Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Marah Agus Yunus, Maestro Pelukis Sumbar


Wartawan : Syawaluddin - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 29 January 2017 11:37 WIB    Dibaca : 82 kali

 

Ingin Ada Pasar Seni di Sumbar 

Meski terlahir bukan dari keluarga pelukis, Marah Agus Yunus ternyata memiliki bakat melukis. Demi kecintaannya terhadap seni lukis, ia bahkan mengorbankan bangku sekolahnya untuk menjadi seniman pelukis. Perjuangannya membuahkan hasil. Karya maestro pelukis Sumbar ini telah tersebar di Malaysia dan Eropa.

Lelaki yang telah berusia senja ini menunjukkan beberapa karya lukisannya yang rata-rata bertema alam budaya Minang Kabau kepada Padang Ekspres, Sabtu (28/1) pagi  saat menyambangi sanggar lukisnya di Simpang Ranah Padang Selatan. 

Bapak 4 orang anak ini menceritakan, dirinya mulai fokus terjun dalam dunia lukis sejak tahun 1957, saat berusia 23 tahun di Jakarta. Waktu itu dia bekerja membuat komik cerita Mahabarata dan membuat sketsa di majalah Penca.

Namun pekerjaan tersebut tidak bertahan lama karena situasi yang tidak kondusif saat PRRI bergejolak di Sumatera Barat. Kakek 10 orang cucu ini hijrah ke Padang dan bekerja di Dinas Penerangan Sumatera Barat sebagai PNS selama 16 tahun dari tahun 1958 dan mengundurkan diri tahun 1974.

“Saya berhenti karena ingin fokus menekuni dunia lukis, karena pada saat itu menjadi pegawai negeri gajinya tidak mencukupi, sementara melukis penghasilan lumayan besar,” kata lelaki yang telah berumur 78 tahun ini.

Selain melukis dia juga menerima orderan membuat spanduk, karena pada saat itu membuat spanduk masih dengan cara manual dan skill-nya juga terbilang masih langka. Seluruh spanduk pemerintah seperti Pemko dan Pemprov dia yang mengerjakan seorang diri tanpa menggunakan garis bantu.

“Waktu itu saya bisa menyelesaikan spanduk 30 buah sehari yang dikerjakan hanya seorang diri di rumah saya di belakang Blok Ganting,” ceritanya.

Suami dari Putri Yulizar (almarhumah) ini menuturkan karena kemampuan melukisnya yang luar biasa itu, PT Unilever Indonesia meminta dirinya untuk bergabung dan diperbantukan membuat papan billboard produk Unilever seperti sabun lux, life boy, pepsodent dan sebagainya.

“Melihat hasil karya tangan saya, pihak Unilever kagum sehingga meminta saya untuk bergabung di perusahaannya. Di sana saya bekerja selama 10 tahun,” katanya yang telah meraih berbagai macam piagam penghargaan dalam bidang seni ini.

Saat itu, katanya, papan billboard dibuat secara manual bukan di print seperti sekarang ini. Sehingga dirinya termasuk salah satu pelukis billboard terbaik di Indonesia. 

Dia melanjutkan, mulai tertarik dalam dunia seni lukis sejak usia 3 tahun. Hidup adalah pilihan membuat dirinya memilih berhenti di bangku STM dan mencoba untuk menekuni dunia melukis karena peluang bisnisnya lebih besar pada masa itu.

“Saya sempat mengecap bangku STM jurusan mesin tapi hanya sempat kelas 1 karena saya ingin total di dunia lukis, makanya saya memilih berhenti,” kenangnya.

Keahlian melukis didapat dari bakatnya sejak lahir karena tidak ada guru khusus yang membimbingnya dalam melukis, selain itu tidak ada keturunan sebagai seniman karena bapaknya seorang kapten kapal Erdanus yang merupakan kapal penumpang dari Batavia ke  kawasan Eropa.

Adapun lukisan yang paling berkesan menurut dia yaitu lukisan Jendral AH. Nasution dan lukisan Bung Karno yang di buat sekitar tahun 70-an. Karena menurutnya, lukisan tersebut terasa hidup dan sekarang sudah banyak berpindah tangan dan terakhir katanya berada di tangan Anas Lubuk yang merupakan salah satu mantan pejabat  di Kota Padang di era orde baru.

Kepiawaiannya melukis membuat takjub orang-orang pecinta seni. Tidak saja di Sumbar, namun juga di luar Sumbar. Lukisannya sudah tersebar di seluruh negara seperti di Malaysia yakni Penang, Seremban, kawasan Eropa yakni di KBRI Indonesia di Paris serta hotel-hotel yang ada di Padang seperti Hotel Bumi Minang, Grand Sari  dan perusahaan besar seperti di Semen Padang serta Taman Budaya Padang.

