Berkacalah ke Bulutangkis


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 21 August 2016 11:28 WIB    Dibaca : 20 kali

 

Cabang bulutangkis terus menuai pujian setelah kembali mengharumkan nama Indonesia di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Indonesia berhasil meraih satu medali emas lewat cabang bulutangkis dari pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Tontowi/Liliyana membawa pulang medali emas setelah di final mengalahkan wakil Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, dengan skor 21-14, 21-12.

“Ini adalah kemenangan kita semua. Seperti sejak awal saya sampaikan, Olimpiade Rio merupakan titik balik kita terhadap prestasi olahraga Indonesia sebelum menjadi tuan rumah di Asian Games,” ujar Chef de Mission (CDM) Kontingen Indonesia di Olimpiade Rio, Raja Sapta Oktohari melalui pesan tertulisnya, kemarin.

“Cabang bulutangkis merupakan benchmark cabor yang serius dalam peningkatan prestasi dan kaderisasi. Bulutangkis memiliki banyak potensi yang membanggakan dan merupakan salah satu olahraga favorit di Indonesia. Kemenangan tim bulutangkis diharapkan bisa memotivasi cabor lain untuk meningkatkan kinerja mereka,” jelas Okto.

Okto juga berharap Indonesia bisa menciptakan lebih banyak pahlawan olahraga yang dapat diandalkan di semua multi event internasional. “Indonesia butuh lebih banyak lagi HERO di olahraga,” pungkasnya.

Sementara itu, tambahan 1 medali emas dari cabang bulutangkis menempatkan posisi Indonesia pada klasemen sementara perolehan medali Olimpiade Rio de Janeiro 2016 hingga Kamis 18 Agustus 2016 naik drastis ke posisi 39. Dengan raihan 1 emas dan 2 perak. Atau posisi Indonesia berada di atas tiga negara Asia Tenggara yakni Vietnam, Singapura, dan Malaysia.

Raihan medali Indonesia hanya kalah dari Thailand yang telah mengkoleksi 2 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Thailand berada 15 peringkat di atas Indonesia yakni di posisi ke-24.

Sementara Vietnam di posisi 45 dengan 1 emas dan 1 perak, dibuntuti Singapura dengan 1 emas. Malaysia, hingga 2 hari jelang penutupan Olimpiade, masih belum bisa mengumpulkan medali emas. Raihan terbaik mereka adalah 2 perak dan 1 perunggu.

Namun, Malaysia bisa menjadi ancaman bagi posisi Indonesia. Pasalnya, mereka masih memiliki kesempatan meraup emas. Bukan cuma 1, tetapi 2 emas. Kedua peluang tersebut berasal dari bulutangkis.

Malaysia telah menempatkan satu wakilnya di final ganda putra, Goh V Shem/Tan Wee Kiong menghadapi wakil Tiongkok Zhang Nan/Fu Heifeng. Satu peluang emas lagi datang dari sektor tunggal putra.

Andalan mereka Lee Chong Wei akan bertemu Lin Dan (Tiongkok) di babak “4 Besar” guna memperebutkan satu tempat di final. Babak semi final tunggal putra dipertandingkan sebelum laga final ganda putra. Jika Malaysia sukses dengan dua kesempatan tersebut, mereka akan berada di atas Indonesia dalam klasemen sementara perolehan medali.

Tiga hari jelang penutupan Olimpiade, 21 Agustus, peluang Indonesia untuk merebut medali sudah tertutup. Satu atlet lagi yang berjuang di cabang balap sepeda BMX atas nama Toni Syarifudin juga kandas, setelah Toni terjatuh. Akibat insiden itu, dia mengalami patah tulang di bagian bahu. 

Seperti sudah diprediksi Raihan medali Indonesia tidak akan bergerak jauh dengan menempati posisi 42. Dengan raihan itu, posisi Indonesia, dibandingkan Olimpiade London 2012 lalu, memang masih bagus.

Empat tahun lalu, dengan raihan satu perak dan satu perunggu, Indonesia bertengger di posisi 63 dari 85 negara yang berhasil meraih medali ketika itu. Raihan empat tahun lalu itu juga sama dengan Malaysia.

Sementara itu, kegembiraan yang sama untuk raihan emas Indonesia juga dirasakan Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Erick Thohir. Namun, dia meminta, pada masa yang datang, jangan lagi hanya mengandalkan bulutangkis sebagai tumpuan medali emas.

“Saya gembira hasil emas akhirnya bisa diraih Indonesia tapi pada masa depan, emas harusnya juga bisa diraih cabang lainnya. Yang terpenting adalah pemerintah bersama KOI Satlak Prima harus segera mengubah strategi kita bahwa Olimpiade merupakan tujuan utama, barulah Asian Games, SEA Games, kemudian PON,” katanya. (*)

 

© 2014 Padek.co