Tantangan Wisata Halal Sumbar


Wartawan : Asyari - Pengajar Pada FE dan Bisnis Islam, IAIN Bukittingggi - Editor : Riyon - 04 October 2016 10:50 WIB    Dibaca : 30 kali

 

One Region One Superior

Kemenpar RI dan Tim Percepatan dan Pengembangan Pariwisata Halal (TP3H) telah mengumumkan hasil Kompetisi Wisata Halal Nasional 2016 (KWHN). Acara yang digelar di Sofyan Betawi Hotel, Jakarta  itu merilis pemenang dengan 15 kategori: Airport Ramah Wisatawan Muslim, Hotel Keluarga Ramah Wisatawan, Resort Ramah Wisatawan Muslim, Biro Perjalanan Wisata Halal, Website Travel Ramah Wisatawan Muslim, Destinasi Bulan Madu Ramah Wisatawan Muslim, Operator Haji & Umroh, Destinasi Wisata Halal Terbaik: Sumatera Barat, Destinasi Kuliner, Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim, Sentra Kuliner Halal, Pusat Belanja Ramah Wisatawan Muslim Restoran Halal, Daya Tarik Wisata, dan Kuliner Halal Khas Daerah. Dari 15 kotegori tersebut, Sumatera Barat memperoleh  terbaik untuk 4 kategori; Restoran Halal, Wisata Halal, Biro Perjalanan Halal dan Destinasi Kuliner (Padek. Rabu, 21/9/2016).

Dengan rilis ini berarti dalam pengembangan wisata halal di Indonesia, posisi Sumatera Barat diperhitungkan dan sejajar dengan daerah Lombok, yang memiliki pengelolaan pariwisata yang lebih maju.   

Raihan prestasi ini di saat sarat problem wisata, seperti fokus pembangunan dan belum matangnya perencanaannya pariwisata. “Ha­nya beberapa Kabupaten/Kota yang memiliki RIPDA, Master­plan, RDTR dan siteplan pariwi­sata di Sumbar,“ ujarnya dalam Diskusi Publik dengan tema ‘Potensi Ekonomi dan Tantangan Ekonomi Sumbar di Era MEA’ di Hotel Bumi Minang, Senin (29/2) dan juga Wakil Gubernur Sumbar menyatakan bahwa saat ini tiga daerah yang memiliki potensi wisata yang besar namum belum memiliki master plan wisata; Kab Solok, Pariaman dan Kota Bukittinggi (Padek, 15 September 2016).

Problem sadar wisata juga melingkari dunia parawisata Sumbar, seperti tarif atau harga yang tidak jelas dan cenderung tinggi bagi pengunjung  atau para pendatang. Di restoran/rumah makan  harga mancakiak. Semua problem wisata tersebut menjadi tantangan tersediri dalam upaya mengembangkan wisata halal di Sumatera Barat. Tantangan lainnya adalah bagaimana Sumatera Barat dapat menentukan special uniqueness dan superior branding wisata halal yang dimiliki dengan tepat sehingga menjadi pilihan utama (top choice) bagi wisatawan domestic dan manca negara dalam menetapkan destinasi wisata.

Pasar Cerah Wisata Halal

Perkembangan yang terjadi di dunia parawisata dalam bentuk wisata halal (halal tourism) pada hakekatnya merupakan respon dari pemenuhan kebutuhan wisatawan /konsumen yang mengikutsertakan faktor agama dalam perilaku mereka menetapkan destinasi  wisata. Wisatawan ingin memaksimalkan leisure (kesenangan dan kenyamanan) dalam traveling yang dilakukan namun leisure mereka tetap berada dalam koridor keyakini yang dianut (agama).

Khusus bagi wisatawan Muslim pilihan destinasi mereka tetap memperhatikan dan menempatkan aspek syariah camplaint sebagai pertimbangan utama. Wisatawan sangat sensitive pada produk dan service yang syariah camplaint. Mempertimbangkan hal ini maka beberapa tahun belakangan pasar wisata halal menjadi tren market dan bahkan memiliki kecenderungan peran total expenditure yang besar dan telah pula mendorong investasi besar pada sektor wisata halal.

Data yang dilansir oleh State of the Global Islamic Economy Report (2015), di tahun 2013, 11,5% dari global expenditure dan diprediksi naik 13 % di tahun 2019. Laju perkembangan dunia parawisata  halal semakin cepat seiring meningkatnya populasi Muslim dan juga meningkatnya religiouisty. Menurut data yang dikutip dari Krestel Kessler (2015), populasi Muslim di tahun 2010 berjumlah 1,6 Milyar dan diprediksi tahun 2030 tumbuh jadi 2,2 Milyar.

Populasi tetrbesar dapat ditemui di Asia (60%), Timur Tengah dan Afrika Utara (20%) dan di negara minoritas Muslim dilaporkan Eropah (38,1 juta). Jumlah populasi yang terus meningkat tentu memiliki peran yang berkontribusi menaikan total expenditure dan pada akhirnya akan melahirkan efek domino bagi sektor lainnya, seperti penciptaan lapangan kerja dan membuka usaha-usaha  ekonomi kreatif serta sektor terkait lainnya. 

Pasar Wisata Halal Kompetitif 

Beberapa negara Muslim di Timur Tengah menangkap potensi besar wisata halal dengan mendesain pasar mereka untuk dapat memagnet wisatawan. Masjid dijadikan Top Halal Destination dengan menformat konsep masjid sebagai pusat feature od Islam dan wisata religius (religious tourism). Di Mesir Masjid Sultan Hassan, di Jordan Masjid King Abdullah I, dan di Tunisia Masjid Kairoun.

