Wisata Halal: Pandangan Global-Lokal


Wartawan : Sari Lenggogeni - Direktur Pusat Pengembangan Pariwisata, Kebudayaan dan Ekraf Unand - Editor : Riyon - 25 August 2016 11:19 WIB    Dibaca : 38 kali

 

Industri ndustri pariwisata global saat ini sudah semakin fokus dalam menggarap kebutuhan ceruk pasar khusus, seperti pasar berdasarkan kelompok usia lanjut, kelompok pecinta alam, dan termasuk pasar wisata berdasarkan religi. Salah dari fokus pengembangan pasar wisata yang berkembang saat ini adalah wisata halal. 

Untuk Indonesia, Kementerian Pariwisata telah mendesain portofolio ceruk pasar wisata halal ini melalui dukungan beberapa destinasi prioritas wisata halal seperti Lombok, Aceh, termasuk Sumbar. 

Per 12 Mei 2016 yang lalu, Pemprov Sumbar secara aklamasi juga telah menetapkan positioning Sumbar sebagai salah satu Destinasi Tujuan Wisata Halal di Indonesia. Menarik mengupas lebih dalam apa sebenarnya wisata halal, fenomena, valuasi industri, dan bagaimana dengan tantangan di Sumbar?

Wisata Pilgrim, Islamic dan Halal: suatu Ambiguitas. Sering sekali muncul pertanyaan pada berbagai diskusi, apa itu wisata halal? Bukan sesuatu yang aneh jika awareness public terhadap terminologi pariwisata halal masih tergolong rendah. Sebab tidak hanya di Indonesia, beberapa rekan penulis dari Malaysia, Timur Tengah mengakui belum terlalu familiar dengan istilah, serta faktor pembeda wisata halal dengan generic tourism. 

Ada tiga kelompok yang tergolong dalam wisata religi sebagai derivatif dari wisata sejarah, dan sekilas terkesan overlapping. Wisata halal, wisata pilgrim dan wisata Islamic apakah berbeda? Keempat terminologi dalam dunia pariwisata sering sekali digunakan secara interchangeable, menyebabkan pandangan terhadap pemahaman ketiga konsep terlihat sama.

Namun dilihat sudut pandang motivasi wisatawan (push factor) wisatawan dan dari pull factors atau daya tarik destinasi ketiga konsep ini memiliki perbedaan. Wisata pilgrimage adalah wisata yang dengan motivasi spiritual bertujuan mendekatkan diri pada Sang Pencipta dan mencari ketenangan sesuai dengan prinsip keyakinan (faith) wisatawan, seperti haji atau ziarah (Faharani, 2015).

Sedangkan wisata Islamic, secara esensial  merupakan suatu interpretasi baru dalam pilgrimage yang mengelaborasi aspek motivasi religi dan aktivitas leisure tourism (wisata untuk relaksasi / wisata yang bersifat umum) (Jafari & Scott, 2013), seperti kombinasi paket wisata umrah dan perjalanan wisata ke Turki. 

Lalu bagaimana dengan wisata halal? Wisata halal adalah leisure tourism (perjalanan wisata pada umumnya) untuk wisatawan muslim di mana terdapat dukungan ketersediaan produk dan jasa wisata sesuai dengan kaidah/ norma Islam, serta kenyamanan untuk melaksanakan ibadah saat melakukan perjalanan wisata. 

Fenomena Munculnya Wisata Halal

Mengapa dunia melirik wisata halal sebagai suatu peluang pasar potensial, khususnya untuk industri pariwisata?  Di samping karena besarnya populasi muslim yang diproyeksikan mencapai 2 miliar pada tahun 2030 atau 26,4 % dari total global (Pew Research, 2015), fenomena wisata halal muncul karena mencuatnya kebutuhan wisatawan terhadap faktor keamanan yang mulai terusik sejak terjadinya teror 9/11 di Amerika. 

Ketika munculnya fenomena Islamophobia (anti Islam) di berbagai belahan dunia dengan penduduk muslim sebagai minoritas, tidak hanya wisatawan nonmuslim yang terusik kenyamanan saat berwisata akibat ancaman teror, namun juga wisatawan muslim terusik saat melakukan perjalanan di destinasi dengan minoritas muslim. 

Kenyamanan perjalanan wisatawan muslim sangat bergantung pada ketersediaan sarana produk dan jasa halal sesuai prinsip syariah Islam, seperti mushala dan tempat wudhu terpisah antara muslim/muslimah di objek wisata, petunjuk kiblat, tempat wudu terpisah antara muhrim, restauran dengan jaminan label halal yang dikeluarkan melalui sertifikasi lembaga yang terpercaya, atau kolam renang dan zonasi pantai terpisah antara laki-laki dan perempuan, kenyamanan wisatawan muslim berpakaian sesuai kaidah dan norma Islam tanpa ada potensi gangguan perlakuan “rasis” akibat Islamophobia. 

