Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Prof Dr Ir Isril Berd, Pakar Teknik Tanah dan Air serta Daerah Aliran Sungai (DAS)


Wartawan : Hijrah Adi Sukrial - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 08 January 2017 11:28 WIB    Dibaca : 65 kali

 

Benahi Biofisik Sumbar

Awal tahun 2017, berbagai daerah di Sumatera Barat dihantam bencana banjir dan longsor. Setelah sebelumnya Kabupaten Solok dan  Pesisir Selatan, Solok Selatan (Solsel) dan Pasaman juga mengalami hal serupa. Peristiwa ini seakan menjadi peristiwa yang berulang setiap kali hujan deras melanda Sumbar. 

Fenomena ini sebenarnya sudah dianalisa dan diprediksi oleh para pakar. Peristiwa ini juga bisa diatasi, syaratnya ada komitmen dan konsistensi dari berbagai pihak, terutama para pengambil kebijakan.

Untuk membahas hal tersebut, berikut petikan wawancara wartawan Padang Ekspres Hijrah Adi Sukrial dengan pakar teknik tanah dan air serta Daerah Aliran Sungai, Prof Isril Berd. 

Pak, lagi-lagi bencana banjir dan longsor menghantam beberapa daerah di Sumbar. Ini seakan menjadi peristiwa yang terus berulang dan mungkin akan terus seperti ini jika tidak ada langkah konkret untuk mengantisipasinya. Sebenarnya apa penyebab bencana ini pak?

Selain intensitas dan frekuensi hujan tinggi, bencana ini tak lepas dari geogarafi Sumbar banyak dipenuhi gunung dan bukit dengan lereng-lereng curam. Biasanya, faktor penyebab longsor dihubungkan pada ketidakmantapan lereng.

Hal itu ditujukan untuk mengidentifikasi satu atau lebih penyebab longsor. Di mana, faktor penyebab longsor meliputi faktor geologis, morfologis, faktor fisik, dan faktor berhubungan dengan aktivitas manusia.

Faktor pendorong terjadinya longsor, bisa berupa faktor alamiah maupun faktor nonalamiah. Faktor alamiah antara lain; pertama, kondisi geologi seiring adanya jalur-jalur patahan dan rengkahan batuan yang mengakibatkan kondisi lereng mempunyai kemiringan > 30 persen dan tumpukan tanah liat berpasir di atas batuan kedap air berupa andesit dan breksi andesit.

Kemudian yang kedua, kondisi curah hujan yang cukup tinggi setiap tahunnya; lalu yang ketiga, sistem hidrologi pada daerah lereng. 

Sementara faktor nonalamiah antaralain; pertama, pembukaan hutan secara sembarangan; kedua, penanaman jenis tanaman yang terlalu berat dengan jarak tanam terlalu rapat; ketiga, pemotongan tebing/lereng untuk jalan dan pemukiman secara tidak teratur.

Apa efek kerusakan hutan dan menurunnya kualitas lahan tersebut?

Hal itu berpengaruh terhadap kualitas DAS di daerah tersebut, sehingga persentase terjadinya banjir semakin besar. Hal itu, akibat DAS tidak mampu lagi menampung debit air yang masuk karena hutan mengalami degredasi lahan. Akibatnya, tidak lagi mampu lagi menyimpan air dalam jumlah besar. Jika di kawasan perkampunganbanjir disebabkan oleh bermasalahnya DAS, di perkotaan Anda sering menyebut bahwa permasalahannya adalah drainase.

Bisa Anda paparkan?

Kerapnya beberapa wilayah di Sumbar dilanda banjir beberapa waktu terakhir, lebih akibat beberapa faktor. Antara lain; curah hujan tinggi (melebihi batas normal), kerusakan lingkungan, perubahan iklim secara global dan kapasitas saluran air baik sungai maupun drainase dan lainnya tidak memadai. Yang dominan penyebab banjir adalah akibat rusaknya DAS, serta tidak memadainya kapasitas saluran air, baik sungai, drainase dan lainnya.

Umumnya, perencanaan tata ruang perkotaan dirasa kurang memperhatikan pedekatan manajemen air dan hidrologi dalam mendukung penataan kawasan kota yang berwawasan lingkungan.

