Kalbu dan Kesehatan


Wartawan : Zainal Abadi - Alumnus Psikologi Islam dan Relawan LP2M di bidang Advokasi Kesehatan - Editor : Riyon - 11 January 2017 11:51 WIB    Dibaca : 23 kali

 

Islam sangat mementingkan kesehatan. Lihat saja ibadah yang diwajibkan dalam Islam tidak jarang menuntut untuk memiliki tubuh dan jiwa yang sehat untuk meningkatkan kualitas ibadah yang dikerjakan. Selain itu ibadah dan dan larangan dalam agama Islam berimplikasi langsung terhadap kehidupan yang sehat. 

Jika dilihat dalam definisi sehat menurut WHO adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Islam justru telah lama mementingkan untuk menjaga hidup sehat baik diri, jiwa, dan sosial. Seperti syarat beribadah mesti bersih dari hadas dan najis memberikan makna sebelum melakukan ibadah pentingnya pola hidup bersih di mana dalam kajian kesehatan pola hidup bersih merupakan syarat utama untuk hidup sehat.

Sehat jiwa dan sosial sangat penting dalam Islam di mana hikmah dari ibadah yang dilakukan harus memiliki korelasi terhadap kehidupan dengan jiwa yang bersih dan kepekaan sosial yang tinggi seperti tolak ukur dalam keberhasilan beribadah dalam Islam dilihat dari kesalehan sosial. Keberhasilan seseorang dalam beribadah dapat dilihat dengan pola hidup sesorang yang suka membantu, tidak menyakiti orang lain, hidup dengan prinsip yang benar seperti sholat yang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Melihat lebih jauh tentang kesehatan dalam Islam, dalam Al Quran telah disebutkan: ”Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh-penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk dan rahmat bagi orang-orangnya yang beriman” (Qs Yunus: 57).

Sementara nabi Muhammad SAW telah memperjelas tentang sehat ini dalam sabda beliau: ”Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kalbu amat menentukan kesehatan sesorang, baik kesehatan fisik maupun kesehatan batin. Untuk itu kalbu perlu dirawat dan dijaga. Tentang hadis ini, mengutip apa yang dijelaskan oleh Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘lumuddin. Kalbu yang disebut dalam hadis ini dapat dipahami secara lahir, dan dapat dipahami secara bathin.

Secara lahir kalbu itu yang disebut jantung, segumpal daging yang berbentuk bulat memanjang seperti buah shanaubar, yang terletak di pinggir dada sebelah kiri, yaitu segumpal daging yang mempunyai tugas khusus yakni memompa darah.

Sementara makna kedua, kalbu itu suatu perasaan yang halus (lathifah), bersifat Ketuhanan (Rabbaniyah) dan kerohanian yang ada hubungannya dengan hati jasmani, dialah yang merasakan, mengetahui dan yang mengenal dan memerintah manusia.

Jika Nabi sudah memberikan informasi bahwa sumber dari segala kesehatan dan sumber segala penyakit adalah pada kablu, maka perlu dijaga dan dirawat.
Kalbu yang sakit akan bisa bertambah sakit sebagaimana Allah SWT telah berfirman: “Di dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah akan menambah penyakit itu....” (Qs al-Baqarah[2]:10). Kalbu yang sakit adalah hati yang telah dikuasai oleh syahwat yang dapat memunculkan sifat buruk seperti: dengki, iri, marah, cinta harta, suka berpikir buruk dan sikap negatif lainnya yang berimplikasi terhadap rusaknya kesehatan fisik seseorang. Sifat-sifat yang dikuasai syahwat ini adalah sifat yang tercela dalam Islam, orang yang memiliki sifat tercela sesungguhnya telah terjerumus dalam keinginan Iblis yaitu musuh manusia yang membawa kemudharatan.