Langkah ini diikuti oleh negara tetangga Brunei, Masjid Asr Hassani il Bolkiah, dan di beberapa negara minoritas  Muslim atau non-muslim countries, seperti di Philipina, Inggris, Thailand, Jepang dan Brazil, wisata halal lebih berkaitan pada penyediaan al Quran, tempat sholat, penunjuk arah  kiblat, di hotel halal food, no-cashino/gamling (judi), dan pemisahan ruang publik bagi laki-laki dan perempuan yang belum berkeluarga, produk dan jasa yang ditawar bersertifikat halal,  penyediaan chanel TV berbahasa Arab dengan bahasan, dan menyediakan aplikasi smartphone yang memudahkan wisatawan melacak dengan cepat  sentra halal food, restaurant, tempat wisata  yang  syariah camplaint (Battor dan Ismail, 2015).

Perkembangan pengelolaan wisata halal di atas baik yang terjadi di Muslim atau Non-Muslim Countries menjelaskan bahwa wisata halal telah menciptakan sebuah pasar tersendiri dalam dunia parawisata dan dengan demikian dunia industri wisata menjadi kompetitif. Pelaku/penyedia jasa wisata halal dituntut untuk menciptakan inovasi, nilai lebih (superior), special branding dan uniqueness sebagai faktor sukses merebut, eksis di pasar dan memperluas pasar (huge market). 

Lalu bagaimana dengan wisata halal Sumatera Barat? Wisata halal bagi Sumatera Barat merupakan barang lama bungkus baru. Wisata halal yang menempatkan nilai agama sebagai basis pengeloadan layanan wisata merupakan hal yang inheren dalam kehidupan masyarakat. Didukung juga oleh nilai   adat/budaya yang dinyatakan bak kuku dengan daging dan aur  dengan tebing. Keduanya saling menguatkan dan mendukung.

Menurut penulis, pengembangan wisata halal di Sumatera Barat dapat mengikuti pola di Timur Tengah namun menambahnya dengan keunikan yang dimililik. Perpaduan nilai agama dan adat di bagunan dan ornanmmen masjid dan surau-surau merefleksi keunikan tersebut. Masjid menjadi pusat warisan budaya  dan sejarah yang ditunjukkan dalam bentuk bangunan fisik, ukiran-ukiran yang dimiliki pada bangunana masjid dan sejarah masjid serta sejarah sosial masyarakat di sekitarnya.

Selain masjid, kita memiliki ratusan surau yang tersebar di nagari-nagari. Surau menjadi pusat pengembangan ajaran-ajaran tasawuf oleh para pemimpin surau. Surau-surau juga memiliki  dan menyimpan banyak manuskrip/naskah-naskah  kuno yang dapat dieksplorasi dan dieskpos sebagai magnet bagi wisatawan. Pengembangan ini merupakan pengembangan umum dari potensi yang dimiliki.    

Selain itu, di setiap Kabupaten dan Kota yang ada di Sumatera Barat, perlu dibuat dan ditetapkan keunikan wisata halal yang dimiliki. Pola pengembangan seperti dapat mengadopsi konsep One Vilage One Product (Ovop) yang dirintis oleh Prof. Morihiko Hiramatsu yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Oita, Jepang. Konsep ini popular dalam pengembangan UMKM dengan kekuatan dan sumber daya local  yang dimiliki.

Melalui konsep ini, setiap daerah memiliki keunikan icon  wisata halal masing-masing berangkat dari karakteristik daerah. Dengan demikian tiap daerah punya uniqueness  pasar dan konsumen dan tidak memangsa pasar lain. Sebagai contoh, Bukittinggi nenurut penulis, Bukittinggi memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh daerah lain.

Keunikan itu adalah kekhasan kehidupan beragama, kehidupan social-budaya masyarakat yang masih kuat memegang nilai adat dan agama dan daerah yang banyak melahirkan dan memiliki tokoh berkaliber nasional dan internasional dalam berbagai bidang. Potensi inilah yang harus dilihat sebagai ikon dalam pengembangan wisata halal. Luas 25 km2 dihuni oleh multi etnik (Minang, Batak, Nias, China dan India Keturunan) dan agama (Islam, Hindu, Budha dan Kristen) semuanya hidup berdampingan dengan damai.  Bukittinggi belum pernah memiliki pengamalan buruk dalam kehidupan multi etnik dan agama. 

Kondisi ini adalah potensi bagi Bukittinggi untuk menjadi Kota Laboratorium Kerukunan Umat Beragama dan Multi Etnik. Bukittingi memiliki Tokoh Sjech M Djamil Djambek yang sangat mumpuni Ilmu Falak (ilmu menentukan arah kiblat, jadwal shalat, penetapan 1 Syawal dan Idul Adha). Nama besar Inyiak Djambek dalam ilmu falak dan keberadaan ilmu falak itu sendiri nyaris lenyap dari kehidupan.

Pemkot Bukittinggi dapat bekerja sama dengan IAIN Bukittinggi menggagas rumah Ilmu Falak Inyiak Djambek. Rumah ini akan menjadi tempat koleksi karya-karya besar Inyiak Jambek dalam Ilmu Falak dan menjadi pusat kajian Ilmu Falak satu-satu di Indonesia. 

Daerah-daerah lainnya dapat dikembangkan sesuai kekhasan yang dimiliki. Dibutuhkan kajian yang melibatkan unsur akademik, masyarakat, dunia usaha dan pemerintah dalam memformulasikan secara tepat keunikan tersebut. Sehingga terwujud one region one superior (satu daerah miliki satu keunikan). Semoga! (*)

© 2014 Padek.co