Dari ratusan hasil karya yang telah dia torehkan itu, lukisan yang paling dia sukai adalah lukisan yang bertemakan konvoi pedati dan baralek gadang yang dia lukis tahun 1989.

“Lukisan tersebut laris dibeli oleh pejabat di Sumatera Barat, salah satunya mantan Gubernur Sumatera Barat, Azwar Anas,” kata pria penyuka musik klasik ini. 

Untuk harga lukisan sendiri, tergantung bentuk dan ukurannya. Harganya berkisar Rp 20 juta sampai Rp 50 juta. Untuk waktu pengerjaan satu lukisan, ia bisa menghabiskan waktu selama 15 hari dan paling lama 1 bulan, karena dia sangat memperhatikan detail dan guratan dalam hasil karyanya tersebut.

“Pembelinya kebanyakan para pecinta seni,” ujar pria yang pernah melukis poster film bioskop ini.

Sambil menghembuskan asap rokok, ia melanjutkan cerita bahwasanya ia sangat  mengagumi sosok pelukis dunia bernama Leonardo Da Vici yang melahirkan karya lukis Monalisa. Karena sampai saat ini karya lukisnya masih menjadi fenomenal hingga sekarang.

“Saya mengaguminya karena coretan gaya lukis Leonardo Da Vici hampir sama dengan coretan tangan saya,” katanya.

Untuk mencari inspirasi melukis, dia akan duduk merenung sambil menyeduh secangkir kopi, jika ide telah timbul dia langsung menuangkan ke dalam kain kanvas. Selain itu dia juga sering jalan ke kampung-kamung untuk mencari inpirasi.

Untuk aliran, ia lebih memilih aliran naturalis yang bertemakan alam budaya Minang Kabau. Karena dalam lukisan tersebut bisa menceritakan kehidupan sosial masyarakat dan budaya alam Minang Kabau. 

Menurut dia, memilih tema budaya alam Minang Kabau agar lukisannya nanti dapat menjadi panduan bagi anak cucu nantinya karena sudah banyak generasi sekarang yang tidak mengetahui lagi tentang budaya alam Minang Kabau ini.

Dia mengaku sering memajang lukisannya jika ada pameran dan iven-iven nasional, salah satunya di Konferensi Malindo yang dilaksanakan baru-baru ini di Padang. “Dulu juga pernah ikut pameran di Gelora Bung Karno sekitar tahun 80-an,” tuturnya.  

Menurut dia, adapun yang membedakan hasil karyanya dengan karya seniman lain, terletak dari guratan serta warna yang dipilih. Dia melukis paling banyak memakai 3 sampai 4 warna saja dengan paduan warna-warna Eropa. “Hasil karya saya tidak bisa ditiru, kalau ada yang meniru  akan ketahuan dalam guratan dari garis tangannya,” akunya. 

Dia berharap karyanya ini menjadi fenomenal untuk generasi di masa depan seperti karya-karya Leonardo Da Vinci. Selain itu, dia menghimbau kepada generasi muda agar selalu menggali ilmu dan terus belajar. Menurutnya, dasar dari seni lukis adalah seni natural bukan absrtak, karena aliran natural dasar dari seni lukis. 

“Banyak pelukis muda yang bergelut di aliran abstrak tetapi tidak menguasai aliran naturalis, padahal naturalis merupakan dasar dari seni lukis. Kalau tidak bisa melukis natural, maka orang tersebut belum bisa dikatakan seniman lukis,” bebernya yang pernah meraih juara satu saat melukis kota kembar seremban Bukittinggi dengan judul Sejarah Lintasan Minang Kabau tahun 1985 lalu.

Tak hanya itu, dia juga menghimbau kepada pemerintah daerah agar di Kota Padang didirikan sebuah pasar seni sehingga bisa menampung seniman-seniman muda dalam menyalurkan hasil karyanya. Karena selama ini banyak kendala dari seniman untuk memasarkan hasil karya mereka, karena apresiasi masyarakat terhadap karya seni masih sangat kurang.

“Saya berharap ada pasar seni di Padang sehingga dapat menampung hasil karya para seniman, selain itu juga dapat menunjang pariwisata,” tuturnya.

Kini, untuk menampung hasil karya-karyanya ia mendirikan sanggar lukis yang baru dibukanya lima bulan lalu. Selain sebagai tempat menyimpan koleksi-koleksi lukisannya, sanggar itu juga diperuntukkan bagi orang-orang yang ingin belajar seni lukis dengannya. (*)

© 2014 Padek.co