkan uang jika dapat emas, meski sedikit.

“Biasanya kalau ada lokasi yang menghasilkan banyak emas saya pergi dari pagi hingga sore hari, dan jika ada rejeki biasanya dalam satu minggu saya mendapat 2 hingga 3 bunci emas (1 bunci seharga 50 ribu),” tuturnya kepada Padang Ekspres di salah satu lokasi tambang emas di Sijunjung, Kamis  (23/2) lalu.

Rutinitas menggali emas terpaksa dia lakukan karena di rumahnya tidak ada lagi laki-laki untuk membantu perekonomiannya, sejak suaminya meninggal dunia beberapa tahun lalu. Sementara anak laki-lakinya saat ini masih belum mampu membantunya untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Terkadang, untuk mencapai lokasi tambang emas, dirinya bangun pagi-pagi, sekitar pukul 05.00, karena tempatnya menggali terkadang berjarak cukup jauh dari rumahnya.

Setelah mempersiapkan kebutuhan sekolah anaknya, termasuk sarapan, jika ada beras dan cabe. Terkadang anaknya lebih sering jajan di sekolah jika tidak sesuatu yang bisa dimakan di rumah.

“Kalau ada beras dan cabe, saya masak untuk anak ke sekolah, tapi kalau tidak ada, terpaksa jajan di sekolah, itupun kalau ada uang jajan untuk anak saya,” sebutnya.

Katanya, menggali emas bisa dikategorikan pekerjaan terpaksa, bagaimana tidak, dia dan penggali lainnya seolah berjudi, terkadang ada terkadang tidak.

Bahkan dalam satu minggu dirinya terkadang hanya mendapat uang Rp 150 ribu atau 3 bunci emas (1 bunci Rp 50 ribu). Namun katanya, saat ini tidak ada lagi pekerjaan layak yang bisa dijalaninya. Sementara anak-anaknya butuh uang setiap hari.

Dirinya juga menceritakan bagaimana saat mengambil pasir galian alat berat dengan berebut bersama penggali lainnya. Terkadang katanya harus berebut pasir di dalam kerukan ekskavator yang masih hidup.

Jika menunggu pasir ditumpahkan, tidak akan kebagian pasir berisi emas, makanya harus berebutan, meski terkadang sering dihardik operator alat berat karena berbahaya.

“Tentu saja berbahaya, karena berebutan di alat berat yang sedang jalan, jika operatornya tidak melihat kita, bisa jadi kita tertimbun atau terkena kerukan, belum lagi bahaya saling dorong dengan yang lain, karena semuanya ingin dapat pasir yang bagus berisi emas,” terangnya.

Jika lokasi memiliki potensi emas yang banyak, dirinya terkadang harus pulang malam melewati kebun karet, dan persawahan warga. Namun dirinya mengaku tidak pernah pulang sendirian, banyak ibu-ibu lainnya yang bekerja di lokasi yang sama.

Sebagi seorang ibu, Gusnaini sebenarnya tidak ingin anak gadisnya yang baru berumur 15 tahun ikut dengannya menggali emas. Namun terkadang anaknya tersebut memaksa diri untuk ikut membantu dirinya saat liburan sekolah.

Ibu tiga anak itu mengakui, saat Lebaran tahun 2016 lalu, dirinya terpaksa membiarkan anaknya ikut menempuh bahaya di lokasi tambang emas karena libur sekolah. Meski dirinya melarang, namun sang anak tetap memaksa. 

“Dia bilang bingung sendiri di rumah jika saya pergi menggali emas, makanya dia mau ikut sama saya, Alhamdulillah, kami bisa meninkmati Lebaran sama dengan orang lain. Meski dengan uang seadanya, tidak ada kue Lebaran, tidak ada minuman berlebih, hanya baju dengan harga murah, tapi baru,” jelasnya.

Gusnaini mengaku, sejak dirinya ditinggal mati suaminya, kehidupan mereka serba sulit. Karena sebelumnya dia dibantu suaminya untuk mengais rezeki bagi anak-anaknya. Namun dengan kekurangnnya tersebut, Gusnaini masih tetap bersyukur dia dan anak-anaknya hidup dalam ketenangan.

Namun sebagai manusia biasa, Gusnaini terus berharap agar suatu saat kehidupan mereka bisa berubah lebih baik lagi. Keinginannya itu tidaklah banyak, hanya ingin memiliki rumah yang lebih layak lagi, ada listriknya serta ada sumurnya. (*)

© 2014 Padek.co