Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Syafrizal, Relawan Penjaga Perlintasan KA tanpa Palang Pintu di Jati Paraksalai, Padang


Wartawan : Syawaluddin - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 12 February 2017 11:57 WIB    Dibaca : 31 kali

 

Ikhlas Menolong, tak Berharap Imbalan

Aksi mulia pria ini pantas ditiru. Untuk menjaga keselamatan warga, ia tanpa pamrih mengatur lalu lintas di perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Jati Paraksalai, Kelurahan Jati Gaung Kecamatan Padang Timur. 

Uncu begitulah warga sekitar memanggil lajang berumur 47 tahun ini yang tinggal di Jati Parak Salai RT 01 RW 04 Kelurahan Jati Gaung, Kecamatan Padang Timur. Ia terlihat penuh semangat sebagai relawan menjaga perlintasan kereta api yang tidak berpalang pintu di Jati Paraksalai.

Dengan berbekal peluit dan bendera merah-putih, pria yang tengah memakai seragam biru lusuh lengkap dengan lambang Dinas Perhubungan (Dishub) menempel di lengan kirinya, dengan setia menunggu kereta api yang akan lewat tak jauh dari persimpangan kereta api. 

Sesekali dia terlihat melihat jam yang disimpan di saku bajunya yang telah menunjukkan pukul 16.00. Tidak lama berselang pria tersebut berdiri dan langsung mengambil bendera yang menancap tidak jauh dari rel.

Sambil membunyikan peluit dan memberi aba-aba kepada pengendara yang melintas bahwa kereta akan lewat, dia langsung berdiri sambil melambaikan bendera putih kepada pengendara agar berhenti sejenak karena kereta api  akan melintas.

Pria berkulit hitam manis yang bernama lengkap Syafrizal ini mengaku, menjadi relawan penjaga perlintasan tanpa palang pintu dilakoninya sejak 4 tahun lalu. Pekerjaan tersebut dilakukan karena prihatin banyaknya terjadi kecelakaan di perlintasan yang tidak berpalang pintu.

“Saya tergugah untuk menjadi relawan karena perlintasan yang tidak berpalang pintu rawan terjadinya kecelakaan,” akunya kepada Padang Ekspres, Kamis (9/2) di sela-sela kesibukannya menjaga perlintasan.

Pria yang hanya lulusan SD di kawasan Simpangharu ini menuturkan, tidak pernah terbesit di pikirannya untuk meminta imbalan kepada pengendara yang memanfaatkan jasanya menjaga perlintasan yang tidak berpalang pintu tersebut.

“Dalam satu hari penghasilan tidak menentu sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu. Uang tersebut saya gunakan untuk membeli nasi dan rokok, selebihnya saya simpan,” katanya.

Dia juga sering kesal kepada pengendara, yang tidak begitu memperhatikan keselamatannya, padahal kereta telah dekat dan bendera sudah dilambaikannya namun mereka ada yang nekat menerobos.

“Ada saja beberapa pengendara yang nekat padahal kereta sudah dekat, apakah mereka tidak sayang dengan nyawanya,” tuturnya.

Dia mengaku biasanya kendaraan ramai pagi dan sore hari saja, karena saat itu jam sibuk bagi para warga yang akan pergi melakukan aktivitas. Begitu juga sore hari warga yang pulang dari aktivitasnya. Sebelum bekerja sebagai relawan dia bekerja serabutan apa saja yang dilakukan yang penting halal.

Ia mengatakan, jadwal kereta apai dia dapat dari stasiun Simpangharu, selain itu untuk menunjang kerjanya dia juga dibekali dengan stopwatch pemberian dari salah seorang pegawai PT KAI.

Jika kereta akan lewat maka stopwach tersebut akan berbunyi sebagai patokan waktu kereta yang akan melintas, selain itu dia juga mengandalkan ketajaman inderanya masih berapa jauh kereta akan melintas.

Jadwal kereta api 8 kali pulang pergi. Dari stasiun Simpangharu, kereta api pertama pukul 06.00, sementara dari Pariaman pada pukul 05.45. Sedangkan kereta api terakhir dari Pariaman pukul 16.20 dan kereta dari Padang pukul 16.40.

“Saya bekerja mulai pagi hingga sore hari, namun yang rutin pagi dan sore saja karena saat-saat kendaraan ramai melintas, sementara siang hari biasanya saya istirahat di rumah,” katanya.

Jika hujan dia mengenakan mantel atau payung dalam melaksanakan pekerjaannya. Hingga kedinginan dan basah kuyup membuat dia tidak pernah patah arang dalam melaksanakan tugasnya sebagai relawan penjaga perlintasan.

“Saya bersyukur meskipun penghasilan tidak pasti, namun  saya tetap senang menjalani aktivitas ini karena bisa membantu masyarakat,” ungkapnya.

Dia juga mengaku sering kesal ulah pengendara yang selalu tidak tertib dan patuh, padahal kereta api sudah dekat dan dia juga telah melambaikan bendera namun masih ada pengendara yang menerobos sehingga dirinya juga hampir tertabrak oleh pengendara.

Dulu pernah kejadian ada pengendara yang melintas namun tiba-tiba kendaraan roda duanya mogok di tengah perlintasan, sementara kereta telah dekat. Dengan segera dia langsung mendorong kendaraan tersebut keluar dari lintasan.

“Kalau kendaraannya tidak segera didorong bisa dibayangkan mungkin orang tersebut telah terlindas kereta api,” kenangnya.

Dia mengatakan, sejak dirinya menjadi relawan penjaga perlintasan yang tidak berpalang pintu di kawasan Paraksalai, belum pernah terjadi kecelakaan akibat dilindas kereta api. “Mudah-mudahan jangan sampai terjadi kecelakaan di perlintasan ini,” ucapnya.

Ia berharap ke depannya tetap membantu warga dalam menjaga perlintasan yang tidak berpalang pintu ini. Karena bekerja sebagai relawan bagi dirinya suatu pekerjaan yang sangat mengasikkan karena bisa membantu masyarakat.

“Saya akan tetap menjadi relawan penjaga perlintasan, karena ini sudah menjadi jalan hidup saya untuk menolong masyarakat,” imbuhnya. (*)

© 2014 Padek.co