Air Mata Iringi Perpisahan Debby


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 16 August 2016 09:05 WIB    Dibaca : 18 kali

 

Awalnya, Debby Susanto masih santai-santai saja membicarakan hasil pertandingan perempat final Olimpiade Rio 2016. Dia menyatakan tidak terlalu menyesali kekalahan melawan seniornya, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. 

Namun, tiba-tiba saja, Debby menangis ketika ditemui Jawa Pos di mixed zone arena bulu tangkis Riocentro-Pavilion 4 kemarin. ’’Ini olimpiade terakhir saya...,’’ ucap atlet kelahiran Palembang tersebut. 

Berpasangan dengan Praveen Jordan, Debby memang tidak terlalu tampil prima. Mereka kalah telak 16-21 dan 11-21 hanya dalam tempo 36 menit melawan Owi/Butet. Kekalahan itu memupus harapan Praveen/Debby untuk mendapatkan medali olimpiade.

"Keputusan mundur ini saya ambil tanpa tekanan dari siapa pun. Ini masalah pribadi,’’ kata Debby enggan menjelaskan alasannya mengambil keputusan tersebut. Apakah karena ingin berumah tangga? ’’Ya, doakan saja,’’ imbuhnya. 

Empat tahun lagi di Tokyo 2020, Debby berusia 31 tahun. Sebetulnya, dia masih belum terlalu tua untuk bertarung kembali di level tertinggi. Namun, keputusannya untuk pensiun dari arena olimpiade sudah diambil, tidak bisa diubah lagi.

”Sekarang giliran dia yang masih muda,” ungkap Debby, lantas menepuk bahu Praveen yang berdiri di sampingnya. Praveen hanya tersenyum. Pebulutangkis berusia 23 tahun itu mengaku sudah mendengar rencana Debby tersebut.

Namun, Ucok, panggilannya, menjelaskan bahwa Debby masih akan berpasangan dengannya dalam beberapa tahun ke depan. Soal kepastian waktu berhenti total, Praveen tidak bisa memastikan. 

Mengenai kekalahannya melawan Owi/Butet, Praveen menegaskan sudah berusaha bermain dengan sangat maksimal. Tetapi memang, secara pengalaman dan taktik, dia kalah melawan kompatriotnya tersebut.

”Saya rasa kami kalah melawan diri sendiri. Namun, masih tetap ada wakil Indonesia di semifinal. Itu yang harusnya tetap kami syukuri,’’ tutur Praveen. 

Owi/Butet pun akan menjalani partai penting melawan unggulan pertama asal Tiongkok Zhang Nan/Zhao Yunlei pada semifinal pagi ini WIB. Owi mengungkapkan, secara skill, teknik, dan taktik, semua pemain di semifinal berada dalam level yang merata. 

Owi/Butet mempunyai rekor buruk melawan peraih emas Olimpiade London 2012 tersebut. Dalam delapan pertemuan terakhir, mereka selalu kalah. Namun, apa pun bisa terjadi.

”Kehebatan Zhang/Zhou itu adalah mentalnya yang sangat luar biasa. Karena sudah sering juara, mereka sangat percaya diri dan tenang dalam menghadapi situasi apa pun,” kata Butet. 

”Namun, kami akan sangat fokus pada diri sendiri. Berusaha untuk rileks. Sebab, bagi saya, ini adalah olimpiade ketiga. Yang paling penting juga adalah komunikasi di lapangan,” imbuhnya. 

Di Beijing 2008, Butet yang berpasangan dengan Nova Widianto sukses menembus final. Namun, seeded pertama tersebut kalah melawan Lee Yong-dae/Lee Hyo-jung yang saat itu berstatus sebagai nonunggulan. Di London 2012, Butet yang sudah berpartner dengan Owi berhasil ke semifinal, tetapi mereka pulang tanpa medali. (*)

© 2014 Padek.co