Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Bos Tambang Galian C Diciduk


Wartawan : Heru Irawan - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 17 February 2017 10:48 WIB    Dibaca : 85 kali

 

Satu Ekskavotor, Tiga Dump Truck Disita Aparat

Direktorat Reserse Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Sumbar meringkus bos tambang galian C di aliran Sungai Talantang, Jorong Banuhampu, Nagari Manggopoh, Kabupaten Agam, Jumat (10/2). Pemilik CV Niagara, YY, itu ditangkap saat melakukan penambangan pasir batu dan kerikil. 

Kabid Humas Polda Sumbar AKBP Syamsi didampingi Kasubdit IV AKBP P Riomen Marbun mengatakan, penangkapan YY merupakan tindaklanjut dari laporan masyarakat  yang resah terhadap aktivitas penambangan ilegal karena merusak ekosistem, sungai dan memicu abrasi. 

“Kami mendatangi lokasi tambang yang sedang beroperasi. Ternyata setelah dicek, penambangan dengan alat berat tersebut tanpa izin usaha penambangan (IUP), izin pertambangan (IP) dan  izin usaha pertambangan khusus (IUPK),” ujar Syansi saat konferensi pers, di Mapolda Sumbar, Kamis (16/2).

Penyidik Dit Reskrimsus telah memeriksa para pekerja yang beraktivitas di areal tambang tersebut. Namun hanya pemiliknya yang ditangkap, sedangkan pekerjanya dilepaskan dan hanya menjadi saksi.

“Pelaku (YY) tidak memiliki izin apapun. Sebagai barang bukti, kami mengamankan alat yang digunakan untuk penambangan. Berupa satu unit ekskavator dan tiga unit dump truck pembawa hasil tambang ke penampung. Barang bukti kami titipkan di Polsek Lubukbasung,” ungkap AKBP P Riomen Marbun.

Modus operandi yang dilakukan pelaku dengan cara mengambil batu, pasir dan kerikil di aliran sungai tersebut menggunakan alat berat. Setelah itu, pelaku mengirim hasil penambangan kepada rekanan yang berperan sebagai penampung barang itu.

“Kami telah periksa tujuh saksi yang terdiri dari pekerja, masyarakat sekitar dan saksi ahli. Terkait penampung hasil penambangan, kami masih terus lakukan pengembangan terkait keterlibatannya,” ucapnya.

Dari hasil pemeriksaan, memang dulunya pelaku memiliki izin operasi tambang yang lengkap, tapi di lokasi berbeda. Artinya, pelaku telah melakukan aksi penambangan pada lokasi tidak sesuai izin, dan penambangan itu sudah berlangsung dua tahun belakangan.

“Areal penambangannya, sepanjang 300 meter di aliran sungai Talatang,” ucapnya.

Pelaku akan dijerat UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Pasal 158  junto Pasal 55 ayat 1, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman kurungan penjara 10 tahun beserta denda Rp10 miliar. Pelaku sudah ditahan di Mapolda Sumbar dan ditetapkan sebagai tersangka.

Kegiatan penambangan tersebut, katanya masih terjadi dan melibatkan banyak orang. Baik masyarakat, oknum aparat, para elite atau pemodal sehingga kadang pengungkapan kasus ini tersendat.

“Misalnya, saat kami akan penindakan ke lokasi. Namun, informasi tersebut langsung bocor sehingga kami hanya menemukan lokasi tambang yang kosong. Sedangkan, para penambang sudah keburu kabur. Karena banyak pihak yang sudah terlibat sehingga selalu bocor. Apalagi menuju lokasi juga sangat jauh,” jelasnya.

Oleh karena itu, AKBP P Riomen Marbun mengajak seluruh masyarakat yang menemukan dan mengetahui adanya praktik penambangan liar agar melaporkannya ke pihak kepolisian sehingga bisa ditindak.

“Kami siap menindaklanjuti laporan yang masuk. Selain itu, kita juga akan terus lakukan penyelidikan terkait tambang-tambang ilegal yang masih beroperasi di Sumbar. Jika benar, akan ditindak sesuai hukum yang berlaku,” tukasnya. (*)

 

© 2014 Padek.co