Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Saprigos Yanda, Merintis Sukses lewat Produk Turunan Gambir


Wartawan : Arfidel Ilham - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 05 February 2017 12:00 WIB    Dibaca : 68 kali

 

Temukan Celah Pasar London dan Qatar

Tak banyak yang mengetahui kalau produk turunan gambir bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomis tinggi. Lewat tangan pemuda kreatif ini, gambir disulap menjadi berbagai jenis produk olahan bagi industri farmasi dan kosmetik. Seperti apa?

Belasan tahun mendengar keluhan petani gambir di daerahnya, menjadi motivasi besar bagi Saprigos Yanda, anak petani gambir di Jorong Cinta Maju, Nagari Duriantinggi, Kecamatan Kapur IX, Limapuluh Kota untuk menekuni usaha gambir.

Berbeda dengan kebanyakan orang di kampungnya, anak muda kelahiran 26 September 1994 ini cukup kreatif. Produk turunan gambir dengan kualitas terbaik menjadi jalur bisnisnya.

“Awalnya dulu tidak ada yang yakin dan dicemooh saja. Namun akhirnya produk turunan ini mendapatkan perhatian pemerintah dan diupayakan jalan untuk menembus pasar dunia,” sebut Saprigos Yanda.

Tidak sekadar mengumpul gambir mentah seperti kebanyakan toke dan pedagang yang ada di kampungnya, anak muda yang biasa disapa Igos ini, menemukan celah pemasaran gambir dalam bentuk produk turunan.

Mulai dari cathecin powder extract uncaria gambier, extract tanin balok hingga koin gambir dan gambir lumpang, sebagai produk olahan yang siap mengisi industri farmasi dan kosmetik.

Anak muda ini lebih cenderung hanya memanfaatkan kandungan yang terdapat dalam komoditi  getah gambir. Persentase kandungan gambir yang tinggi itulah menjadi komoditas unggulannya.

Kegigihan anak muda ini berkomunikasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumbar hingga ke Kementerian Perdagangan, membuatnya menemukan celah pasar lebih luas.

Berawal dari kisah kejayaan yang disebut nagari petro dolar, hingga terpuruknya kondisi ekonomi masyarakat akibat gambir tak lagi dihargai, membuat Igos termotivasi untuk mempelajari  lebih jauh soalgambir dan kandungannya.

Berasal dari keluarga petani gambir, Igos sempat merantau ke Kota Bandung sebelum menggeluti usahanya di bidang gambir ini. Bekerja sebagai kasir di Indomaret Kota Kembang selama dua tahun sejak 2012 hingga 2014.

Kemudian anak muda alumni SMK Kosgoro Payakumbuh itu, memutuskan untuk kembali ke kampung berjuang untuk kembali menggeliatkan produk gambir.

Mulai belajar melalui sarana informasi internet, mengikuti diskusi dengan pakar gambir dan dosen-dosen perguruan tinggi terkait persoalan gambir. Selanjutnya menjadikan Igos terdorong untuk memulai usaha produk turunan Gambir.

Kegigihan itupun ditangkap, Dinas Perdagangan Provinsi Sumbar, hingga komunikasi intensif bidang perdagangan gambir mulai dijajaki hingga menemukan peluangnya.

“Saat ini untuk cathecin powder kita produksi sekitar 50 kilogram per hari dan tanin balok sekitar 100 kilogram dengan menyerap  produksi sekitar 30 rumah produksi “Kampaan” ekstraksi gambir,” papar Saprogos Yanda yang kian bersemangat bercerita.

Terus menggali apa sebenarnya yang menjadi kendala anjloknya harga gambir, Igos berkesimpulan kualitas gambir yang kurang baik. Sehingga dengan ekstrak kandungan cathecin dan tanin yang lebih murni menjadi targetnya dalam bentuk powder dan balok serta koin gambir kualitas terbaik.

“Perkembangan hingga saat ini, celah pasar ke Qatar dan London mulai terbuka. Dalam waktu dekat kita melalui PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) akan melakukan eksport,” sebut Igos sangat yakin dengan perjalanan usahanya.

Tergabung dalam Usaha Kecil Menengah (UKM) bernama Kempan, Igos bersama sepuluh anggota UKM-nya terus memacu produksi. Usaha  itupun kini mencuri perhatian petani gambir, sebab dinilai akan menjadi salah satu upaya membentengi fluktuasi harga gambir ke depan.

“Saat ini memang harga gambir jauh lebih baik, namun ke depan akan sulit diprediksi. Politik dan persaingan pasar akan berpengaruh besar terhadap harga,” sebut anak pasangan ayah Mardanus, 55 dan ibu Marnis, 50 ini.

Beberapa harapan dikemukakan anak yang memiliki moto “Terus berubah menjadi lebih baik” ini soal gambir. Mulai dari keinginan bisa menjaga kestabilan harga, berinovasi menciptakan produk turunan, memperbaiki ekonomi masyarakat petani hingga mengenalkan lebih jauh gambir kepada masyarakat dunia.

Meski masih dalam skala kecil, namun omzet anak muda ini sudah mampu menembus angka ratusan juta per bulan. Pemasaran untuk kebutuhan industri farmasi, kosmetik dan lainnya sejak tahun 2014 sudah dimulai.

“Saya memasarkannya dari mulut ke mulut, media sosial Instagram, Facebook dan Whatsaap. Selain itu terus berkoordinasi dengan pemerintah dan organisasi serta  lembaga yang bergerak di bidang gambir,” sebut Igos lagi.

Saat ini yang masih menjadi perhatiannya, soal alat ekstrak yang masih didominasi alat tradisional, kualitas produk dan pasar yang masing bergantung pada penjualan produk mentah saja.

“Padahal gambir terbaik dan terbesar itu berada di Indonesia dengan sumber komoditi utama berada di Sumbar. Kemudian 80-90 persennya itu berasal dari Kecamatan Pangkalan Koto Baru dan Kapur IX. Artinya kita seharusnya memegang kendali harga dunia,” ucap anak muda ini mengutarakan harapannya. (*)

 

© 2014 Padek.co