Jembatan Nagari IV Koto Mudiak nyaris Putus


Wartawan : Tim Padang Ekspres - Editor : Riyon - 11 January 2017 11:30 WIB    Dibaca : 24 kali

 

Normalisasi Sungai Mendesak

Banjir yang melanda Kampung Surau Pasia Lubuk Nyiur, Nagari IV Koto Mudiak Kecamatan Batangkapas Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) membuat jembatan di daerah itu nyaris putus. Fondasi jembatan rusak sehingga terpaksa menggunakan penyangga dari pohon kelapa sepanjang 50 meter.

Wali Nagari IV Koto Mudiak, Syafran Tamsa mengatakan, banjir yang melanda Kampung Surau Pasia Lubuak Nyiur telah menyebabkan beberapa sarana rusak.

”Walau banjir yang terjadi pada Kamis-Jumat (5-6/1) itu tidak menimbulkan korban jiwa, tapi kerugian yang dialami cukup besar. Selain telah membuat fondasi jembatan rusak dan terseret ke dalam sungai sepanjang 50 meter, tebing sungai yang sudah dibangun beronjong juga terban,” katanya kepada Padang Ekspres kemarin (10/1). 

Dia berharap Pemkab Pessel segera memperbaikinya. ”Bila tidak, nagari ini terancam terbelah oleh aliran sungai. Sebab bisa saja aliran sungai Batang Anakan ini  kembali pindah ke lokasi lama,” ujarnya. 

Pascabanjir, masyarakat goro memperbaiki jembatan memanfaatkan pohon kelapa.

“Tapi dikhawatirkan daya tahannya tidak akan maksimal. Sebab hanya menggunakan batang kepala yang disusun secara rapi agar mobil bisa kembali lewat. Ini dilakukan agar warga di Nagari IV Koto Mudiak ini tidak terisolasi,” ujarnya. Meski sejumlah lokasi di nagari itu langganan banjir, tapi yang terjadi kali ini terbesar sejak enam tahun terakhir.

Sungai di Pessel Kritis 

Seringnya air sungai meluap di Pessel, membuat kondisi sungai kritis. Ini perlu menjadi perhatian serius Pemkab agar masyarakat sepanjang sungai tidak lagi waswas saat hujan lebat. Namun keterbatasan anggaran tetap menjadi kendala daerah melakukan normalisasi sungai.

Ada 12 aliran sungai besar dan kecil di 15 kecamatan di Pessel yang mendesak dinormalisasi. Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Pesisir Selatan, Doni Gusrizal mengatakan, melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2017 dianggarkan Rp 2,2 miliar untuk normalisasi sungai.

Yakni, untuk normalisasi jaringan irigasi sungai Rp 1 miliar, rehab jaringan irigasi  Rp 5 miliar serta peningkatan rehabilitasi jaringan irigasi Rp 13,7 miliar.  

Sedangkan untuk proyek pengendalian banjir dianggarkan Rp 8,1 miliar, rehabilitasi pemiliharaan bantaran dan tanggul sungai Rp 4,6 miliar serta pengembangan pengendalian daerah rawan  Rp 3 miliar. 

Menurut Doni, sering meluapnya air sungai karena terjadi sedimentasi di dasar sungai. Runtuhan tebing menyebabkan pendangkalan sungai. 

Akibatnya sungai tidak mampu menampung air curah hujan tinggi. Faktor lainnya yakni kerusakan hutan di hulu sungai dan labilnya struktur tanah pada tebing sungai. Sehingga tebing sungai selalu terban dihantam arus air. 

“Januari sudah dilakukan proses lelang agar bisa segera dilakukan pembenahan sungai. Sebab ini menjadi perhatian serius dari Pemkab Pesisir Selatan, seperti, banjir, tanah longsor, gempa  bumi, pergeseran tanah maupun tsunami,” ujarnya.

Doni mengakui, ketika normalisasi dilakukan, pembebasan tanah menjadi kendala. Sebab masyarakat tidak mau membebaskan lahan milik mereka untuk pelurusan sungai tersebut. Akibatnya anggaran dialihkan ke daerah lain. (*)

© 2014 Padek.co