Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Dodi Mardianto Dt Katumanggungan, Pendiri Program Peduli Nagari (PPN) Sumbar


Wartawan : Hijrah Adi Sukrial - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 29 January 2017 11:44 WIB    Dibaca : 59 kali

 

Berbuat Baik dan Silaturrahmi untuk Hidup yang Lebih Baik

Ingin memberikan kontribusi dalam membangun negeri, membangun nagari dan membangun pribadi, Dodi Mardianto Dt Katumanggungan mendirikan Program Peduli Nagari. Berbagai program sosial digagas dan dijalankannya melalui organisasi itu.

Organisasi yang didirikan sejak tahun 2010 ini focus menggerakkan kepedulian di tengah masyarakat melalui empat pilar peduli. Yaitu peduli agama, peduli manusia, peduli lingkungan dan peduli sistem.

Hasilnya, berbagai program sosial pun terlaksana. Yang terbaru, Program Peduli Nagari merintis Rumah Anak Nagari (RAN) di Situjuah, Limapuluh Kota. Seperti apa gebrakan PPN dalam membangkitkan kepedulian masyarakat terhadap agama, manusian,lingkungan dan system?

Berikut petikan wawancara wartawan Padang Ekspres Hijrah Adi Sukrial dengan pendiri sekaligus pimpinan Program Peduli Nagari (PPN) Dodi Mardianto Dt Katumanggungan. 

Bisa anda ceritakan tentang Program Peduli Nagari (PPN) yang anda rintis dan anda pimpin?

PPN didirikan untuk menjaga hubungan silaturrahmi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program kami adalah saling mengajak dalam berbuat baik.

Di sisi lain, kami ingin mengajak semua orang menunaikan kewajiban yang tertuang dalam falsafah adat Minangkabau yang berdasarkan kepada kitab suci Al Quran.

Bagaimana sejarah pendiriannya?

Idenya dari Ustadz Budi. Beliau merupakan orang Surabaya yang beristrikan orang Batusangkar. Awalnya nama organisasinya adalah Karya Nyata Sosial (KNS) dan berpusat di Palembang. KNS awalnya berdiri 28 oktober 2010. Kemudian berubah jadi PPN 10 november 2014.

Apa program terbaru dari PPN?

Kami saat ini sedang merintis dan menjalankan Rumah Anak Nagari (RAN) yang bertempat di Jorong Tepi Situjuah Batua. Rumah Anak Nagari dalam bahasa kekinian itu ibarat basecamp-nya anak anak generasi bangsa. Aktivitas di sini itu setiap hari Minggu yang dimotori oleh Karang Taruna Jorong Tepi Situjuah Batua. 

Apa saja kegiatan di sana?

Kegiatannya membaca, bermain sambil belajar, dan materi-materi pembentukan karakter untuk generasi muda bangsa. Di Rumah Anak Nagari juga ada taman bacaan, pengenalan dan peduli lingkungan kepada anak-anak, pemahaman untuk pembentukan akhlak/karakter.

Juga ada kegiatan di bidang agama dan umum. Anak-anak juga diajarkan membuat keterampilan, bercerita, menulis puisi dan kegiatan lainnya. Setelah tiga bulan berjalan, Alhamdulillah  masyarakat sudah merasakan dampaknya dan mendukung kegiatan ini. Anak-anak yang ikut kegiatan ini sudah mulai terbiasa dan sangat menyukai kegiatan ini.

Apa kendala dalam menjalankannya?

Pengurus Rumah Anak Nagari ini memerlukan bantuan uluran tangan kita untuk bisa melengkapi segala sarana dan prasarana di RAN tersebut. Seperti buku, kerajinan tangan kedaerahan, dan hasil keterampilan lainnya. Juga memerlukan relawan yg mau berbagi ilmu dan materi pengalaman dalam mengajarkan anak anak serta pemuda pemudi untuk tantangan global masa depan. 

Apa harapan anda dengan adanya program ini?

Semoga Rumah Anak Nagari ini menjadi wadah awal generasi muda khususnya anak-anak mendapatkan materi sesuai tingkat umur dan terhindar dari bahaya negatif internet, narkoba dan penyakit masyarakat lainnya.

Saat ini fasilitas yang dimiliki RAN didapat dari mana?

Rumah Anak Nagari (RAN) terletak di tengah sawah. fasilitasnya adalah sumbangan hak pakai dari salah seorang masyarakat setempat. Ke depan RAN akan dijadikan sebagai laboratorium pertanian dan wisata edukasi.

Sebelum ada RAN, PPN banyak melaksanakan kegiatan di berbagai daerah di Kota Padang dan daerah lainnya di Sumbar. Bisa Anda ceritakan?

