Glenn Pernah Lebih Cepat dari Schooling


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 23 August 2016 09:41 WIB    Dibaca : 26 kali

 

Evaluasi Atlet Indonesia setelah Berakhirnya Olimpiade Rio 2016

Satu emas dan dua perak menjadi capaian Indonesia di Olimpiade Rio. Tiga medali itu berasal dari dua cabang olahraga langganan, bulu tangkis dan angkat besi.

Emas dari ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir serta perak dari masing-masing Sri Wahyuni Agustiani (48 kg) dan Eko Yuli Irawan (62 kg) membuat Indonesia meraih hasil lebih baik ketimbang Olimpiade London 2012. Yakni, saat hanya meraih satu perak dan satu perunggu.

Raihan di Brasil juga yang terbaik sejak Olimpiade Sydney 2000 (1 emas dan 3 perak). Capaian terhebat Indonesia tentu saja masih Olimpiade Barcelona 1992 dengan 2 emas, 1 perak, dan 5 perunggu.

Meski ada progres, tetap saja ada catatan dari penampilan atlet Indonesia di Rio 2016. Dari 28 atlet (16 putra, 12 putri) yang turun di tujuh cabor, capaian renang paling miris.

Dua perenang Indonesia Glenn Victor Sutanto dan Yessy Venisia Yosaputra meraih hasil yang sangat buruk. Memang, berstatus atlet wild card, mereka tidak diharapkan mendapat medali. Tetapi, catatan waktu Glenn dan Yessy jauh di bawah pencapaian terbaik mereka.

Glenn hanya mencatat waktu 54,25 detik saat turun di nomor 100 meter gaya kupu-kupu. Biasanya, perenang asal Bali itu bisa menembus 53,33 detik. Yessy lebih parah.

Turun di nomor 200 meter gaya punggung, dia hanya mencatat waktu 2 menit 20,88 detik dan menempati ranking ke-28 dari 28 perenang. Torehan terbaik Yessy adalah 2 menit 17,17 detik.

Glenn memang tidak berkembang. Padahal, di nomor 100 gaya kupu-kupu, dia pernah berada di depan perenang Singapura Joseph Schooling. Glenn meraih perak Sea Games 2011, sedangkan Schooling mendapat perunggu.

Sekarang, perbandingannya bagai bumi dengan langit. Saat Glenn masih begitu-begitu saja, Schooling mendapat emas di Rio dengan mengalahkan superstar utama renang Michael Phelps. Bukan hanya itu, catatan waktu Schooling, 50,39 detik, menjadi rekor baru Olimpiade.

Pelatih renang Indonesia Albert C. Susanto menyatakan bahwa yang didapat Schooling adalah hasil dari ketekunan. Sejak usia 13 tahun, dia ditangani serius oleh pelatih papan atas dunia dari Spanyol, Sergio Lopez Miro.

Setelah lulus SMA, Schooling pindah ke Texas untuk digembleng mantan pelatih kepala renang tim Olimpiade AS Eddie Reese. Yang merekomendasikan Schooling ke Texas adalah Sergio Lopez. ”Bandingkan dengan pelatih kami yang gonta-ganti dengan program yang otomatis gonta-ganti,” ucap Albert.

Saat ini, lanjut Albert, untuk melawan Singapura saja Indonesia sangat sulit. Sebab, dana memang kering. Sergio Lopez saja digaji Rp 4 miliar per tahun oleh Singapura. Itu di luar biaya akomodasi dan transportasi.

Sebaliknya, level pelatih asing Indonesia masih bergaji Rp 48 juta per tahun. Yang membayar adalah Satlak Prima. Padahal, kalau untuk biaya transportasi plus rumah dan asuransi, total biaya pelatih asing mencapai Rp 58 juta. Jadi, Rp 10 juta adalah hasil saweran pelatih.

”Dukungan dari PB PRSI boleh dikatakan nol untuk tim nasional,” kata Albert. Ketua Umum PB PRSI Sandiaga Uno, kabarnya, akan mundur dari jabatannya karena mencalonkan diri untuk pilgub DKI Jakarta. ”Akhir bulan ini harusnya adalah munas (musyawarah nasional),” ucap Albert. 

"Jadi, agar semuanya berjalan dengan baik, organisasinya dulu harus baik,” imbuhnya.

Sementara itu, pelatih BMX Dadang Haris Poernomo sangat yakin banyak atlet Indonesia yang mengikuti jejak Toni Syarifudin untuk lolos Olimpiade. Tetapi, syaratnya, sarana dan prasarana harus di perbanyak. 

Saat ini hanya ada satu trek BMX yang lumayan di Indonesia. Yakni di Muncar, Banyuwangi. Itu pun starting hill-nya hanya 5 meter. Padahal, di Rio 2016, starting hillnya menembus 8 meter.

”Lintasan itu adalah tempat untuk pembibitan. Indonesia setidaknya membutuhkan lima sampai enam trek agar melahirkan banyak atlet lain yang bisa menembus Olim pia de,” kata Dadang. 

Sarana, dana, dan keseriusan pemerintah, imbuh Dadang, menjadi salah satu faktor mutlak kesuksesan seorang atlet. Hal yang sama berlaku di cabor lain. (*)

© 2014 Padek.co