Azwar, Tonganai (Kapten) Kapal Tonda di Muaro Padang


Wartawan : Syawaluddin - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 04 December 2016 09:17 WIB    Dibaca : 71 kali

 

Hampir Tenggelam di Laut, Hingga Terdampar di Pulau

Berpuluh tahun mengarungi samudera luas tak membuat nyalinya ciut. Diterjang ganasnya gelombang serta badai, sudah menjadi “makanan” sehari-hari bagi Azwar saat menjadi tonganai (kapten) kapal tonda. Itulah hidup yang dijalani warga Kelurahan Batang Arau, Kecamatan Padang Selatan ini demi menafkahi keluarganya.

Tidak ada pilihan hidup lain mengantarkan Azwar, 55, menjadi nelayan. Sebelum menjadi nelayan dirinya pernah menjadi koki di kapal dagang tujuan ke Mentawai.

“Saya lahir di Medan merantau ke Padang sekitar tahun 1978, kemudian menjadi nelayan kapal tonda,” katanya saat Padang Ekspres menyambangi rumahnya di RT 01, RW 03 Kelurahan Batang Arau Kecamatan Padang Selatan, kemarin.

Anak ke enam dari sembilan bersaudara ini mengaku, sebelumnya dia tinggal di Medan, namun karena ingin mencari kehidupan baru dirinya merantau ke Padang.

“Rencana merantau ke Jakarta, tetapi saran dari orang tua  akhirnya diputuskan merantau ke Padang, karena di Padang masih ada saudara,” ujarnya saat sedang ngaso (istirahat) di kedai depan rumahnya.

Sebulan di Padang, dirinya ingin bekerja di kapal ikan atau kapal tonda. Namun, untuk menghilangkan rasa mabuk laut, ia terlebih dahulu mencoba bekerja di kapal dagang tujuan ke Mentawai. Di kapal tersebut, ia bekerja sekitar tiga bulan sebagai koki dengan gaji Rp 12 ribu per bulan.

Sembari menghisap rokok kreteknya dalam-dalam, bapak dua anak ini mengatakan setelah berhenti bekerja di kapal dagang tersebut, kakak sepupunya yang kebetulan menjadi tonganai (kapten) kapal tonda mengajak dirinya untuk bekerja di kapal tersebut. Kapal tonda tersebut bernama “Baracuang.”

“Lima tahun saya berlayar dengan kapal tonda itu hingga kapal tersebut tidak layak untuk berlayar lagi,” ceritanya. Di kapal tersebut dirinya banyak belajar tentang cara menangkap ikan dengan kapal tonda. Dirinya juga belajar bagaimana cara mengemudikan kapal tonda tersebut.

Lelaki yang akrab disapa Bang War oleh warga di sekitar tempat tinggalnya mengatakan, setelah dirinya berhenti di kapal tonda Baracuang, ia kemudian bekerja di kapal tonda Sinar Baru Dua sekitar tahun 1989. “Di kapal tersebut  kami ada sekitar 5 orang dan saya sebagai tonganainya,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, badai dan gelombang sudah menjadi teman sehari-hari bagi nelayan terutama nelayan kapal tonda. Karena kalau kapal tonda sudah di tengah laut, pelabuhan sudah tidak dianggap ada, sehingga kalau badai menerjang terpaksa pasrah saja mengikuti alur laut kemana dibawa kapal tersebut.

Ia menceritakan pernah sewaktu melaut tiba-tiba di tengah laut badai menghantam kapal sehingga mesin rusak. Beruntung ada anak buah kapal yang berasal dari Mentawai dan bisa memasang layar.

“Kebetulan ada terpal yang biasa digunakan untuk menutup palka, terpal itulah yang digunakan sementara untuk layar sehingga kapal bisa berlayar lagi hingga sampai ke Mentawai,” kenangnya.

Saat itu, angin yang berhembus adalah angin Barat, sehingga dirinya bersama empat orang kawannya sampai ke tepi di daerah Mentawai tepatnya di kampung kecil yang bernama Ngeong. “Di Ngeong tersebut tidak ada angin lagi sehingga kami bisa lego jangkar dan memperbaiki mesin kapal,” terangnya.

Selain itu dirinya juga pernah terdampar di sebuah pulau selama satu minggu, karena lambung kapal tondanya pecah akibat menghantam karang. “Saya bersama empat orang kawan terdampar di pulau Bindalang, jarak pulau tersebut  dari Muaro Padang tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit,” katanya.

Saat itu dirinya bersama kawan-kawan kru kapal berusaha mengeluarkan kapal yang tersangkut oleh karang.