Besarnya potensi pasar muslim ini, destinasi halal kemudian menjadi alternatif niche pasar wisata di negara mayoritas muslim ataupun minoritas. Dilihat dari perspektif industri, ada lima portofolio industry yang mendukung pasar halal global; fashion, media, makanan, travel, dan farmasi. Potensi pasar ini menjadi perhatian khusus bagi stakeholders pariwisata dunia, baik pada negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) maupun non OKI. 

Dengan nilai ekspenditure wisata pasar muslim global senilai USD 142 miliar (di luar haji dan umrah) atau 11% dari total pasar wisatawan global (lebih besar dari potensi pasar wisata Amerika jika dianalogikan sebagai suatu negara), dengan CAGR sekitar 8,6% ekspenditure wisata pasar wisatawan muslim ini diprediksi mencapai nilai USD 233 miliar tahun 2020 (Thomson Reuters, 2015). Siapa yang tidak akan melirik pasar potensial ini? 

Sebagai contoh, Australia yang bukan tergabung dalam keanggotaan OKI dan dengan muslim minoritas memanfaatkan peluang ceruk pasar ini dengan mendesain muslim-friendly Australian holiday ideas untuk menggandeng pre-visitors muslim meyakinkan safety feeling melalui informasi ketersediaan industri halal (restauran, masjid dan lainnya) untuk berwisata, Jepang dengan halalmedia.jp memberikan perlakuan khusus wisatawan muslim melalui restauran-restauran halal pada airport Narita. 

Indonesia pun pada tahun 2016 berhasil meraih ranking 4 naik 2 poin untuk kategori GMTI. Namun, belum mampu mengalahkan Malaysia yang bertahan pada peringkat pertama. Untuk negara non-OKI masih dikuasai Singapura dan Thailand. Salah satu indeks penentuan award Cressentrating ini jumlah wisatawan muslim yang masuk ke  negara tersebut.   

Sumbar dan Destinasi Halal

Bagaimana dengan Sumbar? Ada baiknya mempertajam target yang hendak dicapai dengan posisi keunggulan sebagai destinasi halal dan apa unique value propotion yang akan ditawarkan pada pasar muslim. 

Jika Sumbar ingin mendorong  posisi Indonesia pada award international tersebut, maka harus ada penyesuaian indeks Cressentrating dengan tiga faktor utama dan 11 indikator yang harus dicapai: 1) penciptaan tema liburan ramah keluarga dan destinasi tujuan wisata halal yang aman (menciptakan rasa aman, destinasi ramah keluarga dan jumlah wisatawan muslim); 2) jasa dan fasilitas wisata ramah muslim pada destinasi (mencakup jaminan makanan halal, aksesibilitas kemudahan beribadah, airport, dan opsi hotel syariah); dan  3) halal awareness dan pemasaran destinasi (kemudahan berkomunikasi, konektivitas, visa). 

Jika tujuannya adalah untuk penguatan sektor ekonomi, maka pemberdayaan industri halal yang terkait pariwisata dan potensi di Sumbar harus diperkuat, misalnya penguatan muslim fashion industry dengan pemberdayaan desainer hijaber, industri makanan halal melalui dinas dan instansi terkait, penciptaan tumbuhnya iklim investasi hotel syariah, dukungan infrastruktur wisata halal di objek wisata dan lain sebagainya. 

Dan, jika bertujuan sebagai penguatan identitas Sumbar sebagai destinasi yang berfalsafahkan Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK), tentu harus ada penguatan legalitas dan peraturan daerah yang membantu memperkuat branding destinasi sebagai wisata halal dan diseminasi informasi aturan pada wisatawan muslim dan nonmuslim harus dipertegas. Sebab, selain wisatawan domestik saja belum familiar terhadap wisata halal, Sumbar juga belum dikenal sebagai destinasi halal (penelitian Arrahma & Lenggogeni, 2016) 

Diperlukan blueprint strategi peningkatan jumlah wisatawan muslim Malaysia, Singapura, atau mengekspansi pasar muslim melalui skala prioritas strategi pemasaran pariwisata, dengan tidak hanya membaca tren data, tapi juga memperdalam pemahaman karakter perilaku target pasar muslim masing masing negara. 

Wisatawan Middle East mungkin disarankan menjadi prioritas akhir target pasar mengingat selera, perilaku, yang lebih menyukai luxury destination, dan tren jumlah wisatawannya ke Sumbar dalam satu dekade terakhir hampir bisa diabaikan/neglected. Terakhir, penyusunan strategi ini, jangan mengabaikan aspek yang dibutuhkan pasar potensi lainnya, seperti wisatawan luar negeri dan domestik nonmuslim. (*)

 

© 2014 Padek.co