Banyak. Misalnya, ada English Course, Posyandu, pengobatan dan pemeriksaan kesehatan, penyuluhan kesehatan, usaha ekonomi kreatif. Yang paling utama adalah Warung Ikhlas, ada juga Butik Ikhlas, Pustaka Ikhlas, Belajar Sambil Bermain, Bedah Surau. Ada juga anak-anak muda pengamen yang menamakan dirinya Kodak (Komunitas Dunsanak Anti-Kemiskinan). 

Seperti apa pengelolaan Warung Ikhlas ini?

Warung Ikhlas bermula dari jaringan di Jakarta dan Solo. Seiring waktu, Warung Ikhlas Jakarta, Solo dan Padang berpisah. Belakangan hanya Warung Ikhlas Padang yang bertahan. Warung Ikhlas ini dikelola empat orang. Satu manajer merangkap tukang masak dan belanja.

Tiga anggota memasak, bawa mobil dan membungkus nasi. Empat pengelola Warung Ikhlas ini mendapat gaji bulanan di atas UMP yang dibayar rutin oleh salah seorang pengusaha di Padang.

Warung Ikhlas digagas Ustad Budi, dosen Unand yang memiliki nama lengkap Budi Rudianto. Sebelum ada mobil dan mendapat sistem pengelolaan, Ustad Budi mengantarkan nasi dengan mobil pribadi, sepeda motor dan sepeda untuk pemulung, pengemis dan orang-orang di perkampungan miskin. 

Sejak tahun 2014, Warung Ikhlas mendapatkan bantuan mobil dari salah seorang pengusaha di Jakarta yang diantar langsung ke Padang. Sedangkan operasional belanja ke pasar dari donatur. Selain dana, ada juga yang membantu dengan bahan seperti beras, telur, daging, bahkan tenaga.

Lalu Kodak, kegiatan apa pula itu?

Kodak adalah singkatan dari Komunitas Dunsanak Anti Kemiskinan. Anggotanya adalah anak-anak muda yang hobi dan bisa bermain musik. Rata-rata mahasiswa.

Hobi ini mereka salurkan dengan cara membuat pertunjukan dan mengumpulkan uang dari pertunjukan tersebut untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat miskin, panti asuhan, hingga korban bencana.

Biasanya, anak-anak Kodak ini menggelar pertunjukan di kawasan GOR H Agus Salim pada Minggu pagi. Dulunya, mereka tampil di depan Sushi FM. Kemudian pindah ke lokasi dekat orang senam, karena ada orang yang menawarkan untuk tampil di sana.

Manajemennya anak-anak Kodak yang mengatur. Untuk tampil, mereka pakai alat musik para anggotanya. Kemudian, bantuan tersebut mereka juga yang menyalurkan. Kadang kala, karena keterbatasan waktu dan tenaga, anak-anak ini menyalurkannya melalui lembaga kemanusiaan seperti Dompet Dhuafa.

Bagaimana dengan program Bermain Sambil Belajar?

Itu adalah program yang kami lakukan di kampong-kampung. Pada hari Minggu kami mengajak anak-anak berkumpul di mushala atau di masjid. Selanjutnya, di sana dilaksanakan berbagai kegiatan positif.

Anak-anak diajak untuk belajar dengan pola bermain. Selain mereka diajak bermain sambil belajar, PPN biasanya juga akan memberikan mereka bantuan buku dan alat-alat tulis. 

Bisa Anda ceritakan masa lalu Anda?

Dulu saya adalah pendiri dan guru perguruan debus. Yaitu seni bela diri yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa. Misalnya kebal senjata tajam, kebal api, dan lain- lain. Sudah banyak orang yang saya ajarkan kemampuan debus tersebut.

Hingga akhirnya saya mengenal UStad Budi, yang selalu mengajak orang berbuat baik. Setiap bicara, beliau selalu memakai referensi Al Quran dan Hadits. Saya banyak belajar dari beliau dan saya menyadari apa yang saya lakukan selama ini sudah banyak yang salah. 

Saya memutuskan untuk meninggalkan “kaji” yang selama ini saya pelajari dan terjun dalam berbagai kegiatan sosial yang beliau lakukan, seperti Warung Ikhlas. Akhirnya, kami menjadi partner, dengan bimbingan beliau, saya mendirikan PPN dan merintis berbagai kegiatan sosial yang tujuan utamanya adalah menebarkan virus berbuat baik. Program Warung ikhlas yang selama ini beliau rintis akhirnya disinergikan dalam kegiatan PPN. 

Apa program prioritas ke depan?

Kita akan menjalankan yang sudah dirintis selama ini. Di sisi lain, jika ad aide-ide baru yang memungkinkan untuk kita laksanakan, maka akan kita laksanakan.

Tujuan utama dari semua program ini adalah membiasakan diri dan mengajak orang untuk berbuat baik. Dengan kebaikan-kebaikan ini diharapkan hidup kita, nagari kita, bangsa kita dan agama kita juga menjadi lebih baik. (*) 

 

© 2014 Padek.co