2.600 Petugas Sisir Reruntuhan


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 09 December 2016 11:26 WIB    Dibaca : 51 kali

 

Korban Meninggal 100, Puluhan Diduga Tertimbun 

Aktivitas gempa di wilayah Pidie Jaya, Aceh, mulai menurun. Di sisi lain, upaya pencarian korban semakin ditingkatkan. Tim gabungan pencari dan penyelamat (SAR) fokus menemukan kemungkinan korban tertimbun reruntuhan. 

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei mengatakan, ada beberapa reruntuhan yang harus diinvestigasi terkait klaim korban yang hilang. 

“Tim lapangan menemukan korban-korban baru. Karena itu, kami kerahkan sekitar 2.600 orang untuk mencari di beberapa titik,” kata Willem di Posko Informasi Gempa Pidie Jaya kemarin (8/12). Tempat yang dituju adalah reruntuhan di wilayah Meuredue, Ulee Glee, dan Trienggadeng. 

Data resmi dari Posko Informasi BNPB di Pidie Jaya menyebutkan korban meninggal ada 100 orang. Terdiri atas  96 warga Kabupaten Pidie Jaya, dua warga Kabupaten Bireun, dan dua warga Kabupaten Pidie. Korban luka-luka mencapai 666 orang. 

Diperkirakan masih ada puluhan warga tertimbun di ruko runtuh kawasan Meuredue. “Kita akan tetap menggali di titik yang sama karena proses evakuasi reruntuhan belum selesai. Tidak bisa buru-buru karena harus memperkirakan kira-kira korban ada di mana,” kata Kepala SAR Aceh Suyatno.

Sementara itu, kiriman bantuan terus diterbangkan menuju lokasi. Kemarin (8/12), dengan menggunakan pesawat Hercules TNI-AU dan pesawat kargo mengirim bantuan logistik dan peralatan ke Pidie Jaya.

Bantuan senilai Rp 3,5 miliar tersebut berupa tenda pengungsi 20 peti, genset 2.800 watt sebanyak 30 unit, velbed 100 unit, tenda gulung 1.000 unit, lauk-pauk, tikar, peralatan dapur, selimut dan lainnya. 

“Pada Jumat (9/12) akan diterbangkan kembali bantuan logistik dan peralatan ke Aceh melalui Halim,” tutur Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB di Jakarta, kemarin (8/12).

Seluruh bantuan tersebut guna memenuhi kebutuhan 11.142 jiwa pengungsi. Mereka tersebar di rumah-rumah saudara atau kerabatnya dan di 28 titik pos pengungsian.

Tim SAR bersama relawan telah mendirikan dapur umum, pos kesehatan, dan dukungan sanitasi. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat  telah mengerahkan 4 tangki air, 70 hidran umum, 80 MCK mobile, alat berat (loader, stonebreaker, dan eskavator) untuk membantu pemenuhan kebutuhan di pengungsian.  

“Kementerian PU juga akan melakukan audit bangunan fasilitas umum seperti sekolah dan tempat ibadah,” ungkap Sutopo. 

Guna memenuhi kebutuhan pengobatan warga terdampak, TNI mendirikan rumah sakit lapangan di Pidie Jaya. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga telah menerjunkan tim untuk melakukan koordinasi dan penilaian cepat kesehatan atau rapid health assesment (RHA). 

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek menuturkan, bantuan untuk keperluan pos kesehatan sudah dikirim melalui Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Medan. 

Bahu membahu dalam penanganan dampak bencana ini juga turut dilakukan Kementerian sosial (Kemensos). Setelah menerjunkan Tagana dan membuat dapur umum, tim trauma healing yang diturunkan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. 

Tim ditugaskan untuk mendirikan pondok anak ceria di 7 posko yang ada. “Pondok Anak Ceria dikelola para profesional yang terdiri dari psikolog, mahasiswa dan relawan yang berkonsentrasi terhadap psiko sosial dan pertumbuhan anak ditengah bencana, guna mendukung dan memahami kebutuhan anak,” paparnya. 

Di sisi lain, proses pencarian korban masih terus dilakukan meski dengan kemampuan terbatas. Ketersediaan alat berat dan jalan yang sempit dilalui alat berat jadi kendala utama. 

Tim terus berpacu waktu menyelamatkan korban. Pasalnya, ada harapan korban selamat bisa bertahan hingga 7 hari. Karenanya, tim telah memperkuat proses pencarian dengan menggunakan alat life detector. 

“Prinsip kerjanya, saat ada yang tertimpa bangunan alat kita hidupkan. maka perangkat handphone dalam radius 100 meter akan menerima pesan ‘apakah Anda masih menerima SMS ini?’ Jika pesan itu dijawab berarti orangnya masih hidup dan kami prioritaskan untuk kita lakukan pencarian,” tutur alumni Universitas Gadjah mada itu. 

Kepala BMKG Andi Eka Sakya menuturkan sudah mengirim tim ke Aceh untuk memetakan kembali patahan-patahan yang terjadi setelah gempa. Sekaligus, untuk memberikan informasi kepada masyarakat di lokasi gempa berkaitan dengan kondisi geologis pascagempa. 

Jokowi Tinjau Hari Ini

Sementara itu, Presiden Joko Widodo kemarin petang tiba di Banda Aceh usai kunjungan kerja ke Bali. Jokowi mendarat pukul 17.35 dan langsung memimpin rakor di tempat dia menginap. Presiden meminta laporan terkini mengenai kondisi darurat di Pidie Jaya dan sekitarnya.

Dalam rapat tersebut, hadir Menkes Nila Moeloek, menteri PUPR Basoeki Hadimoeljono, Seskab Pramono Anung, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Hadir pula Plt Gubernur Aceh Soedarmo.

Pagi ini, Presiden akan terbang ke Pidie Jaya menggunakan helikopter TNI. Rencananya, presiden akan memantau langsung proses evakuasi, kondisi infrastruktur, penanganan korban, dan ketersediaan bantuan logistik. Presiden juga akan menjenguk sejumlah korban selamat dalam peristiwa itu.

Karopenmas Divhumas Mabes Polri Kombespol Rikwanto menuturkan banyak warga mengungsi. Dari hitungan Polda Aceh mencapai 11.940 orang. “Mereka mengungsi di sejumlah tempat yang dirasa aman,” terangnya. Kebanyakan mengungsi di masjid dan lapangan terbuka. (*)

 

© 2014 Padek.co