Audun Kvitland Rostad, si Tampan di Balik Lagu Nasi Padang


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 24 October 2016 12:13 WIB    Dibaca : 39 kali

 

Bakal Kembali ke Indonesia Bawa Keluarga

Nama Audun Kvitland Rostad mendadak populer awal bulan lalu. Itu lho, cowok yang ngefans berat dan ingin menikahi nasi padang. Faktanya, musisi Norwegia yang menggubah lagu Nasi Padang itu tidak hanya jatuh cinta pada rendang dan sayur daun pepaya. Tapi, juga pada Indonesia.

Nasi Padang sempat memuncaki tangga lagu Indonesia Viral 50 milik Spotify Indonesia seminggu setelah dirilis. Audun pun hangat dibicarakan di dunia maya. “Saya tidak membayangkan Nasi Padang yang saya buat dengan iseng jadi hit,” ujar Audun ketika dihubungi koran ini.

Saking terkenalnya, anak-anak di sebuah panti asuhan membuat cover lagu tersebut dan mengunggah videonya ke YouTube. Audun melihatnya dan merasa tersanjung. 

“Senang rasanya bisa membagi keceriaan dengan lagu yang aku buat. Apalagi, banyak komentar lucu dan positif tentang lagu itu di media sosial,” ujar pria 33 tahun tersebut.

Semua berawal dari liburan musim panas Audun di Indonesia. Selama Juli hingga September lalu, dia menjelajahi berbagai tempat di negeri ini. Setelah puas berjalan-jalan, dia menghabiskan hari-hari terakhir di Jakarta. Di sana dia bertemu dengan makanan pencuri hatinya, nasi padang.

“Rasanya itu, lho. Benar-benar unik, pedas, dan sulit dilupakan,” kata Audun dengan nada takjub.

Sebenarnya bukan hanya nasi padang yang merebut hati Audun. Dia jatuh cinta pada Indonesia. Tinggal di Norwegia yang suhunya bisa mencapai minus 20 derajat, Audun memang mendambakan kehangatan #AwasBaper. Tak heran, saat berlibur, dia mencari yang panas-panas. Audun menemukan Indonesia di Lonely Planet.

Cowok yang juga menggemari fotografi itu langsung mupeng melihat foto-foto Indonesia. Ketika mendarat pada Juli lalu, dia mengawali perjalanan di Bali. Pulau Dewata membuat dia terpesona. Menikmati panorama pantai di Sanur, bersantai di Ubud, membuat jiwa dan raganya betul-betul fresh.

Acara recharge energi dilanjutkan di Lombok, tepatnya di Senggigi dan Gili Air yang serene dan menenteramkan. Puas berlibur santai, dia bertolak ke Labuan Bajo. Di sini lebih adventurous. Dia berlayar ke Pulau Rinca, mendaki gunung Kelimutu di Ende, dan melakukan jeep safari di Lombok Utara.

September, Audun memasuki Jawa. Yogya menjadi destinasi pertamanya. “Saya kagum pada kemegahan keraton, Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Nilai historisnya selalu terjaga hingga kini,” ujar Audun.

Baru kemudian, dia menuju Jakarta. “Di Jakarta jugalah aku ketemu dengan sayangku, si nasi padang. Sayang aku baru menemukannya pada hari terakhir,” kata Audun.

Menurut Audun, Indonesia merupakan cerminan keindahan negara tropis. Gunung berapi, taman laut, persawahan, hutan rimba, hewan endemis, dan pulau-pulau di laut Indonesia yang sangat beragam antara satu daerah dan daerah lain membuatnya makin jatuh cinta.

“It’s stunning. Indonesia menawarkan keindahan alam yang luar biasa dan tidak bisa dilupakan,” tuturnya. Selain keindahan alam, Audun kagum pada keramahan orang Indonesia. “Saat aku dan teman jalan-jalan, banyak banget yang menawarkan bantuan.

Paling simpel, mereka memberikan senyum dan sapa yang sopan,” kata penghobi sepakbola itu. Audun memang suka bertemu orang baru selama melakukan traveling. 

Wisata kuliner adalah agenda yang tidak pernah ketinggalan tiap Audun bepergian. Dia selalu mencari makanan lokal. Nah, lidah dia rupanya cocok dengan cita rasa Indonesia yang spicy dan bervariasi.

Selama dua bulan di Indonesia, Audun telah mencicip gudeg, gado-gado, babi guling, ikan bakar dan nasi goreng. Dia juga mencoba durian. “Uhmm.. nggak suka,” katanya.

Audun juga begitu mengagumi keragaman Indonesia. Mulai keberagaman bahasa, budaya, etnis, hingga bentang alam. Itu membuat dia tidak akan bosan berkunjung ke Indonesia. Dia pun sedang mencari waktu yang tepat untuk kembali ke Indonesia.

“Indonesia masih sangat luas untuk dijelajahi. Nanti aku mau ajak keluarga,” janjinya. Mereka tak sabar untuk mengunjungi Indonesia. 

Bagi Audun, traveling bukan sebatas hobi. Pria humoris itu menjadikan jalan-jalan sebagai bentuk pembelajaran. Traveling memperluas pandangannya mengenai dunia. Bagi dia, sayang sekali jika hidup hanya dijalani di satu tempat, tanpa eksplorasi.

“Selama traveling, aku menyerap semua pengalaman yang ditemui. Bahkan, aku belajar dari budaya dan sejarah lokal. Itu sangat berguna bagi pengetahuan dan nilai hidupku,” ujarnya.

Audun selalu membekali diri dengan kamera. Hasil jepretannya diabadikan di akun Instagram @kvitlandofficial. Selfie-nya tak seberapa. Lebih banyak foto lanskap pemandangan di berbagai negara yang dikunjunginya.

Bagi dia, fotografi itu seperti menulis diary. Momen yang ditangkap bisa dinikmati seumur hidup. Kemurahan hati warga Indonesia selama dia menjelajah nusantara membuat dirinya merasa harus give back.

Alhasil, saat di Yogya, Audun menyempatkan diri singgah di penampungan tunawisma. Di sana, dia memberikan pelajaran bahasa Inggris. “Kami juga bertukar kisah sejarah Norwegia dan Yogya. Seru banget,” katanya.

Bahkan, saat mengajar itu, Audun masih merasakan kemurahan hati para tunawisma. Ketika datang, dia memang membawa berbagai bingkisan. Namun, setiba di lokasi, rupanya para penghuni penampungan membuatkan miniatur perahu untuk Audun dan rekannya. Audun sangat terharu. “Itu sebabnya saya selalu berusaha menjadi orang yang murah hati,” jelasnya.

Wajah tampan, kemampuan bermusik dan personality yang oke memang membuat Audun tampak charming. Orang seperti itu tentu tidak single (oh, patah hati deh). Audun tengah menjalin kasih dengan seorang perempuan. Siapa ya? “Untuk saat ini, dia tidak mau dikenal,” ujar Audun, lantas tersenyum. (*)

 

© 2014 Padek.co