Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Rasa Nasionalisme


Wartawan : Fajril Mubarak - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 29 January 2017 11:57 WIB    Dibaca : 124 kali

 

Berbagai masalah dihadapi Bangsa Indonesia saat ini. Mulai dari masalah kemiskinan, pengangguran, terorisme, fenomena hoax dan lain sebagainya, menimbulkan banyak permasalahan. Salah satunya disebabkan rendahnya rasa nasionalisme. 

Nasionalisme dalam arti luar, perasaan cinta atau bangga terhadap tanah air dan bangsanya, namun tanpa memandang rendah bangsa/negara lainnya. Dalam mengadakan hubungan dengan bangsa lain selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsanya, serta menempatkan bangsa lain sederajat dengan bangsanya.

Hal itu tidak bisa dipungkiri, karena masyarakat lebih memilih untuk kelangsungan hidupnya dari pada memikirkan untuk negara. Tinggi atau rendahnya rasa nasionalisme juga dipengaruhi dari budaya-budaya barat yang dengan mudahnya masuk. Sehingga mempengaruhi budaya Indonesia yang jati dirinya adalah budaya timur.

Ini dapat dibuktikan dari berbagai sikap dalam memaknai berbagai hal penting bagi Negara Indonesia. Contoh sederhana yang menggambarkan betapa kecilnya rasa nasionalisme, di antaranya saat upacara bendera, masih banyak masyarakat yang tidak memaknai arti dari upacara tersebut. 

Upacara merupakan wadah untuk menghormati dan menghargai para pahlawan yang telah berjuang keras untuk mengambil kemerdekaan dari tangan para penjajah.Lihat saja, ketika upacara bendera di lingkungan pemerintah. Para aparatur sipil negara (ASN) seakan sibuk dengan pikirannya sendiri, tanpa mengikuti upacara dengan khidmat.

Begitu juga saat peringatan hari-hari besar nasional. Hanya dimaknai sebagai seremonial dan hiburan saja tanpa menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme dalam benak mereka.

Rasa nasionalisme bangsa pada saat ini hanya muncul bila ada suatu faktor pendorong. Seperti kasus pengklaiman beberapa kebudayan dan pulau-pulau kecil Indonesia beberapa waktu yang lalu. Namun rasa nasionalisme pun kembali berkurang seiring dengan meredanya konflik tersebut.

Berbeda halnya ketika zaman penjajahan. Haruskah Indonesia dijajah kembali supaya rasa nasionalismenya menjadi tumbuh dan berkembang serta bersatu untuk dapat meraih kehormatan dan kemerdekaannya kembali? Tentu hal ini tidak diinginkan, karena dijajah adalah penderitaan.

Pengaruh globalisasi juga membawa pengaruh negatif terhadap nilai-nilai nasionalisme. Mulai hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri membanjiri negeri ini. 

Gaya hidup generasi muda ini cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat. Adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Belum lagi munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. 

Untuk menumbuhkan rasa nasionalisme ini tidak hanya pemerintah saja bergerak. Dibutuhkan juga peran keluarga dan peran pendidikan. Peran keluarga, salah satu bentuknya  memberikan contoh tentang rasa kecintaan dan penghormatan pada bangsa. Bisa juga memberikan pengawasan yang menyeluruh kepada anak terhadap lingkungan sekitar dan selalu menggunakan produk dalam negeri.

Peran pendidikan di sini memberikan pelajaran tentang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan juga Bela Negara. Kemudian, mengadakan upacara setiap hari Senin dan upacara hari besar nasional.

Tidak hanya itu saja juga memberikan pendidikan moral, sehingga para pemuda tidak mudah menyerap hal-hal negatif yang dapat mengancam ketahanan nasional. Termasuk, melatih untuk aktif berorganisasi.

Peran pemerintah, di antaranya dengan menggalakan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme, seperti seminar dan pameran kebudayaan. (*)

 

© 2014 Padek.co