Pujiyono, Wali Nagari Peraih Adikarya Pangan Nusantara 2016


Wartawan : Elfi Mahyuni - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 11 December 2016 10:08 WIB    Dibaca : 36 kali

 

Motivasi Warga Manfaatkan Lahan Tidur

Di Kenagarian Sungai Pulai, Kecamatan Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) ia dikenal sebagai sosok motivator. Berkat motivasinya, ia sukses mengangkat taraf hidup warganya di bidang ketahanan pangan.

Kesuksesannya itu diganjar pemerintah sebagai salah satu dari sepuluh kepala desa/wali nagari penerima penghargaan Adikarya Pangan Nusantara 2016, sebagai Pembina Ketahanan Pangan.

Dialah, Pujiyono, wali nagari Sungai Pulai, Kecamatan Silaut. Sebenarnya Pujiyono lahir dan besar di Jawa Tengah, dan baru pada tahun 1991 menetap di Silaut, Kabupaten Pessel. Ia mengikuti ayahnya Priyo Wiryono yang terlebih dahulu tinggal di Silaut sebagai seorang transmigrasi. 

Kendati dirinya memiliki jati diri sebagai orang Jawa, namun bagi dirinya daerah Silaut adalah daerahnya sendiri yang harus dibinanya dan berbuat yang terbaik bagi daerah tersebut. 

Pria kelahiran Semarang, 14 Oktober 1970 ini menjadi wali nagari pada tahun 2012 setelah kenagariannya, Sungai Pulai membentuk sebagai kenagarian baru. Dengan jumlah penduduknya 1.650 jiwa atau sekitar 450 kepala keluarga (KK) Pujiyono dinilai aktif dan mampu melahirkan ide-ide baru buat masyarakatnya. 

Ia mengatakan, sebagai wali nagari harus mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang ada di nagari, mulai dari masalah masyarakat hingga masalah ekonomi terutama kesiapan warganya dalam masalah pangan.

Sebagai daerah perkebunan sawit, rata-rata penduduknya bermata pencaharian sebagai buruh dengan penghasilan yang tidak menentu. Jika harga sawit meningkat maka mereka juga mendapatkan penghasilan yang besar namun jika harga sawit menurun warga kebanyakan menganggur. 

Sebagai wali nagari, berbagai upaya terus dilakukan agar masyarakatnya memiliki penghasilan lain ketika kehidupan tidak bisa lagi digantungkan pada hasil perkebunan. Ia pun membentuk kelompok-kelompok tani, seperti kelompok tani wanita, kelompok tani pria, kelompok tani ternak dan kelompok lainnya. 

Dirinya menggiatkan pembinaan dan pelatihan kepada kelompok-kelompok tersebut agar kelompok memiliki usaha yang mampu menambah penghasilan.

Seperti kelompok wanita tani, ia memberikan pemahaman dan pembinaan tentang pemanfaatan pekarangan. Ini agar mereka bisa memanfaatkan pekarangan untuk ditanami tanaman palawija seperti sayuran bayam, terong, kacang panjang. 

Selama ini, kebanyakan masyarakat kurang memanfaatkan lahan pekarangan yang ada di rumah. Lahan-lahan tersebut dibiarkan kosong begitu saja dan tidak ada manfaat.

Padahal jika lahan itu dimanfaatkan dengan optimal maka selain bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari juga bisa menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan bagi keluarga. 

Selain bisa dimanfaatkan sebagai konsumsi keluarga juga bisa untuk dijual dan uangnya bisa membantu biaya keluarga. Begitu juga kelompok tani pria menggiatkan pembinaan tata cara pengolahan lahan terutama lahan tidur supaya bisa diolah dengan baik.

Kepada Padang Ekspres, suami Siti Junaidah ini menceritakan, selain potensi perkebunan sawit kenagariannya juga memiliki potensi ternak sapi. Ini ditandai dengan banyaknya warga yang memiliki hewan ternak sapi.

