Wisata Halal dan Identitas Budaya Kita


Wartawan : Arlin Teguh A. - CEO Indosinergi, Pemerhati Pariwisata - Editor : Riyon - 25 October 2016 11:18 WIB    Dibaca : 72 kali

 

Menjadi sebuah kebanggaan bagi warga Sumbar di mana pada akhir September 2016 lalu dalam Kompetisi Pariwisata Halal Nasional (KPHN) 2016, Sumbar dikukuhkan sebagai Destinasi Wisata Halal terbaik di Indonesia. Bukan itu saja, ini digenapi pula dengan raihan sebagai Destinasi Kuliner Terbaik, Penyelenggara Wisata Halal Terbaik dan Restoran Halal Terbaik (dua yang terakhir diberikan kepada Ero Tour dan Restoran Lamun Ombak). 

Keberhasilan ranah Minang menyabet empat dari 15 kategori dengan 117 nominator, seakan mengukuhkan Sumbar sebagai salah satu destinasi yang paling tepat untuk dikunjungi para wisatawan yang concern pada nilai-nilai halal yang mengacu pada ajaran Islam. Tentu ini tidak saja menjadi nilai tambah tersendiri untuk menjual Sumbar pada pangsa pasar wisatawan yang tepat, tetapi juga memberi kesempatan kepada Sumbar mewakili Indonesia dalam World Halal Travel Awards 2016 yang akan digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dalam waktu dekat. 

Namun pada dasarnya proses membangun pariwisata Sumbar belumlah selesai dengan pengukuhan hal di atas, malah sebaliknya. Hari ini kita memiliki pekerjaan rumah yang besar untuk dapat benar-benar membuktikan kepada masyarakat Indonesia dan juga dunia bahwa Sumbar benar-benar memiliki kualitas sebagai destinasi wisata halal terbaik di Indonesia, bahwa kemenangan yang diraih oleh Sumbar bukanlah sekadar kemampuan dalam menggerakan massa untuk melakukan voting dan memilih Sumbar hanya dikarenakan ego kedaerahan semata. 

Berbicara tentang Sumbar sebagai destinasi wisata tentu tidaklah perlu diragukan lagi. Bentang alam yang indah, dengan landscape yang dapat kita katakan lengkap dan tidak dimiliki oleh daerah lain. Hanya di Sumbar para wisatawan dapat menikmati matahari terbenam di pinggir pantai disore hari. Lalu terpesona dengan keindahan mentari terbit di puncak gunung keesokan paginya.

Terkagum pada eksotisme danau yang tenang, disaat bersamaan terinspirasi pada cita rasa masakan yang harmonis. Ditantang oleh lebatnya belantara yang ingin dijelajah, tetapi juga tergoda pada rayuan budaya dengan ragam yang berbeda. Dan masih banyak lagi keindahan yang tidak akan cukup satu halaman untuk menuliskan daftarnya. Kesemua berpadu menjadi satu rayuan yang mengundang setiap tamu untuk datang. Sehingga tak salah jika pujangga berkata, “Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan ranah Minang.”

Berkebalikan dengan apa yang telah ditawarkan oleh alam dan budaya ranah Minang untuk wisatawan, hingga hari ini kita masih belum mampu untuk memaksimalkan daya tarik ini untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan untuk berkunjung ke Sumbar. Jika kita tilik dari data yang dirilis oleh Kementerian Pariwisata tentang jumlah kunjungan wisatawan mancanegara menurut pintu masuk dan kebangsaan periode Januari 2015 sampai dengan Desember 2015, di mana terdapat 19 pintu masuk utama wisatawan mancanegara ke Indonesia, maka kita dapatkan jumlah kunjungan ke Sumbar melalui Bandara International Minangkabau (BIM) terjadi penurunan sebesar 14,70% dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2014, terdapat 50.169 kunjungan dan hanya 42.818 kunjungan pada tahun 2015. 

Meskipun begitu dengan digembar-gemborkannya beberapa destinasi seperti kawasan Mande di Pesisir Selatan, Seribu Rumah Gadang di Solok Selatan, Air Terjun Nyarai di Padangpariaman dan masih banyak lagi, kita mulai melihat dan merasakan geliat yang cukup signifikan akan pertumbuhan pariwisata Sumbar.

Hal ini memberikan sebuah gambaran bagi kita semua akan kesadaran potensi pariwisata sebagai salah satu faktor yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi sebuah daerah dikarenakan multipliers effect yang dhasilkannya. 

Namun jika kita boleh bertanya pada setiap pemangku kepentingan dan para pelaku industri pariwisata di Sumbar tentang “mau dibawa ke mana, pariwisata Sumbar”, akankah kita mendapatkan sebuah jawaban yang sama? Sudahkan kita memiliki sebuah road map yang akan memberikan arah dan panduan pengembangan pariwisata kita? Jika kita hari ini memenangkan empat kategori dari KPHN 2016, apakah hal itu memang  arah yang kita tuju atau hanyalah kebetulan belaka? 

Mencermati potensi pariwisata Sumbar, setidaknya kita dapat mengelompokkannya menjadi tiga potensi utama, yakni alam (nature), budaya (culture) dan kuliner (culinary). Perpaduan ketiganya jika dikemas dengan apik akan mampu menghasilkan “produk” wisata yang sangat potensial untuk mengundang tamu agar datang ke Sumbar.

