Kunjungan Wisatawan Naik 20 Persen


Wartawan : Mona Triana - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 26 October 2016 12:01 WIB    Dibaca : 33 kali

 

Wisata Halal Bikin Sumbar Naik Kelas    

Perkembangan pariwisata di Sumbar dari tahun ke tahun semakin meningkat. Apalagi setelah Sumbar memperoleh predikat wisata halal oleh Kementerian Pariwisata, sehingga membuat citra pariwisata Sumbar makin menasional.

Pelaku wisata yang juga pemilik Tour & Travel Amanah, Joni Mardianto mengaku, sejak Sumbar ditetapkan sebagai pemenang wisata halal tingkat nasional sangat berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan ke Sumbar.

Khusus pada tour & travel-nya terjadi peningkatan sebesar 12 persen dari tahun sebelumnya. Kebanyakan para wisatawan datang mengunjungi tempat wisata seperti pulau. 

Beberapa waktu lalu, ia membawa 300 wisatawan dari Jambi. Selain dari Jambi wisatawan lokal yang mengunjungi Sumbar kebanyakan datang dari Jakarta, Pekanbaru dan Surabaya.

Joni mengaku saat ini, wisatawan mancanegara (wisman) belum terlalu nampak geliatnya, meskipun pemerintah sudah mengeluarkan peraturan bebas visa kepada 124 negara.

Hal tersebut tidak terlepas dari kendala, penerbangan yang ada di Padang hanya ke Malaysia saja. Sehingga untuk wisman kebanyakan berasal dari Malaysia. Mereka biasanya mengunjungi Bukittinggi, Padang dan Batusangkar. 

Saat ini pun untuk kunjungan wisatawan dari Malaysia ke Sumbar diakui Joni mengalami penurunan, karena jenuh dengan objek yang sama. Karena itu, biro perjalanan harus menyediakan objek wisata yang menarik, seperti saat ini sudah ada destinasi dan paket wisata baru ke Mandeh.

Tujuan wisata tidak hanya fokus ke Bukittinggi saja, tetapi juga sudah masuk wisata alam, seperti ke perkebunan strawberry, makan bajamba di Batusangkar dan mengunjungi Desa Pariangan yang lagi booming menjadi desa terindah di dunia.

“Untuk destinasi-destinasi baru tersebut butuh waktu untuk promosinya,” terang Joni. Selain itu, kendala lainnya ada pada tingkat kunjungan wisman yang kebanyakan langsung ke Mentawai.

“Rata-rata wisman yang ada di Sumbar hanyalah wisman backpacker (pelancong). Kebanyakan mereka ke Mentawai untuk surfing. Wisman tersebut ke Padang hanya sebatas persinggahan sebelum ke Mentawai,” jelasnya. 

Melihat fenomena ini, sebut Joni, seharusnya ada koordinasi dengan agen wisata di Sumbar agar para wisman tidak hanya mengunjungi Mentawai saja tapi juga daerah lainnya di Sumbar. 

Sementara itu, Ketua Asita Sumbar, Ian Hanafiah juga mengaku efek wisata halal yang disandang Sumbar, membuat citra pariwisata Sumbar naik kelas.

“Wisata halal itu potensinya besar, karena kita muslim terbesar di dunia, tapi itu juga kelemahan kita. Justru negara-negara nonmuslim seperti Jepang, Singapura dan Thailand telah terlebih dahulu mengkampanyekan wisata halal,” terang Ian Hanafiah. 

Untuk itu, pemilik Ero Tour ini mengajak semua pihak untuk berbenah dalam segala hal. “Apakah objek wisata kita benar-benar halal, seperti toiletnya sudah bersih, lalu apakah masyarakat kita sudah ramah dan kalau makan di restoran sudahkah jujur dalam perhitungan?” jelas Ian Hanafiah.

Memang permasalahan atau kendala yang paling utama terjadi di tempat wisata yakni tidak tersedianya toilet yang bersih. Padahal toilet merupakan salah satu sarana penting di sebuah objek wisata.

Karena itu, Ian berharap pemerintah daerah bisa membangun toilet yang representatif, apakah dengan melakukan kerja sama dengan pihak ketiga atau tidak. Sedangkan, untuk kunjungan wisatawan, diakuinya juga lebih bagus dibanding tahun lalu, peningkatannya mencapai 20 persen. 

“Sudah lebih ramai dibanding tahun lalu. Komitmen pemerintah sudah mulai kelihatan, beberapa kabupaten/kota sudah mulai bergerak. Tetapi masih banyak persoalan, membangun pariwisata tidak mudah dan masyarakat juga harus mampu berbenah,” ujarnya.

Ian menjelaskan, dalam pariwisata ada tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu something to see, something to do dan something to buy.

Di Sumbar sendiri masih sangat kurang untuk something to do (sesuatu yang dilakukan, red), karena kebanyakan tempat-tempat wisata di Sumbar hanya sekadar menawarkan pemandangan saja. Kecuali untuk wisata ke pulau, para wisatawan dapat berenang, snorkling dan diving. 

“Untuk saat ini tren wisata itu harus interaktif, ada something to do dan Sumbar masih kurang,” paparnya.

Terkait wisatawan mancanegara terutama Eropa, Ian mengaku saat ini memang turun. “Yang lagi naik dari Asia Pasifik seperti China, Jepang, Korea, India dan Eropa Timur. Saya pernah beberapa kali handle wisman dari China dan India, menurut mereka alam Sumbar sangat cocok bagi mereka,” tuturnya. 

Image Sumbar di luar itu, katanya, sesuatu yang hijau banyak gunung, mereka tidak tahu kalau Sumbar memiliki pantai. “Kalau pantai mereka langsung menuju Bali dan Lombok dan itulah yang harus kita benahi,” sebut Ian.

Kendala lainnya wisman jarang mengunjungi Sumbar karena penerbangan ke Padang dari luar hanya dari Malaysia saja. Di mana, orang Eropa banyak ke Singapura. Untuk itu, dia berharap akan ada penerbangan langsung Singapura-Padang, dan itu akan berdampak baik terhadap perkembangan wisata di Sumbar. 

Pemilik Malala Tour, Nanda juga mengaku terjadi kenaikan wisatawan ke Sumbar mencapai 30 persen. Dia menyebutkan untuk wisatawan yang mengunjungi Sumbar kebanyakan datang dari Riau, Pekanbaru, Jambi dan Jakarta.

“Kebanyakan mereka mengunjugi Pulau Pagang dan Mandeh, tapi ada juga yang berwisata ke Bukittinggi. Malahan untuk wisatawan dari Malaysia juga ada yang berminat ke gunung, kemarin ini saya baru mengantarkan tamu ke Gunung Singgalang,” jelasnya. (*)

© 2014 Padek.co