Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Rupiah tak Ada Gambar Palu Arit


Wartawan : Tim Padang Ekspres - Editor : Riyon - 11 January 2017 11:57 WIB    Dibaca : 52 kali

 

BI Sumbar Musnahkan Uang tak Layak Edar Rp 5,7 T

Bank Indonesia (BI) menegaskan uang rupiah tidak memuat simbol terlarang palu dan arit. Simpang siur informasi soal penafsiran simbol pada sebagian masyarakat tidak benar. Karena itu, BI meminta masyarakat untuk tidak terpancing berita tidak benar.

Sebetulnya klaim BI, gambar yang dipersepsikan sebagian pihak sebagai simbol palu dan arit merupakan logo Bank Indonesia dipotong secara diagonal. Dengan potong diagonal itu, sehingga membentuk ornamen tidak beraturan.

“Gambar itu merupakan gambar saling isi (rectoverso),” tutur Gubernur BI Agus DW Martowardojo, di Jakarta, Selasa (10/1).

Gambar rectoversi, sambung Agus merupakan bagian dari unsur pengaman uang rupiah. Unsur pengaman dalam uang rupiah bertujuan supaya masyarakat mudah mengenali ciri-ciri keaslian uang, sekaligus menghindari pemalsuan. “Karena itu, gambar rectoverso dicetak dengan teknik khusus,” ulas Agus.

Dengan teknik khusus itu, sehingga melahirkan gambar kombinasi. Tepatnya, terpecah menjadi dua bagian pada sisi depan dan belakang lembar uang. Selanjutnya, gambar simbol itu hanya dapat dilihat secara utuh kalau diterawang.

Secara umum, rectoverso dipakai sebagai salah satu unsur pengaman berbagai mata uang dunia. Itu mengingat rectoverso sulit dibuat dan memerlukan alat cetak khusus.

Di Indonesia, rectoverso telah digunakan sebagai unsur pengaman rupiah sejak 1990-an. Sementara logo BI telah digunakan sebagai rectoverso uang rupiah sejak tahun 2000. Sementara itu, sepanjang tahun 2016, BI Perwakilan Sumbar memusnahkan sedikitnya Rp 5,7 triliun uang tidak layak edar di Sumbar.

Pemusnahan uang tersebut, jauh lebih rendah dibanding tahun 2015 sebesar Rp 6,5 triliun atau berkurang 11,81 persen. Sedangkan temuan uang palsu tahun 2016 meningkat 32,46 persen dibanding tahun 2015. 

“Tahun 2016, temuan uang palsu di Sumbar 759 lembar, sedangkan tahun 2015 hanya 186 lembar. Saya sengaja tak menyebut berapa nilainya, karena uang palsu itu bagi kami tak memiliki nilai sama sekali,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar, Puji Atmoko saat silaturahim awal tahun 2017 dan penjelasan uang rupiah tahun emisi 2016 di kantor BI Perwakilan Sumbar, kemarin.

Puji mengimbau agar masyarakat memperlakukan uang yang ada di tangan masyarakat secara baik. Dengan tidak mencoret dan menstaplesnya. Uang tersebut harus disimpan dan disayang.

Karena untuk pencetakan uang dan mendapatkan uang tersebut tak gampang. Kebanyakan masyarakat tidak memperlakukan uang yang didapat secara baik dan kerap melipat-lipatnya.

Katanya lagi, Bank Indonesia sudah mengeluarkan uang rupiah tahun emisi 2016. Untuk memenuhi amanat  UU No 7 Tahun 20111 tentang Mata Uang,  Bank Indonesia mengeluarkan tujuh pecahan uang rupiah kertas.

Yakni pecahan Rp 100 ribu, Rp 50 ribu Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5 ribu, Rp 2 ribu dan Rp1 .000. dan empat pecahan uang rupiah logam yakni Rp 1.000, Rp 500, Rp200, dan Rp100 tahun emisi 2016. Uang ini sudah mulai berlaku sebagai alat pembayaran yang sah pada 19 Desember 2016.

“Pada uang Rupiah tahun emisi 2016 ini telah dilakukan penguatan unsur pengamanan untuk meminimalisir tingkat pemalsuan uang. Penerbitan uang rupian tahun emisi 2016 ini dilakukan dalam satu seri untuk mempermudah komunikasi kepada masyarakat,” ucapnya.

Untuk mencegah dan menanggulangi peredaran uang rupiah palsu di masyarakat, BI mengeluarkan uang rupiah tahun emisi 2016  dengan memperkuat unsur pengaman seperti color shifting, rainbow feature, latent image, ultra violet feature, blind code/ tactile effect, rectoverso.

Pengamanan dengan color shifting, apabila dilihat dari sudut pandang yang berbeda akan terjadi perubahan warna secara kontras. Rainbow feature, apabila dilihat dari sudut tertentu akan muncul gambar tersembunyi multi warna berupa angka nominal.

Latent image, apabila dilihat dari sudut tertentu akan muncul gambar tersembunyi berupa teks BI pada bagian depan dan angka nominal pada bagian belakang. Ultra violet feature, berupa penguatan desain UV feature yang memendar menjadi dua warna di bawah sinar UV.

Blind Code berupa perubahan desain pada bentuk kode tuna netra berupa efek rabaan (tactile effect) untuk membantu membedakan antar pecahan dengan mudah. Sedangkan pengamanan rectoverso, apabila diterawang akan terbentuk gambar saling isi berupa logo BI.

“BI melakukan pencetakan rupiah sesuai kebutuhan masyarakat dengan mempertimbangkan jumlah yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi layak edar,” ucapnya.

Uang rupiah tahun emisi 2016 dicetak dan diedarkan untuk menggantikan uang tidak layak edar, sehingga tidak menambah jumlah uang yang beredar di masyarakat. Dalam penentuan jumlah pencetakan rupiah, BI melakukan koordinasi dengan pemerintah dalam hal ini Kemenkeu.

Pencetakan rupiah dilaksanakan di dalam negeri dengan menunjuk BUMN sebagai pelaksana pencetakan rupiah. Pencetakan uang rupiah tahun emisi 2016 seluruhnya dicetak di BUMN yaitu Perum Peruri.

“Kalau ada  informasi pencetakan uang rupiah dilakukan di luar negeri  atau di dalam negeri selain Perum Peruri itu tidak benar,” ucapnya.

Terkait dengan warna uang tahun emisi 2016  yang mirip dengan salah satu  mata uang  di dunia, menurut Puji hal tersebut bukanlah karena  uang tahun emisi 2016 meniru-niru.

Katanya, ada sejumlah negara di dunia yang memiliki skema warna yang sama dengan rupiah. Di antaranya eura, ringgit, dolar, singapura, baht dan berbagai mata uang lainnya. 

Uang pecahan tahun emisi 2016, masih menggunakan warna yang dominan yang sama dengan desain uang sebelumnya. “Berdasarkan survei, lebih dari 90 persen responden membedakan pecahan uang berdasarkan warna,” ucapnya. (*)

© 2014 Padek.co