Masih Banyak Tertimbun


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 08 December 2016 12:00 WIB    Dibaca : 53 kali

 

94 Meninggal, Ratusan Terluka

Bumi Serambi Mekkah kembali menangis. Kemarin (7/12), sekitar pukul 05.00, gempa 6,5 skala Richter (SR) mengguncang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Akibatnya, 94 orang meninggal, 617 orang terluka, dan ratusan bangunan rusak.

Gempa itu merupakan gempa kesepuluh di Pulau Sumatera sejak gempa 9,1 SR yang disertai tsunami pada 2004 merenggut nyawa puluhan ribu jiwa. Kondisi yang memerlukan penanganan khusus dari pemerintah. Jutaan jiwa warga di sana hidup dalam ancaman gempa.

Proses pencarian dan penyelamatan korban di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen dan Pidie masih terus dilakukan. Tim SAR gabungan masih mencari korban yang terjebak dalam reruntuhan bangunan hingga pukul 20.30. 

“Ratusan personel sudah diterjunkan. Ada dari unsur TNI 747 personel, Tagana 40, Tim Pusat Krisis Kesehatan Aceh 6 personel, BNPB, Basarnas, dan relawan. Kendalanya, adanya kekurangan alat berat,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, kemarin (7/12).

Data sementara yang dihimpun BNPB, terdapat 94 orang tewas, 1 orang hilang, 128 orang luka berat, 489 orang luka ringan dan ratusan bangunan rusak. Paling banyak menelan korban di Kabupaten Pidie Jaya. Tercatat, koban tewas 91 orang, 125 orang luka berat dan 411 Orang luka ringan. 

Di Kabupaten Bireun, dua orang tewas, 8 luka berat, 123 orang luka ringan dan 10 ribu santri terdampak. Untuk Kabupaten Pidie, dilaporkan satu orang tewas dan satu orang hilang.

“Seluruh korban meninggal dirujuk ke RSUD Pidie Jaya, RS Pidi dan RS Sigli. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah karena proses pendataan masih terus berlangsung,” ujar Sutopo. 

Selain menelan korban, gempa yang berpusat di 5.19 LU - 96.36 BT itu juga merusak bangunan. Di Pidie Jaya, 105 unit ruko roboh, 86 unit rumah rusak berat, 13 unit masjid roboh, 1 unit bangunan Indomaret roboh dan 1 unit bangunan  RSUD Pidie rusak berat. 

“Kerusakan cukup berat karena pusat gempa berada di darat. Kemudian, mekanisme gempa mendatar. Sehingga, dampaknya sangat keras. Banyak korban tertimbun bangunan. Apalagi, banyak bangunan yang tak didesain tahan gempa,” jelas alumni Universitas Gajah Mada itu. 

Sutopo menjelaskan, bangunan dengan desain tahan gempa sangat diperlukan di Indonesia. Apalagi, terdapat 386 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk 157 juta jiwa yang tinggal di daerah rawan tinggi dari bahaya gempa di Indonesia. Sayang, hingga kini jumlah rumah tahan gempa sangat minim. 

Ini dikarenakan minimnya pengetahuan warga dan mahalnya komponen membangun rumah tahan gempa. “Biaya komponennya bisa 30-50 persen lebih mahal dari biasa. Oleh sebab itu, dibutuhkan subsidi bagi mereka yang rumahnya berada di daerah rawan gempa,” paparnya.

Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menambahkan, berbagai bantuan dari pemerintah untuk penanganan di masa darurat sudah disiapkan dan sedang dikirim ke lokasi bencana gempa di Pidie Jaya dari Gudang Pusat dan Regional Kementerian Sosial di Sumatera. Total bantuan yang akan disalurkan senilai Rp 2.096.880.256. 

“Insya Allah bantuan sampai lusa, Jumat (9/12). Kementerian Sosial melalui Tagana juga sudah berada di garis depan membantu proses evakuasi. Dapur umum juga sudah didirikan,” paparnya. 

Tiap satu dupur umum mampu menyajikan hingga 1.000 porsi makanan bagi para pengungsi. Kemensos juga telah menyiapkan dana bantuan tunai bagi korban. Masing-masing Rp 15 juta untuk korban meninggal dan maksimal Rp 5 juta untuk korban luka-luka.

Gempa Susulan

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono memprediksi dua sampai tiga hari ke depan masih akan terjadi gempa susulan di sekitar pusat gempa Pidie Jaya. Dia meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh isu-isu yang menyesatkan.

“Sampai tadi malam pukul 18.11 terjadi 23 kali gempa susulan. Gempa paling akhir berkekuatan 3,5 SR,” tuturnya. Dari sisi kekuatan menunjukkan tren pelemahan. 

Daryono menuturkan, titik gempa di Pidie Jaya berada di tanah gembur. Sehingga, berdampak meningkatkan daya guncang. Dia menjelaskan, gempa di Pidie Jaya pagi kemarin, sama dengan kejadian gempa bumi di Yogyakarta pada 2006 lalu.