Pujiono tau betul, kotoran sapi itu bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi. Lantas ia membentuk kelompok masyarakat pengolah biogas. Pelatihan pun diberikan kepada masyarakat dengan harapan agar bisa memanfaatkan kotoran sapi sebagai sumber energi baik untuk penerangan, bahan bakar buat memasak dan lainnya.

Selain pengelolaan biogas, ia juga memberikan pelatihan untuk memanfaatkan ampas sapi menjadi pupuk organik untuk tanaman di lahan gambut. Bahkan untuk memaksimalkan usahanya tersebut dari nagari dianggarkan dana bagi kelompok tersebut berupa dana pemberdayaan. Sehingga kelompok itu bisa selalu mendapatkan penyuluhan berlanjut. 

Namun apa yang dilakukan ayah dua orang anak ini tidak selalu mendapatkan tanggapan positif dari warganya. Bahkan awalnya warga menolak usaha yang dilakukannya. Mereka menilai kegiatan yang dilakukan oleh Pujiyono hanya kesia-sian.

Mereka menganggap usaha menjadi buruh sawit lebih besar dan tidak perlu lagi ada usaha lain. Tapi Pujiyono tidak patah semangat, ia terus melakukan pembinaan dan penyuluhan kepada warga agar bisa dibina dalam bentuk kelompok maupun pribadi mencari usaha sampingan untuk menambah penghasilan keluarga. 

Dan usahanya ini mulai melihatkan hasil ketika harga sawit di pasaran semakin rendah. Warga tidak memiliki penghasilan lebih untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sedikit demi sedikit warga mulai mengikutinya dan akhirnya mereka mampu menciptakan usaha sampingan baru.

Atas upayanya itulah ia berhasil menjadi juara I tingkat kabupaten sebagai Pembina Ketahanan Pangan tingkat Kabupaten Pessel dan melaju ke tingkat Provinsi Sumbar.

Ia pun berhasil keluar sebagai juara I dan melaju ke tingkat nasional. Secara nasional, ia dinobatkan sebagai 10 orang kepala desa/wali nagari se-Indonesia yang mendapatkan penghargaan Adikarya Ketahanan Pangan 2016. 

“Penghargaan itu bukan akhir dari semuanya, ini adalah pemicu untuk kita bisa berbuat lebih banyak lagi buat masyarakat. Penghargaan ini dijadikan motivasi buat ke depannya,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan Pujiyono, di tahun 2016 ini juga dibagikan bibit kelengkeng dan manggis kepada 150 KK untuk bisa ditanami di setiap rumah mereka. Ia berkeinginan kenagariannya ini bisa menjadi daerah sentral penghasil tanaman kelengkeng dan ke depannya mampu menjadi daerah wisata agro.

Bahkan program ini ada di setiap nagari yaitu di 10 kenagarian di Kecamatan Silaut. “Kita berharap selain tanaman sawit, daerah ini juga menjadi daerah penghasil buah-buahan,” tuturnya.

Ia juga berharap upaya yang telah dirintisnya ini bisa selalu didukung selalu baik itu masyarakat, pemerintah hingga semua elemen masyarakat. Sehingga kehidupan masyarakat bisa meningkat dan memiliki penghasilan sampingan selain tanaman sawit. 

Sementara Camat Silaut, Syamwil menilai Pujiyono sebagai pribadi yang aktif,mampu melahirkan ide-ide yang cemerlang untuk perkembangan ekonomi nagarinya.

Terutama pemanfaatkan kotoran sapi sebagai biogas. Di mana limbah biogas mampu dimanfaatkannya secara optimal untuk sumber energi dan pupuk bagi tanaman di lahan gambut. Bahkan kenagarian direncanakan bisa menjadi nagari mandiri energi ke depannya. 

“Kita berharap upaya yang dilakukan oleh Pujiyono ini bisa menjadi inspirator bagi nagari-nagari lainnya dan bisa juga melahirkan ide-ide baru buat perkembangan ekonomi masyarakatnya,” harapnya. (*)            

© 2014 Padek.co