Roni Saputra, Pasukan Biru di BPBD-PK Kota Padang


Wartawan : Syawaluddin - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 27 November 2016 11:06 WIB    Dibaca : 30 kali

 

Dikomplen Anak, Dijahili Penelepon Gelap

Bekerja dengan resiko tinggi dan kadang bertaruh nyawa menjadi keseharian para petugas pemadam kebakaran (damkar). Tak terkecuali Roni Saputra, salah seorang anggota damkar Badan Penanggulangan Bencana Daerah-Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Kota Padang ini. 

“Pantang Pulang Sebelum Padam.” Itulah semboyan yang selalu menjadi pemicu semangat para personil pemadam kebakaran dalam melaksanakan tugasnya.

Pagi itu, Jumat (25/11) Padang Ekspres menyambangi Mako BPBD-PK di Jalan Rasuna Said. Sejumlah petugas terlihat berjaga-jaga dan standby (siaga) untuk menunggu perintah.

Di kejauhan terlihat sosok pria berperawakan tegap mendekati Padang Ekspres, pria tersebut tersenyum dan mengulurkan tangannya dengan penuh persahabatan.

Dialah Roni Saputra salah seorang personil  BPBD-PK Kota Padang  yang bertugas sebagai Nozzle Man atau penyerang dan juga sebagai penyelamat korban kebakaran. 

Pria berambut cepak itu menuturkan, ada kisah dibalik bergabungnya dia menjadi bagian pasukan biru di  Dinas Damkar. Tepatnya, pada tahun 2004 bulan November,  berawal dari musibah yang menimpa saudaranya yang berkerja sebagai petugas damkar.

Di mana pada saat itu terjadi kebakaran di Perumnas Belimbing, yang menyebabkan adanya salah satu armada pemadam kebakaran terbalik dan menyebabkan kakaknya meninggal dunia.

“Saat itu, armada damkar yang akan memadamkan kebarakan di Perumahan Belimbing terbalik di Jalan Raya Belimbing pada pukul 10.00. Akibat kecelakaan itu kakak saya bernama Zulkirwan meninggal dunia. Umurnya baru 26 tahun,” kenangnya suami Yeni ini.

Setelah kejadian tersebut diambilah kebijakan oleh wali kota Padang saat itu Fauzi Bahar untuk menggantikan posisi kakaknya di damkar.

“Dari pihak keluarga saya yang ditunjuk untuk menggantikan almarhum kakak saya, karena kejadian tersebut merupakan kecelakan kerja makanya pak wali kota meminta salah seorang dari keluarga untuk menggantikan posisi almarhum di damkar,” kata anak keempat dari enam bersaudara ini.

Lalu dia pun bergabung di bulan November 2004 dengan status honorer, karena kakaknya saat itu juga masih honorer. Kemudian di tahun 2010 baru dirinya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Pada awal bergabung ada rasa semangat yang tinggi karena pekerjaannya menolong masyarakat yang mendapat musibah kebakaran. “Awalnya saya memang agak terasa canggung, tetapi saya terus bertanya kepada senior bagaimana menanggulangi situasi di dalam kebakaran,” ujarnya.

Kebakaran yang pertama dia padamkan saat kebakaran adalah di BNI. “Saat pertama turun memang agak kaku, tetapi yang penting terus belajar dan jangan malu bertanya,” tuturnya.

Sementara itu istrinya juga sempat cemas tentang profesi suaminya di mana bahaya selalu mengancam saat bertugas. Namun setelah diberi pengertian barulah sang istri menerimanya.

“Pada awalnya istri saya memang agak cemas tentang profesi suaminya sebagai petugas pemadam kebakaran, karena resiko kecelakaan kerjanya tinggi. Namun saya selalu mengatakan kepadanya agar selalu berserah diri kepada Tuhan, dan saya pun menjalani pekerjaan ini dengan baik dan ikhlas, pokoknya bekerja sesuai dengan aturan atau dengan protap yang ada,” jelasnya.    

Alumni D3 Universitas Negeri Padang (UNP) tahun 2004 jurusan Elekronika Komputer ini mengatakan, bertugas sebagai pemadam kebakaran dengan bermacam jenis kebakaran tentu ada suka dukanya.

Salah satunya ketika terjadi kebakaran besar di Pasar Raya Padang tepatnya di depan Matahari di Jalan M Yamin, tahun 2011, saat itu terlihat pemilik toko banyak yang panik, dan mereka menerobos tokonya yang terbakar untuk menyelamatkan harta bendanya, sehingga menggangu petugas kebakaran untuk memadamkan api.

“Saat itu memang kondisi sulit, karena pemilik toko ada yang nekat menyelamatkan harta benda mereka, padahal api besar, kami berusaha memberikan pengertian kepada mereka, tapi mereka tetap nekat juga. Ya, kita tetap jalani sesuai dengan protap dan prosedur yang ada,” kata bapak dua orang anak ini.