Makanya, pendekatan sosio-kemasyarakatan yang berorientasi partisipasi masyarakat dalam proses perancangan, perencanaan, pelaksanaan maupun pengelolaan dan pengawasan sangatlah diperlukan. 

Salah satu faktor input data dalam penentuan debit aliran permukaan di daerah perkotaan, ditandai besarnya tingkat urbanisasi yang diwakili dengan besarnya prersentase lapisan yang tidak tembus air (soil impermeable).

Apa yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut?

Untuk mengatasi hal tersebut, di sinilah perlunya pemberdayaan masyarakat. Terutama, terkait perilaku masyarakat ikut serta dalam penanggulangan bahaya genangan atau banjir dan mengkonservasi air tanah. Ini bisa dimulai dari lingkungan paling sederhana, rumah penduduk, RT dan RW.

Fakta di lapangan, perilaku masyarakat di perkotaan banyak mengubah tata guna lahan. Perubahan tata guna lahan ini berakibat berkurangnya daerah resapan air, dan memicu genangan atau banjir.

Di sisi lain, perlu dipahami bahwa keberadaan air di perkotaan tidak terlepas dari keberadaan air di hulu. Manajemen sumber daya air di perkotaan merupakan sub-sistem manajemen air di suatu wilayah sungai secara terpadu (integrated management plan). Sistem ini sering disebut dengan istilah: “Satu sungai, satu rencana, satu pengelolaan terpadu atau one river, one plan, one integrated/ coordinated management”. Ini merupakan basic concept manajemen sumber daya air secara universal. 

Nah, apa langkah jangka panjang yang harus dilakukan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota untuk mengatasi banjir dan longsor untuk jangka panjang?

Supaya bencana longsor dan banjir tidak lagi menjadi agenda musiman di Sumbar, pemerintah harus segera melakukan pembenahan terhadap biofisik Sumbar.

Jika selama ini pemulihan lahan dilakukan hanya dengan reboisasi, ke depan harus ditingkatkan. Jika sekarang hanya ditanam, ke depan harus ditingkatkan. Selain menanam harus ada perawatannya juga untuk memastikan yang ditanam itu tumbuh dan berkembang dengan baik. 

Jadi, penanaman pohon jangan jadi program sereminial saja. Setelah ditanam, tidak ada tindaklanjutnya, namun ditinggalkan begitu saja. Ke depan, perusahaan-perusahaan yang melakukan penanaman juga harus melakukan perawatannya. 

Pemanfaatan lahan, baik itu pertanian maupun pertambangan harus konservatif dan memperhatikan kondisi lingkungan. Konsep eksploitasif tidak boleh lagi dilakukan, karena menimbulkan kerusakan lingkungan dalam waktu lama.

Kita juga berharap, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap tindakan illegal logging dan pembukaan lahan pertanian baru yang dilakukan masyarakat. Karena hutan dan DAS harus selalu dijaga untuk mengurangi resiko bencana.

Anda sering mengatakan, jika hulu sungai di Padang tidak dibenahi, maka akan membahayakan ke depannya. Seperti apa kondisi hulu sungai di Padang?

Kualitas hutan yang berada di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kota Padang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Minimnya jumlah pohon pelindung disertai intensitas hujan yang tinggi disinyalir menjadi penyebab banjir bandang yang beberapa kali melanda Padang.

Ketika kawasan hulu tidak bisa lagi menampung air hujan, kapasitas aliran air di sungai utama akan meluap dan menghadang permukiman warga. Drainase yang tersedia masih belum cukup menampung air dalam skala besar.

Apa-apa saja sungai yang ada di Kota Padang?

Kota Padang dilalui enam DAS, yakni, Batang Airdingin, Batang Timbalun, Batang Arau, Batang Kandis, Batang Kuranji dan Sungai Pisang dan rata-rata dalam kondisi rusak. Untuk memperbaikinya, sedikitnya 4 ribu hektare lahan harus segera direboisasi.

Dari fakta yang ditemukan di lapangan setiap ada banjir, terungkap bahwa pohon yang hanyut terlihat bekas gergaji. Artinya masih ada pelaku illegal logging yang bermain di kawasan hulu.