“Saat pasang naik kami coba untuk menarik kapal tersebut dengan bantuan kapal tonda yang lewat di kawasan itu, namun karena kapal tenggelam terlalu dalam kondisi parah sehingga tidak mungkin lagi ditarik dan akhirnya hanya mesin kapal saja yang bisa dibawa ke darat. Sementara bangkai kapal dibiarkan saja di pulau tersebut,” tuturnya.  

Dia menjelaskan satu unit kapal tonda diawaki empat sampai lima orang. Dengan satu orang tonganai (kapten), empat orang anak buah kapal (ABK),” katanya.
Di laut memang banyak terjadi kejadian-kejadian atau peristiwa, seperti pernah juga kawannya hilang di laut pada tahun 70-an.

Di atas kapal tersebut pamannya juga ada, sehingga sampai saat ini kru dan kapalnya tidak pernah ditemukan baik kapal maupun jasadnya. “Atas peristiwa tersebut terciptalah lagu Minang yang berjudul Kapa Baracuang yang pernah dipopulerkan oleh Alm. Yan Juned di awal tahun 80-an,” terangnya.

Selain dihantam badai, pengalaman lainnya kapal juga pernah kehabisan minyak di tengah laut, tepatnya di belakang pulau Siberut, sehingga kapal terpaksa ditarik ke pulau Siberut dengan jarak tempuh tiga jam.

“Saat badai datang selain berserah diri, biasanya yang dijaga talang jerigen minyak jangan sampai patah, jika talang tersebut patah akan bisa membalikkan kapal,” katanya.

Suami Rosmaini ini mengaku, dirinya pernah hampir tenggelam di tengah laut saat berlayar menggunakan kapal bantuan dari Dinas Perikanan. “Satu kapal diperuntukan untuk lima orang. Saat digunakan ternyata kapal itu banyak yang bocor sehingga mesin terendam oleh air laut,” tuturnya.

Kapal tersebut mengalami kebocoran sekitar 1400 mil, di belakang Kepulauan Mentawai. Untuk mengeluarkan air dari kapal terpaksa dilakukan dengan cara manual karena pompa juga tidak berfungsi. Beruntung karena kapal masih baru, saat dihidupkan mesin kapal langsung menyala.

“Dengan sudah payah akhirnya sampai di Padang dan kapal tersebut dikembalikan saja ke Dinas Perikanan karena kondisinya tidak layak untuk berlayar,” jelasnya.

Karena ingin dekat dengan keluarga, sekitar tahun 2007 dia memutuskan beralih menggunakan perahu kecil untuk menangkap ikan. Alasannya beralih menjadi nelayan perahu kecil karena bisa pulang setiap hari, sementara kalau kapal tonda pulang hanya bisa 20 sampai 25 hari sekali.

Kalau menggunakan perahu pergi melaut hanya sendiri saja, berangkat pukul 17.00  dan kembali pukul 21.00. Setelah itu, pagi berangkat lagi dari pukul 04.30 dan kembali pukul 09.00. Sementara kalau kapal tonda berlayar di laut mencari ikan bisa menghabiskan waktu 20 sampai 25 hari.

“Saya pernah berlayar menggunakan kapal tonda ke Sabang Provinsi Aceh, sementara untuk arah hilirnya sampai ke pulau Enggano,” katanya.

Ia melanjutkan, dalam menentukan bagus tidaknya cuaca, nelayan biasanya berpedoman kepada bintang seperti ada namanya bintang toran, bintang kuning, bintang kala. Apabila bintang tersebut hampir berdekatan dengan bulan, jika bintang tersebut memasuki bayangan bulan maka itu menandakan akan terjadi badai di laut.

Pernah saat sedang asiknya berlayar sembari menangkap ikan, tiba-tiba badai datang sehingga untuk memasak saja tidak bisa karena tempat peralatan masak sudah berantakan dan ada juga yang hanyut dibawa arus laut akibat dihempas badai tersebut.

“Kalau menggunakan kapal tonda jika ada badai harus dihadang, kalau menepi ke pulau nanti akan tersangkut di karang karena ukuran kapal tonda beda dengan ukuran perahu. Sementara kalau menggunakan perahu jika badai bisa menepi ke pulau terdekat untuk sementara seperti pulau Pisang,” katanya.

Ia meneruskan, satu kali melaut dengan menggunakan perahu paling modal bekal hanya Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu. Uang tersebut digunakan untuk membeli kopi, minyak dan rokok.

Sedangkan untuk kapal tonda dalam satu trip atau satu kali melaut membutuhkan biaya sebesar Rp 13 juta. Uang tersebut digunakan untuk membeli bekal bahan bakar yang digunakan selama 20 sampai 25 hari di laut.

“Satu kali berlayar dengan kapal tonda dapat membawa 700 ekor ikan tongkol dan ikan sisik, dan tergantung musim ikannya juga,” ungkapnya.

