Irman Bantah Terima Fee


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 05 October 2016 11:38 WIB    Dibaca : 32 kali

 

Telepon Dirut Bulog, Minta Tambahan Gula 

Irman Gusman, tersangka penerima suap terkait pengurusan kuota gula impor untuk Sumbar dari Direktur CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto dan istrinya Memi, akhirnya buka suara. Dia membantah sudah menerima fee, cuma menelepon Dirut Perum Bulog Djarot Kusumayakti untuk menambah distribusi gula ke Sumbar. 

”Iya, jadi maksudnya harus ada intervensi ke pasar, supaya harganya kembali normal, itu maksudnya. Untuk melakukan operasi pasar supaya menstabilkan harga,” kata Irman usai diperiksa penyidik KPK sebagai tersangka penerima suap, kemarin (4/10).

Irman mengaku merasa perlu berinisiatif menghubungi Djarot soal masalah tingginya harga gula di Padang. Pasalnya, kenaikan harga gula terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah. 

”Sebagai wakil rakyat di sana (Padang) karena ada krisis gula menjelang Lebaran, saya mengambil inisiatif karena saya tahu Bulog melakukan operasi supaya harga itu kembali normal. Kan itu maksudnya, itu kan tugas saya,” ujarnya.

Meski demikian, Irman membantah menyebut angka 3.000 ton sebagai jumlah gula yang harus didistribusikan Bulog ke Padang. Menurut dia, sebagai ketua DPD dia tidak memiliki wewenang menentukan kuota gula yang harus didistribusikan Bulog. 

Menurut Irman, dia hanya menyampaikan kepada Djarot mengenai tingginya harga gula di Padang. “Oh enggak ada (permintaan jumlah gula). Saya hanya menyampaikan itu saja, (penentuan jumlah) itu tugas Bulog. Tugas saya kan ada aspirasi di daerah, ya saya salurkan kemudian tindak lanjutnya Bulog itu kewenangannya,” ujar dia.

Dia juga membantah memperdagangkan pengaruhnya sebagai ketua DPD dalam memberikan rekomendasi terkait pendistribusian kuota gula impor di daerah pemilihannya itu. “Enggak, enggak, saya tidak punya kewenangan. Saya tidak berpengaruh,” kata Irman.

Dia juga membantah dapat jatah atau fee dari setiap kilogram gula yang didistribusikan CV Semesta Berjaya dari Perum Bulog untuk Sumbar 2016. “Tidak ada, tidak ada itu,” ujar Irman.

Begitu juga tuduhan bahwa dia mengarahkan Djarot agar Bulog mengirim penambahan distribusi gula impor kepada CV Semesta Berjaya yang dipimpin Xaveriandy Sutanto. “Oh tidak. Saya tidak ada hubungan dengan Sutanto, ya,” pungkas Irman. 

Di depan gedung KPK, Irman mengaku sudah cukup lama mengenal Memi di Padang. Menurut Irman, dia dan Memi pernah terlibat transaksi jual beli tanah. “Dia pernah membeli tanah, di mana saya sebagai pendirinya,” katanya.

Meski demikian, Irman mengklaim tidak tahu menahu soal niat Memi dan suaminya, Xaveriandy Sutanto memberikan suap kepadanya sebesar Rp 100 juta sewaktu bertamu, Jumat (16/9) malam.

“Saya tidak tahu sama sekali ada bingkisan, orang datang saya mau bilang apa kan. Karena kan daerah pemilihan saya,” ujar Irman. 

Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Kabiro Humas KPK Yuyuk Andriati mengatakan, Irman diperiksa untuk pertama kalinya sejak ditetapkan sebagai tersangka untuk tersangka Memi. “IG diperiksa untuk tersangka M (Memi),” kata Yuyuk Andriati.

Selain itu, KPK juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap Kepala Driver Bulog Sumbar, Benhur Ngkaime. Dia juga akan diperiksa untuk tersangka Memi. KPK juga diketahui memanggil saksi-saksi untuk tersangka suami Memi, Xaveriandy Sutanto (XS).

Mereka adalah Sekjen Kementerian Perdagangan Srie Agustina dan Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kemendag Syahrul Mamma. “Keduanya diperiksa untuk saksi XS,” kata Yuyuk.  

Belum dipastikan keterkaitan dua pejabat Kemendag dalam kasus yang telah menjerat Irman ini. Syahrul Mamma merupakan mantan petinggi Polri yang kini mengabdi di Kemendag. Lulusan Akademi Kepolisian 1983 ini pernah menjabat Wakabareskrim Polri,  Wakapolda Sulsel serta sempat mengikuti seleksi calon pimpinan KPK. 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Irman ditangkap usai menerima suap sebesar Rp 100 juta dari Direktur Utama CV Semesta Berjaya, Xaveriandy Sutanto dan istrinya Memi pada 16 September lalu.

Petugas menyita uang tersebut yang ditemukan di kamar tidur Irman. Pemberian uang diduga terkait pengurusan kuota gula untuk Sumbar tahun 2016. Kini, Irman ditahan di Rutan Pomda Jaya Guntur untuk 20 hari pertama.

DPD Diminta Tunggu Praperadilan

Di sisi lain, kuasa hukum Irman Gusman, Razman Arief Nasution kembali mengharapkan DDP RI tidak mengambil langkah politik sampai keluarnya putusan sidang praperadilan yang diajukan kliennya.

“Saya harap DPD tidak ambil langkah politik sebelum praperadilan selesai. Tunggu selesai, ini kan sebentar prosesnya,” kata Razman di Jakarta, Selasa (4/10). Terkait jadwal pelaksanaan sidang gugatan praperadilan, Razman mengatakan, belum mendapat informasi dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Menurut dia, idealnya ketua pengadilan sudah memberikan informasi mengenai tanggal dimulainya persidangan. Namun, sampai kini Razman belum memperoleh informasi tersebut.

Dia juga berharap KPK cepat dalam memberikan tanggapan terhadap gugatan yang diajukan kliennya. “Kalau ditunda satu minggu oleh KPK, berarti harus ada dua minggu, sementara dinamika politik terus berjalan di DPD,” kata Razman.

Dia berharap proses penegakan hukum terhadap kliennya bisa dilaksanakan secara cepat. “Kami sudah siap dengan semua dokumen, administrasi hukum, termasuk ahli kalau diperlukan kami datangkan,” ungkapnya. (*)

© 2014 Padek.co