Untuk menjaga kalbu agar tetap sehat Allah mengajarkan agar manusia untuk memakan makanan yang “halalan thayyiban” makanan yang halal lagi baik. Makanan yang halal amat memperhatikan sumber makanan. Kehalalan makanan tidak hanya pada zat makanan tersebut tidak dilarang, namun juga harus diperoleh dengan jalan yang halal pula. 

Untuk memperoleh makanan dengan jalan yang halal sesungguhnya telah menjadikan diri sehat dan lebih dari itu juga telah menjadikan masyarakat sehat, jika andaikan makanan diperoleh dengan jalan menipu, korup, riba, sesungguhnya telah menghambat kemaslahatan kehidupan, hak hidup orang lain untuk sejahtera.

Jauhnya kehidupan lain dari kesejahteraan akan berdampak tingginya potensi penyakit menjangkiti masyarakat, tingginya penyakit yang menjangkiti masyarakat juga akan mengganggu kesehatan setiap manusia yang berada dalam lingkungan itu. Satu saja masyarakat yang terjangkit wabah penyakit sesungguhnya dapat mengancam orang sekitar untuk sakit.

Demikian pentingnya menjaga makanan yang halal. Untuk itu para koruptor, penipu, dan pejabat yang abai akan kesejahteraan rakyat sesungguhnya telah menciptakan munculnya wabah penyakit di tengah masyarakat.

Tidak hanya secara fisik, dalam kajian kejiwaan dalam Islam juga menyebutkan orang yang memakan makanan yang tidak halal akan menjauhkan hati dari cahaya kehidupan untuk menuju hidup yang aman, sehat dan damai.

Demikian juga makan yang thayyiban, adalah makan yang bergizi dan bermanfaat untuk tubuh. Islam melarang makan dengan berlebihan sebab itu adalah perbuatan musuh manusia yaitu Iblis. Memakan makanan tidak baik termasuk juga makanan yang tidak bergizi, dan makanan yang banyak menggunakan zat kimia yang tidak mampu diterima oleh tubuh.

“Hai Manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu (Qs Al.Baqarah:168). Untuk itu dalam kehidupan Islam amat dianjurkan untuk makan sebelum kenyang berhenti sebelum lapar.

Kesehatan kalbu/hati adalah penting dalam Islam, Firman Allah SWT: ”Pada hari harta dan anak-anak tidak berguna, (tetapi yang berguna tiada lain) kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang sehat.” (Qs asy-Syu’arâ’, 26: 88-89)

Untuk kalbu atau hati menjadi sehat Islam mengajarkan, ”Ala bidzikrillah tathmainnul qulub” (Qs Arra’du, 13 : 28). Aartinya hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.

Zikir adalah nutrisi kalbu agar menjadi tenang, hati yang tenang akan membawa semua suasana tenang. Kalbu itu berarti bolak-balik, sebab hati ini gampang untuk bolak-balik, saat hati bolak balik kehidupan manusia gampang menjadi kacau. Saat kehidupan kacau manusia gampang sakit. Untuk itu manusia membutuhkan kalbu yang tentram.

Resep ayat ini memberikan kita pelajaran agar merawat hati dengan zikir kepada Allah, sebab dengan zikir kepada Allah hati menjadi tenang. Maka itu, zikir berfungsi sebagai penyubur kalbu. Firman Allah SWT, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)…” (Qs al-Hadid [57]:16).

Zikirullah juga bisa bermakna shalat, sebab shalat adalah salah satu upaya mengingat-Nya. Firman-Nya, “…Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Qs Thaha [20]: 14).

Zikir ini juga bermakna Al Quran, sebab salah satu dari sebutan Al Quran ialah adz dzikru. Bukankah Al Quran telah tegas menyebutkan bahwa Al Quran merupakan syifa’ bagi hati (Qs Yunus [10]: 57). Jadi orang yang selalu membaca Al Quran, memperlajari dan mengamalkannya sesungguhnya orang tersebut sedang dalam menerapkan hidup sehat sebab mereka telah menjaga hati untuk selalu sehat. (*)

 

© 2014 Padek.co