Sejarah Murray dari Rio


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 16 August 2016 09:10 WIB    Dibaca : 35 kali

 

Sejarah besar diukir Andy Murray kemarin di Rio de Janeiro. Medali emas yang direngkuh petenis Britania Raya tersebut menjadikannya orang pertama yang mampu meraih medali emas Olimpiade dua kali berturut-turut di nomor tunggal. 

Lebih dahsyat lagi, sejak olimpiade digelar kali pertama pada 1896, belum ada petenis tunggal putra maupun putri yang mampu meraih emas lebih dari sekali. Hanya Murray yang sanggup mewujudkan itu.

”Fakta yang menunjukkan belum pernah ada sebelumnya yang bisa mencapai ini menunjukkan melakukan ini benar benar sulit,” ucap Murray. “Aku benar-benar  bangga menjadi orang pertama yang bisa melakukannya,” tambah petenis 29 tahun tersebut dilansir BBC.

Di final Murray menumbangkan perlawanan petenis Argentina Juan Martin del Potro dalam empat set 7-5, 4-6, 6-2, 7-5. Dia bertarung selama empat jam dua menit. 

Jawara Wimbledon 2016 itu sanggup keluar dari tekanan suporter del Potro yang lebih banyak memenuhi Tennis Olympic Center. Di setiap jeda pertandingan, para suporter asal Argentina terus mencoba menghancurkan konsentrasi Murray dengan berteriak “Ole, ole, ole,” layaknya suporter sepak bola.

Bahkan, dua orang penonton sempat mendapatkan hukuman eject, keluar dari venue pertandingan. Itu karena mereka tidak mengindahkan instruksi wasit yang meminta suasana tenang saat laga berlangsung.

“Malam ini adalah pertandingan tersulit yang pernah aku lewati,” ucap Murray mengomentari perilaku para penonton tersebut.

Petenis kelahiran Glasgow Skotlandia tersebut kini tak perlu lagi berkecil hati akan torehan trofi grand slam yang masih kalah jauh dari para petenis big four lainnya (Novak Djokovic, Roger Federer dan Andy Murray). Sejauh ini, Murray baru mendapat tiga gelar grand slam. 

Di lain sisi, Djokovic sudah mengumpulkan 12 gelar, Federer 17 piala, dan Nadal 14 trofi. Raihan dua emas Olimpiade ini sudah cukup membuat lawan-lawan Murray selanjutnya makin segan.

Setelah tiga musim terakhir absen total di berbagai ajang akibat cedera pergelangan tangan, raihan perak di Olimpiade membuat del Potro sudah begitu puas.

Apalagi, dia mencapai final dengan tidak mudah. Di babak pertama dia menumbangkan unggulan pertama Djokovic. Di semifinal, giliran Nadal yang dia hempaskan.

”Ketika aku melihat medali yang aku dapat, aku sudah sangat bahagia,” ucap petenis 27 tahun tersebut. “Aku baru saja kalah lewat pertandingan final apik melawan Andy. Aku tidak menyangka bisa sedekat ini dengan medali emas,” tambah peraih perunggu Olimpiade London 2012 tersebut. 

Di lain sisi, petenis Jepang Kei Nishikori berhak meraih perunggu. Dia menumbangkan Nadal 6-2 6-7 (1-7) 6-3 di perebutan tempat ketiga. (*)

© 2014 Padek.co