Alam diwakili oleh kondisi geografis Sumbar yang sudah terkenal keindahannya. Perpaduan yang mengesankan antara lautan dan pegunungan, disempurnakan oleh aliran sungai, air terjun dan juga keindahan danau. Diselimuti dengan sejuknya pepohonan belantara dan dibuai oleh musik hutan dari para satwa yang bercanda. Setiap yang datang dapat memilih untuk menikmati ketenangan pegunungan atau merasakan tantangan ombak untuk ditaklukkan. 

Sementara budaya diwakili oleh keunikan dan keragaman budaya ranah Minang yang otentik. Memiliki ciri khas yang tegas lagi jelas, Minangkabau adalah Islam, dan Islam adalah darah di nadinya. Mengalir dalam setiap denyut kehidupan masyarakat, mewarnai setiap acara-acara adat, menjadi satu dalam falsafah hidup “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”.

Karena budaya Minangkabau berlandaskan Islam, maka kita akan temukan di dalam masyarakat bahwa Halal adalah keniscayaan. Masyarakat Sumbar pada dasarnya sangat concern pada norma dan nilai, sangat taat pada tata dan etika, sangat tahu pada raso jo pareso dan ini semua tercermin dalam setiap aktivitas masyarakatnya. Walaupun tidak dapat kita pungkiri bahwa perlahan hal ini mulai tergerus oleh zaman. 

Dari sisi kuliner, Sumbar tak perlu diragukan lagi keunggulan dan kehalalannya. Siapa yang tidak tahu rendang sebagai makanan yang paling enak sedunia. Keharmonisan rasa akan ditemukan pada setiap masakan asli Minang. Pedas yang bertemu dengan sensasi rasa manis, asam yang ditawar dengan sensasi rasa asin, bukan hanya itu saja, keindahan warna pun tersaji dalam setiap hidangan, hingga membuat lupa diri bagi yang mengecap dan memandang. 

Merangkum ketiga hal tersebut, maka wisata halal pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru bagi Sumbar. Ianya merupakan bagian dari Identitas Budaya Minangkabau yang berlandaskan Islam. Ketika wisata kita bukanlah wisata halal, maka bukanlah wisatawan yang kita khawatirkan, karena yang perlu kita khawatirkan sungguhnya adalah itu berarti bahwa kita mulai tercerabut dari akar budaya kita.

Maka concern kita dalam konteks wisata halal bukanlah sekedar pengembangan pariwisata, tetapi kembali memperkuat nilai-nilai budaya kita dalam membangun pariwisata. Karena halal bagi kita bukan lagi tentang apa yang kita tawarkan, tetapi tentang siapa kita.

Jika mengandalkan label halal semata, maka produk wisata yang kita tawarkan akan sangat mudah untuk ditiru oleh daerah lain. Jika mengandalkan pada alam semata, maka daerah lain lebih punya keunggulan, karena sumber daya yang dimiliki untuk penataan dan pengelolaan kawasan lebih baik daripada kita, terutama untuk di daerah Jawa.

Jika mengandalkan kuliner semata, maka persepsi personal akan sangat berpengaruh pada penilaian baik buruknya, karena bisa jadi sesuatu yang disukai oleh seseorang, tidak disukai oleh orang lain. Karenanya Sumbar harus mampu memberikan sesuatu yang lebih kepada setiap tamu yang hadir ke tempat kita, sesuatu yang istimewa, sesuatu yang akan terus dikenang sebagai sesuatu yang berharga bagi kehidupan mereka. 

Bukan hanya sekedar mengunjungi dan menikmati destinasi wisata, mengagumi budaya ataupun menikmati kuliner saja, akan menjadi lebih berarti dari itu ketika kita mampu memberikan pengalaman berharga di dalam kehidupan mereka. Dan pengalaman akan didapatkan dengan keterlibatan, keterlibatan dengan alam, keterlibatan dengan budaya dan keterlibatan dengan kuliner yang ada. 

Implikasinya dari hal diatas adalah kita tidak lagi menjadikan alam, budaya dan kuliner kita sebagai “pertunjukan” atau “hidangan” semata. Tetapi lebih jauh dari itu, kita menjadikan ketiganya sebagai bagian untuk mengajarkan kearifan budaya Minangkabau dengan melibatkan mereka dalam sebuah aktivitas.

Jika biasanya wisatawan memakan rendang, dalam konteks ini maka mereka diajak untuk terlibat dalam pembuatan rendang secara tradisional dan diberikan pemahaman tentang nilai-nilai filosofi dari proses pembuatan rendang. Jika biasanya wisatawan menonton pertunjukan randai, maka dalam konteks ini mereka akan turut serta dalam mempertunjukkan randai, walaupun dengan gerakan dan cara yang paling sederhana, sehingga mereka dapat merasakan langsung dan mempelajari filosofi di balik randai. 

Hal ini tentu bertujuan untuk memberikan pengalaman yang berharga bagi kehidupan mereka dan memori ini akan terus lekat dalam ingatan mereka. Sebagaimana kutipan seorang filsuf terkenal yakni Confucius yan gmengatakan “aku dengar, aku tahu, aku lihat, aku ingat, aku lakukan dan aku paham”.

Pada konteks ini maka yang kita “jual” tidak lagi wisata semata, tetapi sebuah pengalaman hidup (life experience) yang dapat menjadi bekal pemahaman kehidupan bagi mereka, merubah cara pandang mereka terhadap dunia, dan memberikan arti baru bagi kehidupan mereka ke depan. Jika sudah seperti ini, tentu nilainya tak lagi bisa diukur dengan uang semata. (*)

 

© 2014 Padek.co