Pengungsi Terpaksa Masak Sendiri


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 10 December 2016 11:01 WIB    Dibaca : 64 kali

 

Bangun Tenda dari Urunan Warga

Belum semua korban gempa di Pidie Jaya, Aceh terjangkau bantuan. Salah satunya korban di Dusun Kutang, Desa Sageo, Kecamatan Trienggadeng. Kepala Dusun M Isa menyatakan, warga menggunakan fasilitas swadaya masyarakat untuk menghidupi para pengungsi.

“Kami buat tenda sendiri dan masak dari urunan warga. Tadi saya datang ke posko, katanya bakal ada bantuan, tapi sampai sekarang tidak ada,” ujarnya kemarin sore.

Kebutuhan bahan makanan untuk posko sangat besar. Setiap hari dibutuhkan 90 kg beras, 180 butir telur, dan 5 boks air mineral ukuran gelas. Relawan hanya menyalurkan logistik ke posko-posko di wilayah kota seperti Kecamatan Meuredu. Bantuan yang sampai ke mereka hanya mi instan.

“Padahal, masih ada desa yang lebih terpencil daripada kami. Kami coba kasih mereka mi instan kalau punya lebih. Tapi, mereka malah sama sekali tidak dijangkau,” ungkap Isa.

Lain lagi kondisi pengungsi di Masjid Istiqomah. Nur Lela, salah seorang pengungsi, mengaku sudah tercukupi soal makanan. Meski menunya ala kadarnya dan monoton.

Dia tiga hari tinggal di sana. Yang menjadi masalah adalah pengungsi mulai kekurangan kebutuhan lain-lain. Terutama kebutuhan anak seperti susu dan popok. “Kami juga tak punya peralatan mandi seperti sabun dan sampo,” ucapnya.

Bantuan logistik dari pemerintah juga belum sepenuhnya dirasakan korban gempa di Desa Keude, Kecamatan Panteraja. Sebanyak 500 kepala keluarga (KK) di desa tersebut sampai kemarin hanya mengandalkan stok bahan makanan yang dikumpulkan dari warga. 

Setiap hari mereka memasak 20 karung beras ukuran 15 kg di dapur umum yang didirikan secara swadaya. Makanan itu kemudian dibagikan ke para korban yang membutuhkan. “Aktivitas warga di sini belum normal. Banyak yang belum bisa bekerja,” ujar Suhardi, warga setempat.

Tak menyeluruhnya distribusi bantuan bisa jadi bakal lebih parah. Sebab, posko-posko di Kabupaten Pidie Jaya dan sekitarnya meningkat dua kali lipat hari ini akibat gempa susulan yang masih terjadi.

Menurut pantauan, gempa yang kuat terasa tiga kali kemarin. Yang terkuat terasa sekitar pukul 17.00 dan cukup membuat masyarakat panik. Bahkan, sampai pukul 21.15, masih saja terjadi gempa. 

Ketidakmerataan distribusi bantuan itu diakui Yusri, koordinator lapangan Posko I Meuraksa Barat, Pidie Jaya. Dia mengatakan, di posko I terdapat 875 jiwa yang sebagian besar masih kekurangan selimut. “Kalau makanan sejauh ini cukup. Tapi, selimut, obat, dan tenda masih kurang,” ucapnya.

Dirjen Linjamsos Kementerian Sosial (Kemensos) Harry Hikmat menerangkan, sebagian besar bantuan masih terkonsentrasi di titik-titik kerusakan paling parah. Apalagi, dalam situasi tanggap darurat, sebagian besar bantuan langsung ditujukan ke posko-posko besar.

“Memang banyak sekali. Tidak cuma dari Kemensos. Ada juga donatur lain,” ungkap Harry saat ditemui di sela-sela pemberian bantuan kepada korban gempa di Pidie Jaya kemarin.

Dia meminta pihak kelurahan dan kecamatan ikut terlibat aktif. Bila memang ada posko-posko kecil yang belum sepenuhnya tersentuh, mereka diminta segera melapor. 

Harry menyadari bantuan bukan cuma soal distribusi, tapi juga manajemen penyaluran. Dia meminta pemerintah kabupaten menyediakan gudang utama sehingga bantuan bisa terkumpul untuk kemudian disalurkan secara merata. 

Henny Hermanoe, ketua harian Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, saat ditemui setelah mendampingi anak-anak korban gempa di Masjid Istiqomah, Rhieng, Pidie Jaya, mengatakan, lama pemulihan bergantung kondisi ketahanan tiap-tiap anak. 

Anak-anak perlu perhatian ekstra. Pendampingan tak cukup sebatas dilakukan pada masa tanggap darurat. Dalam pendampingan saat ini, Henny menerapkan pendekatan edutainment dengan cara bermain sambil belajar.

“Kami nyanyi, berhitung, salawat, dan banyak lainnya. Atau kami ajak menggambar. Lalu kami minta dia cerita soal gambar itu. Dari situ kita bisa tahu juga soal tingkat stres atau trauma anak,” ungkap Henny. 

Sumbar Kirim Bantuan

Kemarin, Pemprov Sumatera Barat mengirimkan bantuan logistik dan uang tunai. Bantuan berasal dari Baznas Sumbar Rp100 juta dan Rp 350 juta dari Pemprov. Selain uang tunai, 895 kg rendang dan makanan siap saji.

Tim pembawa bantuan dilepas Gubernur Sumbar Irwan Prayitno di Gubernuran. Bantuan rendang inisiatif SKPD Pemprov Sumbar karena lebih praktis dibandingkan mi instan.

Palang Merah Indonesia (PMI) Sumbar juga memberi bantuan berupa 2 truk air bersih beserta operator. Tim yang diturunkan ke Aceh terdiri dari 10 petugas, yakni 6 dari personel BPBD Sumbar dan 4 orang dari PMI Sumbar.

Tim dipimpin Wakil Gubernur Nasrul Abit, Kalaksa BPBD Sumbar Nasridal Patria dan Kabid Kedaruratan dan Logistik Pagar Negara. Sebelumnya 10 tenaga kesehatan dari RSUP Dr M Djamil Padang terdiri dari dua asisten residen, empat perawat mahir, dan empat ahli ortopedi sudah diberangkatkan ke Aceh.

Pemprov juga memprioritaskan bantuan untuk sejumlah daerah yang terkena bencana di Sumbar. Di Pasaman, 260 KK terkena dampak banjir. Banjir dan longsor di Pasaman Barat dan putusnya 4 ruas jalan di  Agam.

“Untuk Agam bantuan dana tidak terduga Rp 250 juta sedang dalam proses. Secara prinsip sudah disetujui,” sebut Irwan Prayitno. (*)

 

© 2014 Padek.co