Ridwan, Sopir Mobil Pemadam Kebakaran BPBD-PK Kota Padang


Wartawan : Syawaluddin - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 18 December 2016 10:01 WIB    Dibaca : 30 kali

 

Pernah Tergelincir Hingga Tabrak Pengendara Motor

Berhasilnya petugas pemadam kebakaran (damkar) melaksanakan tugas di lapangan tidak terlepas dari sosok sopir yang mengemudikan kendaraan damkar. Mereka harus sigap, lincah dan cekatan serta ahli menyelip di jalan yang sempit sekalipun. Ridwan, salah satunya  sosok sopir damkar yang memperkuat jajaran damkar Kota Padang.

Pria 47 tahun ini mulai bergabung di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Kota Padang tahun 2002. Mulanya ia hanya sebagai tenaga honorer, dan baru di tahun 2007 diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

“Kali pertama saya bertugas sebagai pembantu sopir, kemudian naik menjadi penyerang (fighter/memadamkan api) lalu menjadi sopir tetap damkar dari tahun 2005 hingga sekarang,” pria yang pernah mengikuti pemagangan ke Jepang tahun 1999 ini.

Pria berkaca mata yang akrab di sapa uda Wan oleh rekan sejawatnya ini, menuturkan sopir damkar harus cekatan dan terampil dalam mengedarai kendaraan. Selain itu juga harus terampil dalam mengoperasikan pompa air. Sebab, kendali air dalam tangki agar bisa mengalir ke selang ada pada diri sopir damkar.

“Selain sopir, saya sekaligus merangkap sebagai operator, jika cara pengoperasian salah, maka air tidak akan mengalir. Resikonya ada pada keselamatan warga,” kata suami Syafadilatur Roza ini.

Selain itu, operator harus bisa mengatur tekanan air yang akan disemprotkan saat kebakaran terjadi. Jika tekanan telalu tinggi, personil yang memegang selang akan terpental. Karena itu, saat kebakaran sopir harus tahu posisi personil penyerang, sehingga tekanan air dapat diatur.

“Tekanan tinggi dipakai saat pertama sampai di lokasi, gunanya untuk memutuskan api,” tuturnya.

Bapak empat anak ini menuturkan, ada rasa grogi saat pertama kali bekerja sebagai sopir damkar. Karena inilah pengalaman dalam hidupnya baru mengendarai mobil damkar. Begitupun saat menghadapi kebakaran, ia merasa bingung tidak tahu apa yang harus dikerjakan.

“Mobil pertama yang saya pakai adalah mobil merk Isuzu TX. Kondisinya sudah tua. Pernah suatu ketika, ketika saya menuju lokasi kebakaran di Simpangharu, tiba-tiba kap mobil tersebut terbuka sendiri. Saya sempat bingung dan langsung menghentikan kendaraan di tengah jalan. Setelah itu saya turun dan menutup kembali kap mobil tersebut,” kenang Ridwan.

Seiring berjalannya waktu rasa grogi tersebut berangsur hilang. Lalu untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan, pada tahun 2007 ia memutuskan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi swasta di Kota Padang dan memilih jurusan hukum.

“Selain menambah wawasan, juga untuk menunjang karir saya ke depan di BPBD-PK,” ucap pria yang juga sebagai komandan regu C di BPBD-PK ini.
Selama menjalani profesi sebagai sopir damkar, banyak suka duka yang dilaluinya.

Kondisi jalan yang macet, ditambah kesadaran pengguna jalan yang masih kurang memberikan prioritas kepada mobil damkar yang lewat cukup menghambat laju mobil menuju lokasi kebakaran.

“Saat menuju lokasi kebakaran, banyak warga tidak peduli dan tidak mau minggir. Padahal mobil sudah membunyikan serine,” kata alumni Universitas Taman Siswa (Tamsis) Fakultas Hukum tahun 2011.

Tak hanya itu, kendaraan juga pernah tergelincir saat memadamkan kebakaran di Gunungsarik. Saat  itu kebakaran terjadi pukul 18.00, personel tidak begitu menguasai kawasan tersebut sehingga empat mobil damkar tergelincir di lumpur. Sehingga terpaksa bermalam di lokasi, karena mobil sangat sulit dikeluarkan dari lumpur. 

Selain pernah tergelincir, mobil juga pernah menabrak pengendara roda dua. Pada saat itu, pengendara roda dua berhenti mendadak di lampu merah, sementara mobil damkar ada di belakangnya.

Karena mobil dalam kecepatan tinggi sehingga tidak mampu menginjak pedal rem dan akhirnya menabrak pengendara motor yang berada di depan mobil damkar.

“Saat itu mobil damkar dengan kecepatan tinggi menuju lokasi kebakaran di Pasarbaru Kecamatan Pauh sekitar tahun 2011. Alhamdulillah pengendara motor tersebut tidak apa-apa,” katanya.

Ada lagi, jika ada kebakaran warga selalu berkerumun di lokasi, sehingga mengganggu petugas yang akan memadamkan api. Selain itu akses jalan yang sempit juga menganggu mobil masuk ke lokasi kebakaran.

Dia menyebutkan, jumlah sopir di BPBD-PK ada sekitar 12 orang, sedangkan kendaraan yang ada sekitar 10 unit. Sistem kerja di damkar dalam satu hari dibagi tiga shift, yaitu shift pagi dari pukul 07.30 sampai pukul 19.30 dan shift malam dari 19.30 sampai pukul 07.30 dan satu shift off.

“Satu regu terdiri 14 hingga 16 personel, jumlah personel seluruhnya sebanyak 43 orang,” katanya.

Dia berharap ke depannya personel damkar lebih banyak diberikan pelatihan-pelatihan sehingga skill mereka bertambah. Tak hanya itu kendaraan damkar bisa ditambah yang lebih modern. Dilengkapi dengan tangga yang gunanya untuk memadamkan api di gedung-gedung bertingkat. (*)

© 2014 Padek.co