Malu jadi Orang Baik


Wartawan : Nashrian Bahzein - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 04 December 2016 09:44 WIB    Dibaca : 61 kali

 

Pada suatu hari, seorang aparatur negeri sipil tidak menyangka dirinya bisa menempati posisi puncak di sebuah instansi. Dia sering bercerita betapa keruhnya kolam kaderisasi dan manajemen di instansi tempat dia mengabdi hampir puluhan tahun lamanya. Profesionalitas kerja dan merit system hanya celotehan elite-elite instansi setiap apel dan pidato seremoni.

Lagian, sebagai pamong, dalam benaknya setiap berangkat kerja, bagaimana bisa bekerja lebih baik dan bermanfaat untuk masyarakat. Melihat sepak terjangnya, dia termasuk pegawai yang lurus. Bukan tipe anak buah yang asal bapak senang. Yang bekerja untuk dipuji, dan mendaku diri hebat ke mana-mana. 

Pegawai itu punya idealisme. Begitu mendapat promosi sebagai salah satu kepala dinas, ekspresinya datar. Sesekali terlintas juga di benaknya, ternyata bisa juga orang lurus memimpin instansi yang sarat tikungan tajam.   

Sebagai seorang pegawai yang meniti karir dari bawah, dia tahu persis silang sengkarut dan karut-marut instansi dan wajah kotanya. Setiap hari dia melihat masalah transportasi di kotanya semakin hari semakin runyam. Saban hari berangkat dan pulang kantor, dia menyaksikan jalanan yang macet, mobil yang parkir sembarangan, becak motor yang dikemudikan tanpa aturan, rambu lalu lintas yang dilabrak seenaknya, angkot yang ugal-ugalan dikemudi sopir hoyak.

Dalam setiap perjalanan ke kantornya, dia menyaksikan minimnya halte untuk berteduh bagi calon penumpang angkutan umum. Dia amat sangat tahu betapa sebagian besar angkutan umum di kotanya tidak laik jalan. Bodinya yang reyot berderik-derik, asap tebal mengepul dari knalpot, bunyi rem yang berdecit-decit, kaca spion yang pecah, lampu yang celek. Duh, pokoknya banyak sekali pekerjaan rumah yang harus diselesaikan begitu menjabat kepala dinas nantinya.

Dia juga bercerita betapa tingginya kriminalitas di atas angkutan umum. Perilaku sopir hoyak angkutan umum yang seolah pasukan berani mati karena saking ngebutnya. Mulai dari melanggar lampu merah hingga ngetem di rambu larangan parkir, sudah menjadi pemandangan lumrah. 

Selama ini dia merasa tidak berdaya menuntaskan seabrek masalah itu. Sebagai kepala dinas yang baru, dia merasa bertanggung jawab dan ingin berbuat sesuatu untuk mengatasi persoalan tersebut. Si aparatur itu ingin berbuat sesuatu untuk mengatasi masalah kotanya yang menjadi tugas dan fungsi instansinya.  

Kini, si pegawai telah memiliki power untuk membenahi centang perenang manajemen kantornya. Bila sebelumnya hanya bisa curhat dan mengeluh, di pundaknya bertengger amanah rakyat untuk memberesi karut marut perhubungan di kotanya. Tidak lagi  membiarkan nyawa melayang sia-sia akibat ulah pengguna jalan raya yang tidak disiplin.

Rakyat percaya bahwa dia mampu mengatur kemacetan dan kesemrawutan jalan raya yang makin hari makin runyam. Rakyat setiap tahun memberikan anggaran yang besar dari pajak untuk dia dan instansinya. Kantornya tacelak di tengah permukiman kota yang kadang tidak beraturan. Mobil dinasnya keluaran terbaru dan mengkilap karena selalu dibersihkan sopir pribadi.

Penampilan mereka benar-benar gagah dan berwibawa dengan seragam dinas yang dikenakannya. Jauh berbeda dengan baju kumal rakyat yang telah membayari mereka untuk bekerja. Gaji mereka lumayan tinggi ketimbang gaji ribuan buruh di kotanya yang setiap bulan dipotong pajak penghasilan untuk kas dinasnya.      

Ruangan kantornya selalu adem, wangi dan bersih. Anak buahnya kapan pun bisa diperintah untuk mengerjakan apa pun, bahkan untuk urusan pribadi sekalipun. Dia menyadari segala kemewahan yang diberikan rakyat kepada dirinya dan dinasnya, harus dibayar dengan program kerjanya yang bermanfaat untuk rakyat. 

Dalam hatinya, kepala dinas yang baru itu bertekad harus berbuat sesuatu. Dia sadar betul rakyat telah begitu baik kepadanya dan instansinya. Nuraninya tidak rela jika dalam masa jabatannya, rakyat tetap saja menderita di jalanan. Membiarkan penumpang badampuang di atas angkutan umum yang rongsokan, kumuh dan ugal-ugalan. 

Dia tidak sampai hati bila rakyat yang telah setia membayar pajak kendaraan selalu dibayangi kecelakaan lantaran kekacauan lalu lintas di jalan raya yang tak kunjung bersolek. “Rakyat harus mendapatkan hak setelah mereka memberikan dana, jabatan, kekuasaan dan kepercayaan kepadanya,” gumam pejabat itu. 

Dia ingin rakyat harus mendapatkan kenyamanan, sebagaimana mereka telah memberikan berbagai macam kemewahan padanya. Di akhir ceritanya, kepala dinas yang baru itu sangat ingin berprestasi sesuai harapan warga kotanya. Pegawai pekerja keras yang kini menjadi kepala dinas itu, merenung. Semangatnya menggebu-gebu. Tapi, ah, sang pejabat baru itu tidak tahu bagaimana dan dari mana harus memulai.     

***

Curhatan “pegawai yang lurus-lurus” itu jamak terjadi di setiap instansi. Beberapa teman yang dulunya memiliki idealisme dalam bekerja sebagai pamong, tak jarang layu sebelum berkembang. Masih hebat kisah pegawai yang diceritakan di atas, bertahan dengan idealismenya hingga menjadi kepala dinas.   

Atasan yang keras menegakkan aturan dan disiplin, biasanya menjadi musuh bersama. Tengok saja sekarang, sejak celah kongkalikong dan patgulipat diperketat, muncul atmosfer perlawanan diam-diam birokrat dengan melambatkan kinerja. Hehe, alasannya takut dikriminalisasi.

Pimpinan instansi yang keras terhadap pegawai pemalas, pungli, apalagi korupsi, cerita teman saya itu, lazim dicap embel-embel miring. Diisukan macam-macamlah. Setahun dua tahun semangat ingin melakukan perubahan menggelora. Setelah itu, kembali seperti sediakala. Syukur-syukur bila pimpinan yang baik tadi tidak dikriminalisasi anak buah setelah tidak lagi menjabat.

Setali tiga uang di legislatif. Di awal mendapat predikat anggota dewan yang terhormat, niatnya ingin mengubah citra jelek legislator di mata rakyat. Ingin efisiensi, aspiratif, akuntabel. Setelah itu, justru yang pertama menandatangani uang perjalanan berkedok kunjungan kerja. Daripada dicap sok orang baik, biarlah ikutan tidak baik. Malu jadi orang baik. Aneh, bukan? Itulah Indonesiaku. (*)

© 2014 Padek.co