Termotivasi Jadi Dokter karena Surat dari Abang


Wartawan : Hijrah Adi Sukrial - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 18 December 2016 10:14 WIB    Dibaca : 52 kali

 

Sering dikirimi surat-surat yang berisi motivasi oleh kakaknya yang menuntut ilmu di Bandung, Abdullah Wali Nasution termotivasi untuk belajar sungguh-sungguh dan menggapai cita-citanya menjadi dokter. Sekarang, beberapa puluh tahun kemudian, dia menjadi satu-satunya ahli andrology dan sexology di Sumatera Barat. 

"Waktu saya masih SD di Pasaman, kakak saya kuliah di Bandung. Dalam setiap suratnya kepada ibu, dia selalu menyelipkan motivasi kepada saya. Dia menjanjikan, apabila saya belajar sungguh-sungguh maka dia akan menyekolahkan saya hingga jadi dokter,” kenang dr Abdullah Wali Nasution ketika berbincang dengan Padang Ekspres di tempat praktiknya, Jumat (15/12). 

Berbekal semangat dari kakaknya tersebut, Abdullah Wali Nasution belajar sungguh-sungguh. Usahanya tak sia-sia, tamat SD di Pasaman Barat yang ketika itu masih satu kabupaten dengan Pasaman, dia berhasil menjadi juara umum dengan nilai tertinggi se-Kabupaten Pasaman. 

Ketika dia duduk di kelas dua di salah satu SMP negeri di Pasaman, abangnya yang sering memotivasinya sudah lulus dan diterima menjadi guru SMP di Bukittinggi. Sang motivator mengajaknya pindah dan melanjutkan pendidikannya ke Bukittinggi.

Jadilah dia pindah ke Bukittinggi. Selanjutnya, dia melanjutkan pendidikan ke SMAN 1 Bukittinggi. Cita-citanya menjadi dokter membuatnya terus semangat belajar. Apalagi dorongan kakak yang terus menerus memberi motivasi. 

”Setelah tamat SMA, saya diterima di Fakultas Kedokteran Unand. Hal itu membuat saya semakin semangat, karena cita-cita untuk jadi dokter sudah di depan mata,” jelasnya.

Karena prestasinya, sejak masih kuliah pria yang juga dikenal dengan nama Abdul Wali Nasution ini sudah diangkat menjadi staf pengajar di Fakultas Kedokteran Unand. Kemudian, begitu mendapatkan gelar dokter, dia langsung diangkat jadi dosen di tempat dia menimba ilmu tersebut. 

Setelah mendapatkan gelar dokter, Abdul Wali melanjutkan pendidikan pascasarjana dengan jurusan Biologi Kedokteran. Lalu dia bergabung dalam Perkumpulan Andrologi Indonesia.

Dalam organisasi itu, dia sempat dipercaya menjadi Ketua untuk wilayah Sumatera tengah dan pada tahun 1997 dipilih menjadi Ketua Umum Perkumpulan Andrologi Indonesia. 

Seiring berkembangnya penyakit yang berhubungan dengan andrologi dan sexology di Negara berkembang, lembaga dunia World Health Organization (WHO) membuat program pendidikan dokter speasialis andrologi untuk 10 orang dari Indonesia dan Abdul Wali menjadi salah satu dokter yang terpilih mengikuti pendidikan tersebut. 

”Hal itulah yang kemudian mengantarkan saya jadi satu-satunya dokter spesialis andrology dan sexology di Sumatera Barat,” jelasnya. 

Menurut dia, seiring berkembangnya zaman, penyakit andrology dan sexology semakin berkembang. Namun, karena dia hanya seorang diri di Sumbar, jangkauannya terbatas.

Padahal, dokter andrologi punya tugas besar memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang seksual dan perkembangan organ genital anak. Bahkan, di Indonesia hanya ada 50 orang dokter spesialis andrologi, sedangkan di Sumatera hanya ada di Padang, Palembang, Pekanbaru, dan Medan.

Sisanya, hanya ada di kota besar, seperti Jakarta, Surabaya dan Manado. Tak heran jika kemudian banyak pasien Abdul Wali datang dari luar Sumbar, seperti Batam, Tanjung Pinang, Malaysia, bahkan Kalimantan. 

Dia memaparkan, kurangnya dokter seksology terjadi karena ilmu andrologi baru berkembang tahun 1980an. Selain itu, pusat pendidikannya di Indonesia tidak ada, hanya di luar negeri. “Sekarang baru ada di Surabaya, dan hanya menerima dua orang dokter setahun,” paparnya.

Untuk memberikan kesadaran tentang andrology dan sexology, Abdul Wali sering diundang menjadi pembicara dalam seminar pranikah dan khusus bagi karyawan yang belum menikah. 

Menurut dia, dulu memang banyak yang menganggap mengobati masalah seksual masih tabu. Namun secara berangsur-angsur sudah terdapat peningkatan pengetahuan dan keberanian dari masyarakat menyampaikan keluhan tentang seksologi.

“Dulu, kalau pasien ingin berobat itu kucing-kucingan. Kalau melihat saya ada pasien, dia akan pergi. Setelah dipastikan kosong, baru datang lagi. Kalau sekarang, sudah mulai ada kesadaran bahwa ini adalah hal alamiah yang tidak perlu disembunyikan berlebihan. Sebab, sakitnya bukan karena perangai. Penyebabnya adalah Faktor genetik, infeksi, makanan dan minuman, serta gaya hidup. Bahkan sekarang sesama pasien, sudah saling bercerita ketika sedang antre menunggu giliran untuk diperiksa. Dia mengatakan, untuk mencegah disfungsi ereksi dan ejakulasi jaga makan, gaya hidup, menghindari penyakit yang erat hubungannya dengan fungsi seksual, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, merokok, kolesterol, dan narkoba. Kalau sudah ada masalah dalam aktivitas seksual, jangan sembunyikan, tapi obati. Karena dia bisa diobati. Kecuali disfungsi seksual karena narkoba, biasanya mengobatinya akan sangat sulit,” terangnya.

Menurut dia, di negara maju, kesuburan dan seksualitas jadi perhatian pemerintah. Buktinya, masuk dalam tanggungan asuransi kesehatan pegawai negeri.

Namun, di Indonesia tidak masuk dalam tanggungan BPJS. Padahal, hal ini sangat urgen, karena jika seseorang tidak punya anak dan tidak bisa beraktivitas seksual dengan normal, maka semangat hidup akan hilang dan mempengaruhi etos kerjanya. (*)

© 2014 Padek.co