Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Prof Joni Hermana, Rektor Institut Teknik Surabaya


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 05 February 2017 12:09 WIB    Dibaca : 78 kali

 

Berjodoh dengan Teknik Lingkungan

Jalan hidup Prof Joni Hermana, rupanya, sudah digariskan Tuhan agar tidak jauh-jauh dari teknik lingkungan. Berkali-kali ingin pindah konsentrasi, dia tetap kembali pada bidang ilmu yang sama. Akhirnya, jurusan itu membawa keberkahan tersendiri dalam hidupnya.

Sejak diterima menjadi mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1980, Joni terus mengincar jurusan teknik sipil. Dia berharap bisa mengikuti jejak idolanya. Yakni, Presiden pertama Indonesia Ir Soekarno.

Menjelang tahun kedua di perguruan tinggi teknik pertama tersebut, dia iseng melewati gedung jurusan teknik lingkungan. Kala itu namanya masih teknik penyehatan. Bidang yang dipelajari lebih banyak berkaitan dengan limbah air. Kebetulan, saat itu ada open house.

Seluruh karya dan penelitian mahasiswa ditampilkan. Karena penasaran, Joni pun melihat isi pameran. ”Dari situ saya langsung berubah haluan. Saya tidak jadi masuk teknik sipil dan memilih teknik lingkungan,” ungkap pria kelahiran Bandung, 18 Juni 1960, tersebut.

Keputusan itu bukan tanpa dasar. Saat melihat karya yang ditampilkan dalam open house, Joni beranggapan bahwa ilmu yang dipelajari dalam teknik lingkungan adalah ilmu masa depan. Sampai kapan pun, manusia akan terus menghasilkan sampah dan limbah.

Karena itu, harus ada yang mau mengolah limbah tersebut agar tidak terus menumpuk dan menimbulkan penyakit. Joni telah menetapkan pilihan dengan mantap. Namun, pertentangan dari orang-orang terdekat terus berdatangan. Mereka beranggapan bahwa Joni mengambil pilihan yang salah.

”Buat apa jadi insinyur got,” ujarnya menirukan ucapan saudara-saudaranya kala itu. Meski demikian, Joni tidak goyah. Dia tetap yakin terhadap pilihannya. Suatu saat, ilmunya bermanfaat bagi banyak orang.

Enam tahun kemudian, Joni menye lesaikan pendidikan di ITB. Setahun berikutnya, dia menjadi dosen di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Dari situ dia berkesempatan mengikuti pelatihan tentang pengolahan air limbah di Belgia selama satu tahun.

Pada 1989, Joni kembali ke Belgia untuk melanjutkan program magister. Dia mendapatkan beasiswa pada bidang studi Sanitasi Lingkungan University of Ghent, Belgia. Dua tahun berselang, dia pulang ke Indonesia dan melanjutkan tugas sebagai dosen di ITS.

Setahun Joni mengajar, tebersit keinginan untuk melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar doktor. Akhirnya, melalui beasiswa Asian Development Bank (ADB), dia menempuh S-3 di University of Newcastle, UK.

Pada waktu menempuh S-3, sebenarnya Joni ingin mengambil konsentrasi tentang pencemaran limbah laut. Sebab, ketika itu ITS sedang berfokus terhadap dunia kemaritiman.

Tetapi, untuk mengambil konsentrasi tersebut, Joni harus menambah kuliah setahun untuk penyesuaian. Padahal, beasiswanya hanya tiga tahun. Dia pun kembali melanjutkan program teknik lingkungan sehingga tidak perlu menambah setahun untuk penyesuaian.

Kontribusi orisinalnya berkaitan dengan percepatan pengolahan air limbah secara anaerobik. Selama ini pengolahan limbah menggunakan bakteri anaerob karena tidak melibatkan oksigen. Namun, dengan manipulasi yang diciptakan suami Devi Prasasti itu, proses bisa lebih cepat.

Asalkan, bakteri di dalamnya bekerja maksimal. Caranya, menyesuaikan kondisi sesuai dengan keinginan bakteri. ”Teknik lingkungan itu begitu. Bakteri saja diperhatikan, apalagi manusia. Hehehe,” katanya.

Ke depan, dia juga ingin terus mengembangkan ilmunya. Diharapkan, setelah tidak lagi menjadi rektor, dia bisa banyak berkontribusi untuk lingkungan. Meski harus belajar lagi, Joni tidak berkeberatan. Sebab, yang dikerjakan sesuai dengan keinginannya. 

Perjalanan menjadi guru besar merupakan ingatan yang paling emosional bagi Prof Joni Hermana. Awalnya, dia tidak pernah terpikir bisa menjadi profesor.

Sejak kecil, cita-cita terbesarnya adalah menjadi doktor. Impian sejak kecilnya itu pun tercapai pada 1997. Joni meraih gelar doktor teknik lingkungan dari University of Newcastle, UK. Setelah itu, dia kembali ke ITS untuk mengabdikan diri. Pikiran tersebut berubah saat dia mudik Lebaran ke Bandung pada 2005.

Kala itu sang ibu sakit keras. Sesampai di Surabaya, dia terus memikirkan kondisi ibunya. Sampai terlintas di pikirannya untuk membahagiakan perempuan yang telah melahirkannya tersebut.

Satu tahun sebelumnya, sang ibu pernah bertanya tentang waktu wisuda Joni. Anak ke-8 di antara 11 bersaudara itu lantas bingung. Sebab, gelar pendidikan tertinggi sudah diraihnya.

Rupanya, yang dimaksud sang ibu adalah menjadi profesor. Keinginan untuk membahagiakan orang tua memacu semangatnya untuk mengurus gelar guru besar. Prosesnya cukup lama. Dibutuhkan dua tahun sampai surat keputusan (SK) profesor turun.

Sayangnya, sebelum hal tersebut terwujud, sang ibu wafat. Untuk melegakan kesedihannya, Joni minta dikukuhkan pada 27 Januari 2008. Tepat satu hari sebelum ulang tahun ibunya. ”Meski beliau tidak bisa melihat saya dikukuhkan, setidaknya saya sudah berusaha memenuhi keinginannya,” ujar Joni. (*)

 

© 2014 Padek.co