Tati Yusmita, Relawan Kelompok Siaga Bencana (KSB) Padang


Wartawan : Syawaluddin - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 08 January 2017 11:19 WIB    Dibaca : 64 kali

 

Bahagia Bisa Membantu Sesama

Menjalani pekerjaan sebagai relawan bencana memang melelahkan dan menyita waktu. Bahkan terkadang harus meninggalkan keluarga. Namun, tidak bagi Yusmita, ia mau mengorbankan waktunya untuk membantu sesama sebagai relawan bencana.

Menolong orang lain saat ditimpa bencana sudah menjadi panggilan hati bagi dirinya. Karena tinggal di kawasan yang selalu dilanda banjir di kawasan Sungaisapih, Kecamatan Kuranji Padang, ia kemudian bergabung di Komunitas Siaga Bencana(KSB) di Sungaisapih.

“Kawasan tempat tinggal saya sering dilanda banjir. Hal itu membuat hati saya merasa terpanggil untuk menolong sesama dan memutuskan bergabung di KSB,” ungkap Yusmita saat berbincang-bincang kepada Padang Ekspres, Kamis (5/1).

Wanita berkaca mata yang akrab disapa Tati ini mengatakan, awal mula bergabung di KSB sejak tahun 2011, namun sempat fakum karena kegiatannya jarang yang aktif sehingga tahun 2014 aktif lagi dan bergabung di KSB kelurahan.

“Kini KSB merupakan ujung tompak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), karena ada di setiap kecamatan,” kata Tati yang juga Ketua KSB Kelurahan Sungaisapih.

Alumni SMAN 5 Padang tahun 1991 ini melanjutkan, berawal dari situ dirinya diajak bergabung dalam Forum Kelompok Siaga Bencana (FKSB) Kota Padang dan ditunjuk sebagai tenaga sekretariat FKSB Padang. Sehingga dari situlah saya sering turun saat terjadi bencana di Kota Padang.

“Insya Allah, apapun bencana yang terjadi kami selalu turun untuk menolong,” ujar istri M. Jamil ini.

Di menuturkan KSB tersebut lahir sejak pasca-gempa tahun 2009, karena saat gempa tersebut dia melihat langsung bagaimana penderitaan warga kota yang dilanda musibah. Di mana-mana korban dan rumah-rumah banyak yang hancur sehingga terketuk dirinya untuk membantu dengan apa adanya.

“Saat gempa 2009 saya aktif di kelurahan membantu warga setempat mulai packa terjadi bencana sampai tanggap darurat yang saat itu ditangani oleh BPBD, sehingga sejak pasca-gempa tersebut maka terbentuklah KSB,” ungkapnya.

Sebelum bergabung di KSB, wanita yang juga aktif di Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) di Kelurahan Sungaisapih serta kader Posyandu dan PKK  ini mengatakan dirinya pernah menjadi guru di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sekitar tahun 2007 sampai 2014.

“Saya pernah mengajar di PAUD Tunas Bangsa dan di PAUD Hayati yang berada di kawasan Sungaisapih, namun karena ingin fokus sebagai relawan serta banyaknya kegiatan sosial yang lain akhirnya saya memutuskan untuk berhenti mengajar, karena sejak aktif di relawan kebencanaan ada kepuasan tersendiri bagi diri saya,” tuturnya.

Alumni S1 UNP Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLS) tahun 2016  ini menceritakan pernah ikut menolong korban bencana banjir di Lubukbegalung tahun 2015.

Saat itu banjir besar melanda sebagian Kota Padang, selain itu juga pernah turun saat membantu korban galodo di Batu Busuk Limaumanih sekitar tahun 2011.

Lalu pembersihan di hulu sungai pasca-galodo bersama Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah, pencarian orang hilang di bendungan Koto Pulai dan banyak lagi yang lainnya.

Dari sekian banyak ikut dalam kebencanaan, hal yang paling mengusik hatinya adalah di saat anggota KSB menemukan korban yang hilang di bendungan Koto Pulai bernama Aldo, di situ naluri keibuannya terusik.

Bagaimana tidak, perasaan seorang ibu yang kehilangan anaknya, padahal Pemko telah mewanti-wanti tempat tersebut bukan tempat wisata tetapi masyarakat masih berduyun-duyun datang ke lokasi tersebut. Selain itu masyarakat setempat  juga menfasilitasi dengan cara membuat jenjang untuk menuju lokasi.

“Masyarakat setempat tidak memikirkan dampaknya dan hanya memikirkan ekonomi mereka saja. Sementara himbauan Pemko sudah jelas bahwa tempat tersebut bukan tempat wisata,” katanya.

Selain itu, dirinya juga terenyuh saat keluarga korban (Aldo) menangis di Rumah sakit Bayangkara. Padahal anaknya tersebut baru pulang merayakan tahun baru di Pasumpahan.

“Saya teringat saat pelatihan tentang kebencanaan di sebuah hotel di Padang beberapa waktu lalu, memang selfie bisa mengundang bencana atau beresiko, karena terlampau berselfie di tempat yang berbahaya akhirnya terpeleset dan jatuh,” tuturnya.

Dia menuturkan, di saat kejadian ada  orang hilang di bendungan Koto Pulai, pada malam itu dirinya bersama anggota  KSB lainnya dari daerah Kasang dan akan menuju Sungaisapih. Namun saat di Jalan Bypass, kendaraannya berpapasan dengan mobil Basarnas.

“Ketika itu saya langsung berpikir ini pasti ada bencana. Lalu melalui Whatsapp masuk pesan dari KSB Kototangah bahwa ada korban di Koto Pulai, kemudian untuk memastikannya kami menghubungi kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Kapusdalop),” ujarnya.

Saat itu, FKSB turun tiga orang bersama anggota dewan menuju lokasi, besok paginya KSB telah siap di lokasi hingga mayat Aldo ditemukan dan diserahkan kepada orang tuanya di rumah sakit Bhayangkara.

Dia mengatakan anak dan suaminya mendukung aktifitasnya sebagai relawan bencana yang mungkin resiko selalu mengintai.

“Anak saya mendukung apa yang dilakukan ibunya, namun mereka pesan hati-hati saat bertugas. Alhamdulillah, selama bergelut dalam kebencanaan saya belum pernah mengalami kecelakaan, karena yang penting tujuan menolong orang dengan ikhlas dan panggilan hati,” imbuhnya.

Saat ini, tambahnya, anggota KSB  di Kota Padang berjumlah 2080 orang, terdiri dari 20 orang setiap kelurahan, tetapi yang aktif hanya 1/3 dari jumlah 2080 orang tersebut.

“Mudah-mudahan dengan kepala BPBD yang baru ini bisa merangkul kembali KSB di kelurahan dan mengaktifkan kembali, karena selama ditemui di lapangan masyarakat masih tidak tahu tentang KSB, karena di kelurahan mereka tidak aktif,” tuturnya.

Dia menjelaskan  sistem kerja di KSB yaitu setelah Pusdalop memberitahukan ada bencana, pihaknya akan turun dan berkoordinasi dengan FKSB Kota Padang.

Sementara masalah operasional ditanggung bersama atau patungan, namun jika ada bencana yang besar di Kota Padang maka BPBD akan mengeluarkan biaya operasional.

Ke depan, ia berharap kalau bisa relawan tersebut diperhatikan oleh pemerintah, karena relawan KSB ini hanya panggilan hati saja. "Sebaiknya ditata lagi sehingga lebih terstruktur, karena KSB merupakan ujung tompak BPBD,” pungkasnya. (*)

© 2014 Padek.co