Dia menjelaskan, sistem kerja di damkar ini jika ada laporan dari warga melalui telepon bahwa ada terjadi kebakaran di suatu tempat, kemudian petugas yang piket akan kroscek ulang untuk memastikan dimana lokasi kebakaran tersebut.

Setelah informasi tersebut dipastikan benar, salah seorang petugas piket membunyikan lonceng kemudian seluruh petugas piket meluncur ke lokasi. Sementara untuk di Mako  harus ada satu orang petugas yang standby untuk operator radio.

Selain itu petugas atau personil yang tinggal di asrama juga ikut membantu, termasuk yang tinggal di luar asrama karena mereka punya HT, sehingga bisa memonitor melalui HT tersebut.

Selama bertugas di BPBD-PK juga ada penelepon-penelepon iseng yang menelpon memberi tahu ada kebakaran, saat tiba di lokasi ternyata kebakaran tersebut tidak ada.

“Kita selalu kroscek, saat ditelepon balik mereka tidak menjawab, karena kami takut nanti kebobolan, langsung meluncur kelapangan ternyata tidak ada kebakaran,” kenangnya.

Dia mengaku tinggal di asrama kebakaran selalu siaga 24 jam baik dalam keadaan piket mapun tidak, disiagakan di asrama. “Kapan pun kebakaran terjadi, kita selalu siap,” tutur pria yang menamatkan S1-nya di STMIK Jaya Nusa jurusan Sistim Informasi tahun 2014 ini.

Anak-anaknya juga pernah komplen kepada dirinya, terutama anaknya yang paling tua, dimana saat sudah  berjanji pergi bermain, namun tiba-tiba ada kebakaran, sehingga janji pergi bersama dengan mereka terpaksa dibatalkan.

“Anak saya yang pertama umur lima tahun, dia pernah komplen karena telah terlanjur janji, namun setelah diberikan pengertian akhirnya dia juga mengerti,” ungkapnya.

Dia mengaku saat menjalankan tugas juga nyaris tertimpa reruntuhan sisa kayu bangunan yang terbakar. Kalau terkena api sudah biasa, namun itu adalah resiko kerja sebagai pemadam, sehingga dituntut untuk lebih hati-hati. “Yang paling membahagiakan itu ketika kita berhasil memadamkan api tanpa ada korban jiwa,” ucapnya.

Tapi ia juga menyesalkan masyarakat saat terjadi kebakaran selalu berbondong kelokasi sehingga menggangu petugas dalam bertugas. Selain itu di komplek-komplek akses jalan yang kecil juga menghambat armada untuk masuk ke titik lokasi.

“Saya berharap kepada masyarakat jika terjadi kebakaran tolong bantu akses jalan sehingga pekerjaan untuk memadamkan api juga lancar,” imbaunya.

Ia melanjutkan di BPBD-PK ada dua pos yaitu pos utama di jalan Rasuna Said dan satu lagi di bekas kantor Camat Kuranji. Jumlah personil yang tinggal di pos utama sebanyak 43 personil, kontrak sebanyak 9 orang dan ditambah relawan sekitar 7 orang. 

Dalam satu hari dibagi dua shift, yaitu shift pagi dari pukul 07.30 sampai pukul 19.30 dan shift malam dari 19.30 sampai pukul 07.30. “Satu shift terdiri dari 14 orang,” katanya.

BPBD-PK tidak hanya memadamkan kebakaran saja tetapi juga membantu korban banjir, pohon tumbang, orang hilang. “Itu juga menjadi tugas kita selain memadam kebakaran,” tuturnya.

Selain di hari biasa, katanya, saat lebaran petugas juga tetap standby. Kendati begitu, di luar jam piket diberikan kesempatan untuk pergi berlebaran. “Namanya tugas, kadang sudah siap-siap mau pergi Lebaran ternyata ada kebakaran terpaksa acara Lebarannya ditunda dulu,” katanya.

Ia menyebutkan, tingginya kasus kebakaran akhir-akhir ini, perlu menjadi perhatian serius bagi masyarakat. Hal-hal yang menjadi penyebab atau pemicu terjadinya kebarakan perlu diantisipasi sejak dini. 

“Dari laporan yang kita terima, sebagian besar penyebab kebakaran umumnya diakibatkan dari arus pendek ditambah kelalaian masyarakat,” sebutnya.

Karena itu, dia menyarankan sebelum meninggalkan rumah, masyarakat harus memastikan terlebih dahulu kondisi rumahnya. Jangan lupa periksa peralatan listrik dengan mencabut stop kontak, periksa kembali kompor, dan peralatan listrik lainnya.

“Jika terjadi kebakaran segera laporkan ke posko damkar. Semua petugas kita selalu standby, sehingga meluasnya kebakaran dapat ditanggulangi sedini mungkin,” pesannya. (*)

© 2014 Padek.co