Pemerintah Kota Padang harus melakukan pembenahan secara struktural dan nonstruktural. Secara struktural perlu dibangun biofisik DAS seperti menyediakan embung dan sumur resapan.

Sudah diputuskan sedikitnya diperlukan 24 embung yang tersebar di enam DAS. Sumur resapan dapat dibangun dengan menyewa lahan permukiman warga. Pembebasan lahan, seharusnya tidak menjadi kendala. Jalur Bypass  saja bisa dilaksanakan, kenapa tidak untuk penanganan banjir yang memiliki manfaat jangka panjang.

Bisakah anda jelaskan tentang penyebab longsor?

Biasanya, faktor penyebab longsor dihubungkan pada ketidakmantapan lereng. Hal itu ditujukan untuk mengidentifikasi satu atau lebih penyebab longsor. Di mana, faktor penyebab longsor meliputi; faktor geologis, morfologis, faktor fisik, dan faktor berhubungan dengan aktivitas manusia. 

Di antara faktor tersebut; pertama, penyebab geologis berupa bahan lemah, sensitif, terlapuk, terluncur, celah dan join, ketidakbersambungan, permeabilitas kontras, dan curah hujan; kedua, penyebab morfologis seperti sudut lereng, pengangkatan, rebound, erosi sungai, gelombang, glasial, permukaan yang lateral, subteranean, muatan lereng, serta perubahan vegetasi.

Ketiga, penyebab fisik akibat intensitas hujan, salju cepat cair, curah hujan lama, penurunan cepat, gempa, erupsi vulkanik, pencairan dan pembekuan, perubahan muka air tanah. Lalu, tekanan air pada ruang pori, aliran permukaan, aktivitas seismik. 

Keempat, ulah manusia seperti muatan lahan, penurunan, perubahan penggunaan lahan, manajemen air, penambangan, pembuatan jalan, pergerakan cepat, peresapan air, dan penebangan hutan. 

Sedangkan faktor penyebab longsor, terdiri dari karateristik tanah dan karakteristik lahan. Faktor karateristik terkait kedalaman solum tanah, kandungan bahan organik tanah, tekstur tanah, struktur, bobot isi, dan permeabilitas tanah. Karateristik lahan mencakup jumlah curah hujan, kemiringan dan panjang lereng, singkapan batuan, kedalaman muka air tanah, dan jenis penggunaan lahan. 

Di Sumbar banyak daerah yang memiliki tingkat kerawanan longsor yang tinggi. Apakah ada solusi untuk mengantisipasinya?

Sebetulnya bahaya longsor dapat dikurangi dengan menghindarkan pembangunan pada lereng curam dan daerah rawan longsor, atau memantapkan lereng. 
Pemantapan meningkat ketika air tanah dicegah dari peningkatan dalam massa tanah melalui; pertama, penutupan longsor dengan membran impermeabel; kedua, menjauhkan air permukaan dari longsor; ketiga, mengeringkan air tanah jauh dari longsor; dan keempat, meminimumkan irigasi permukaan. 

Pemantapan lereng ditingkatkan ketika struktur memegang dan atau berat tanah atau pun batuan ditempatkan pada mulut longsor atau ketika masa tanah dipindahkan dari puncak lereng.    

Pemantapan lereng dapat dilakukan menggunakan rekayasa teknik sipil dan teknik vegetatif. Penggunaan teknik sipil tentu dengan pembuatan teras atau melakukan pembetonan di tempat yang berpotensi longsor atau pun dapat, juga dengan upaya tenik vegetatif memerlukan pemilihan jenis tanamannya menjadi kunci penting dalam keberhasilan pencegahan longsor yang disebakan labilnya lapisan tanah.     

Namun intinya, untuk mengatasi banjir dan longsor ini perlu kesadaran dan komitmen semua pihak untuk merawat hulu sungai, merawat daerah aliran sungai (DAS) dan menjaga lingkungan. Mari kita hentikan main babat yang tak beraturan, mari kita jaga lingkungan kita. (*)

© 2014 Padek.co