Selain ikan tongkol juga mencari ikan hiu yang gunanya untuk diambil minyaknya. “Saat mencari hiu, saya pernah sampai ke daerah Lampung, selat Sunda yaitu di kawasan Krakatau,” imbuhnya.

Di kapal tonda untuk membagi hasil tangkapan sistemnya dikeluarkan dulu bekal atau modal awal untuk berlayar. Sisanya akan dibagi sama rata dengan kru kapal tersebut.

Pria yang juga sebagai ketua RT 05, RW, 3 Kelurahan Batang Arau Kecamatan Padang Selatan ini melanjutkan, sebagai tonganai, harus mengetahui kondisi pulau yang akan dimasuki.

Maksudnya, tonganai harus mengetahui mana yang ada karang dan mana yang tidak. Terutama saat memasuki kawasan pulau atau pelabuhan pada malam hari.

Namun ada juga tonganai sebatas membawa kapal saja sehingga mereka tidak tahu daerah yang memiliki karang dan tidak. Tapi akibatnya kapal akan bisa menghantam karang.

Cara menentukan mana pulau yang banyak karangnya, bisa berpedoman kepada cahaya lampu penduduk di sisi pulau tersebut dan lampu suar atau rambu suar.

Namun sekarang teknologi sudah maju, nelayan kapal tonda juga telah menggunakan GPS untuk menentukan dan mengetahui posisi mereka. “Kapal kami yang pertama kali menggunakan GPS  di antara nelayan Batang Arau. GPS ini juga berguna untuk mencari ikan karang,” tuturnya.

Untuk menentukan banyak ikan tergantung angin. Biasanya kalau angin Barat, ikan banyak berkumpul di tengah laut. Rata-rata kepandaian tonganai berdasarkan pengalaman saja dan jam terbang melautnya.

Pernah salah seorang pegawai Dinas Perikanan terheran-heran melihat kepandaian para tonganai ini untuk membaca cuaca dan kondisi laut tanpa menggunakan peta.

“Saya berlayar tidak menggunakan peta tetapi hanya mengunakan kompas,” katanya yang mengaku tidak pernah menyaksikan istrinya melahirkan kedua buah hatinya karena masih berlayar di laut.    

Dia juga mengaku pernah tiga kali merayakan Lebaran di laut saat bekerja sebagai tonganai, kalau pulang hasil tidak ada, sehingga malu untuk kembali ke darat. “Kami lalu singgah di pulau untuk Shalat Ied,” katanya.

Laut dijuluki lautan sati rantau batuah memang ada benarnya, ia mengaku pernah mengalami hal mistis saat bersama kawan-kawan akan kembali ke Padang. Saat  di tengah perjalanan, dia melihat ada kapal di depannya tetapi cahaya lampunya tidak membayang ke laut. 

Kata orang tua-tua itu adalah penghuni laut. Supaya penghuni itu pergi dari hadapan kapal, biasanya nelayan membuka celananya dan menunggingkan pantatnya ke arah kapal tersebut sehingga kapal itu hilang.

“Kalau kita tidak tahu tentu kita akan mengiringi kapal tersebut, tahu-tahunya kita sudah kandas atau tersesat di tengah laut,” kenangnya. Ia pernah tersesat karena mengiringi  kapal penghuni laut, sudah 14 jam berputar-putar kapalnya tidak juga menemukan daratan. Lalu akhirnya sampai di belakang Sikakap. 

Saat mengisahkan perjalanan hidupnya, ia sempat mengungkapkan kekecewaannya karena masih ada nelayan yang berasal dari luar Sumatera Barat menggunakan pukat harimau dan bom ikan untuk mendapatkan ikan.

Padalah perbuatan mereka dapat merusak ekosistem laut. “Biasanya nelayan yang berasal dari Thailand dan Malaysia menggunakan bom ikan, tetapi pemerintah tidak tegas menindaknya, sementara kapal tonda sering dirazianya,” keluhnya.

Ia menuturkan, masih akan terus melaut kendati anak-anaknya telah berhasil kelak. Tetapi hanya sekitar muara saja untuk mencari kepiting agar bisa membeli rokok. Kalau menggunakan perahu paling jauh mungkin hanya 30 mil.

“Anak saya dua orang. Paling besar sedang kuliah di Universitas Bung Hatta Fakultas Perikanan, sementara adiknya masih duduk di bangku SMP,” ungkapnya.

Dia berharap semoga kedua buah hatinya menjadi orang yang berhasil dan bisa mambangkik batang tarandam. “Biarlah susah-susah saat ini, mudah-mudahan anak saya berhasil meraih cita-citanya,” tutupnya. (*)

© 2014 Padek.co