Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Dewi Hapsari, Perajin Batik dari Lunang, Pesisir Selatan


Wartawan : Elfi Mahyuni - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 22 January 2017 11:31 WIB    Dibaca : 77 kali

 

Ajak Kaum Muda Cintai Batik, Ciptakan Nagari Kreatif 

Kecintaannya pada batik sejak kecil membawanya pada kesuksesan. Kini, ia menjadi salah satu pengusaha sukses di usaha batik tanah liek di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Dengan kesuksesan itu pula, ia ingin mengangkat batik tanah liek sebagai bentuk pelestarian budaya daerah, terutama kain tradisional di daerahnya.

Dialah Dewi Hapsari K, warga Lunang Silaut, Kabupaten Pessel. Dewi bukanlah warga asli daerah setempat. Ia terlahir dari keluarga Jawa yang kemudian bertansmigrasi ke daerah Lunang semenjak tahun 1973. 

Kepada  Padang Ekspres, wanita kelahiran Lunang 18 Desember 1976 ini bercerita, ketertarikannya pada dunia batik menuruni bakat dari keluarga besarnya. Sebab kakeknya di Yogyakarta adalah seorang juragan batik. 

Sejak kecil, Dewi memang memiliki keinginan untuk bisa memiliki galeri batik. Karena itu, ia terus mengasah keterampilannya untuk menghasilkan kain batik berkualitas.

Usai menamatkan pendidikan di sekolah menengah atas, ia melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan mengambil jurusan Tata Busana di Universitas Negeri Padang (UNP). Tidak itu saja, ia juga langsung belajar ke daerah produksi batik di Jawa serta belajar dari sejumlah perajin batik. 

Pada awalnya, ia memproduksi batik secara manual. Hasil produksinya pun dipakai sendiri. Seiring berjalannya waktu, batik buatannya mulai dilirik masyarakat. Sehingga tak memungkinkan lagi diproduksi secara manual.

Melihat respon pasar yang positif tersebut, pada tahun 2013, ia memberanikan mengajukan proposal kepada Kementerian Transmigrasi dan Tenaga Kerja agar bisa mendirikan pabrik batik di Lunang. Berkat kegigihan dan kesungguhannya, ia berhasil mendapatkan bantuan tersebut. Mulailah ia memproduksi batik khususnya batik tanah liek secara besar. 

Tingginya permintaan, mau tidak mau ia harus merekrut tenaga kerja. Ia pun lalu mengajak masyarakat sekitar untuk belajar dan bekerja dengannya. Sekarang, ia memiliki 8 orang tenaga kerja dan 3 orang operator.

Dalam produksinya, Dewi tidak hanya fokus pada satu corak batik saja, banyak inovasi corak yang dimunculkannya. Bahkan ia mulai membuat corak-corak baru yang berlatar belakang dari potensi yang dimiliki Kabupaten Pessel seperti corak terumbu karang, bakau dan lainnya. 

Namun, dalam menjalankan usahanya itu ia pun terkendala dengan keterbatasan modal. Ia mengaku kesulitan memproduksi ketika mendapatkan orderan besar. Kalaupun mengajukan pinjaman ke bank, pihak bank selalu meminta agunan sebagai jaminan. Akibatnya, ia harus bersusah payah mencari pinjaman ke pihak lain. 

Ibu dua putra ini melanjutkan, selain menciptakan corak baru, ia juga langsung mendesain model pakaian yang diinginkan konsumen. Usaha kerasnya membuat batik tulis tanah liek tampil lebih trendy berbuah manis. Masyarakat mulai menyukai batik miliknya.

Pangsa pasarnya tidak lagi lokal tapi telah merambah hingga beberapa provinsi lain di Indonesia seperti Jakarta, Jambi, Bengkulu, Palembang hingga Kalimantan. “Saya sangat bersyukur usaha batik ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat,” ujarnya.  

Dengan usaha yang dimilikinya itu, setiap bulannya omzet bisa mencapai sekitar Rp 75 juta. Dengan dua jenis batik yang dikembangkannya yaitu batik tulis print dan batik cap tulis.

Untuk batik tulis print, setiap bulannya ia mampu memproduksi hingga 300 meter dengan harga per meternya  berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu tergantung jenis kain yang digunakan. 

Sedangkan batik cap tulis tergantung permintaan pasar karena jenis batik iin harganya lebih mahal karena dikerjakan dengan tangan dalam waktu yang cukup lama. Yakni berkisar 1 minggu lebih dan harganya pun cukup mahal. Per potongnya berkisar Rp 1,5 juta atau tergantung jenis kain yang digunakan.

“Bisnis batik tanah liek ini peluang nyaris tak terbatas. Asal kita kreatif menyajikan variasi motif, pasar pun bisa kita  diraih. Dari situlah titik awalnya usaha ini bisa terus berjalan sampai saat ini,” tuturnya. 

Keberhasilan Dewi sebagai pengajin batik sukses di Pessel tidak terlepas binaan dari Kementerian Transmigrasi dan Tenaga kerja serta Pemkab Pesisir Selatan. Banyak pembinaan yang mereka berikan kepada usahanya.

Bahkan setiap tahunnya, Dewi mendapatkan jatah untuk mengisi pameran di Kementerian Transmigrasi dan Tenaga Kerja. Tak hanya itu, Pemkab Pessel juga telah memanfaatkan hasil karya batiknya sebagai pakaian pada kegiatan resmi. Pengenalan motif batik tanah liek dilakukan mulai dari tingkat sekolah hingga ke dinas-dinas di lingkup Pemkab Pessel. 

Ketua Pengerak PKK Kabupaten Pessel, Lisda Hendrajoni sering mengenakan pakaian hasil karyanya dan juga diperagakannya pada kegiatan fashion show di Jakarta atau kegiatan-kegiatan lainnya. Karena itu, karyanya semakin dikenal banyak orang. 

Setelah meraih sukses, kini Dewi memiliki cita-cita menjadikan Kecamatan Lunang dan Silaut sebagai sentral industri kreatif. Dan untuk memuluskan upayanya itu dia mencoba menjalin kerja sama dengan pihak kecamatan dan nagari setempat untuk melakukan pembinaan kepada ibu rumah tangga untuk ikut berkreasi menghasilkan batik. Dengan harapan agar para ibu-ibu tersebut memiliki penghasilan tambahan yang bisa digunakan untuk membantu ekonomi rumah tangga.

Ia menambahkan, batik tanah liek ini bukanlah sekadar warisan tradisional. Namun, mengandung kekhasan budaya yang tak ternilai harganya. Di masa lalu, tidak banyak masyarakat yang kenal dengan batik tanah liek. Batik tanah liek kalah pamor dengan batik dari Jawa, namun itu dulu. 

Dalam perkembangannya, popularitas batik tanah liek semakin menanjak seiring dengan makin banyaknya masyarakat Minang yang mengandrungi untuk menggunakan batik tanah liek. Sehingga akhirnya pamor batik tanah liek tidak kalah dari batik batik Jogja atau batik dari daerah lainnya. 

Sehingga itulah membuat batik tanah liek semakin eksis dan dikenal luas di masyarakat. Dan ini bisa terlihat dari banyaknya para pengusaha yang selalu memamerkan batik ini di setiap event karya budaya, baik itu berskala nasional hingga luar negeri. 

Kini, selain merangkul pasar yang lebih luas, ia juga berkeinginan bisa terus mengajak generasi muda untuk mencintai produk khas daerah Minangkabau ini agar tidak punah. (*) 

© 2014 Padek.co