Saat itu gempa mengguncang Yogyakarta dengan kekuatan 6,4 SR dengan pusat gempa di kedalaman 11 km. “Pusatnya sama-sama di daratan,” jelasnya. Namun dengan kepadatangan pemukiman di Yogyakarta, saat itu gempa memakan korban hingga enam ribu orang lebih.

Presiden ke Aceh

Menyikapi gempa Aceh, Presiden Joko Widodo memerintahkan Kepala Staf Kepresidenan turun langsung ke lokasi. “Seluruh aparat sudah bergerak sesuai otoritas masing-masing di bawah komando BNPB,” ujar Jokowi di Istana Negara kemarin.

Semalam, dalam acara sosialisasi tax amnesty di Nusa Dua, Bali, Presiden Jokowi mengajak ribuan undangan berdoa bersama. Dia memimpin langsung prosesi doa di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) itu. 

Mengenai rencana keberangkatan, Presiden menyatakan masih dalam persiapan. “Saya tidak ingin malah mengganggu proses evakuasi yang ada,” tambahnya.

Wapres Jusuf Kalla menyampaikan hal senada. Pemerintah akan membantu upaya pemulihan pascagempa. Mengenai level bencana, JK tidak ambil pusing. Yang penting semua pihak terkait segera menangani bencana tersebut.

JK berencana ke lokasi gempa, namun tidak dalam waktu dekat. “Saya sudah rencanakan, tapi presiden mungkin besok ke sana (Pidie Jaya) dari Bali,” tambahnya. Sesuai aturan, presiden dan wapres tidak boleh hadir bersamaan saat kunjungan kerja ke daerah.

Saat gempa, Bupati Pidie Jaya Aiyub Ben Abbas dan Plt Gubernur Aceh Soedarmo sedang berada di Jakarta. Keduanya hadir dalam penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2017 dan Anugerah Dana Rakca di Istana Negara. Saat dikonfirmasi, Aiyub menyatakan, seluruh kawasan di Kabupaten Pidie Jaya terkena imbas. 

Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah menginstrusikan Kapolda Aceh membantu korban gempa secara maksimal.”Segera turun all out,” tegasnya dalam keterangan tertulisnya kemarin.

“Gunakan semua fasilitas Polri untuk melayani masyarakat Aceh,” ujar mantan Komandan Densus 88 Anti Teror tersebut. Karopenmas Divhumas Mabes Polri Kombespol Rikwanto menjelaskan, Polda dan Polres dikerahkan satu per satu mengecek setiap rumah yang roboh. Ada 500 personel Polri dikerahkan. 

Direktur Eksekutif Disaster Victim Indonesia (DVI) Polri Kombespol Anton Castilani mengatakan, hingga pukul 18.00 telah ditemukan 62 jenazah. 

Tetapkan Masa Darurat 14 Hari 

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Soedarmo resmi menetapkan status bencana gempa Pidie Jaya sebagai darurat provinsi. Keputusan itu diambil lantaran banyaknya korban jiwa serta kerusakan yang ditimbulkan. Gempa berdampak di tiga kabupaten, yakni Pidie Jaya, Bireun, dan Pidie.

Status darurat tersebut diputuskan dalam rapat bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh. Para peserta rapat memutuskan menetapkan penanganan darurat selama 14 hari. Gempa yang mengguncang tiga kabupaten itu berpotensi menyebabkan gangguan fungsi layanan umum. 

“Kami berharap masyarakat yang tinggal di kawasan bencana dan seluruh masyarakat Aceh pada umumnya untuk tidak panik dan tetap waspada,” kata Soedarmo. 

Pemerintah Aceh telah mengirimkan beragam bantuan kepada para korban. Hal tersebut melibatkan semua unsur seperti dinas kesehatan, sosial, cipta karya, dan bina marga.

Gubernur juga memerintahkan pembangunan dapur umum dan tenda penampungan di lokasi terdekat dengan warga. “Kami juga meminta untuk segera mengirimkan dokter bedah untuk memeriksa korban,” katanya. 

Rakyat Aceh (Grup Padang Ekspres) melaporkan, gempa di Pidie Jaya juga dirasakan hingga ke Pulau Simeulue. BPBD Simeulue meminta warga tetap waspada.

“Meskipun sempat dirasakan dan tidak ada dampaknya terhadap Simeulue, kami minta seluruh warga tetap waspada dengan gempa susulan,” kata Kepala BPBD Simeulue Ikhsan Mikaris.

Antisipasi juga dilakukan pihak RSUD. “Kami tingkatkan status menjadi siaga. Seluruh dokter tidak boleh lengah. Stok obat-obatan harus tersedia,” kata Dirut RSUD Simeulue Irwansyah. (*)

© 2014 Padek.co