Tak Ada yang tak Mungkin, Ega!


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 12 August 2016 09:34 WIB    Dibaca : 6 kali

 

Malam Ini Melawan Pemanah Top Italia 

Riau Ega Agatha Salsabila pagi ini waktu Rio (malam WIB) menjalani pertandingan paling penting dalam karirnya. Pemanah kelahiran Blitar itu berhadapan dengan atlet top Italia, Mauro Nespoli, pada babak 16 besar di Sambodromo. 

Ega menjadi satu-satunya pemanah Indonesia yang bertahan di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Peringkat ke-29 dunia tersebut sekarang menjadi perhatian besar karena berhasil mengalahkan pemanah nomor satu dunia dari Korea Selatan Kim Woo-jin pada fase 32 besar. 

Nespoli adalah pemanah kawakan. Pada nomor beregu, prestasi puncaknya adalah mengantarkan Italia merebut emas Olimpiade London 2012. Namun, tahun ini Italia merosot tajam dengan kalah di perempat final. Mereka dibantai Tiongkok dengan skor telak 0-6. Pada babak 64 besar, Nespoli menyingkirkan pemanah Indonesia Muhammad Hanif Wijaya. 

Setelah mengalahkan Woo-jin, Ega mengaku sangat percaya diri. Namun, dia tidak ingin berlebihan. Sebab, perjalanan masih sangat panjang. “Sekarang yang terpenting saya rileks dan santai saja. Tidak terlalu terbebani,” ucap pemanah 24 tahun tersebut. 

Secara statistik, Ega dan Nespoli sebetulnya berada dalam level yang hampir sama. Ega memiliki rata-rata target 9,22. Kemenangannya di nomor recurve dunia adalah 13 kali atau 57 persen. 

Sementara itu, Nespoli lebih berpengalaman dengan meraih kemenangan di panggung dunia dengan 58 kali alias 56 persen. Sedangkan rata-rata sasarannya mencapai 9,24 persen, lebih tinggi sedikit ketimbang Ega. 

Kepada Jawa Pos (grup Padang Ekspres), Ega mengatakan, sudah mengantisipasi semuanya menjelang pertandingan yang menentukan itu. Cuaca, arah angin, sampai kondisi busur sudah dia cek dengan sangat detail. 

Apalagi, dalam dua hari terakhir Brasil tiba-tiba diguyur hujan. Meskipun hujan, panahan masih tetap berlangsung. Ega membawa dua busur ke Rio. Jadi, kalau yang satu bermasalah, dia akan cepat mengantisipasinya dengan mengganti ke busur lain. 

Ega juga belajar banyak dari setting busur yang tidak baik saat tim Indonesia dikalahkan Amerika Serikat (AS) pada babak perempat final beregu putra Sabtu, 6 Agustus lalu. Ketika itu busur Ega agak tidak nyaman.

Dia merasa tidak ideal mengganti setting setelah berlatih pasca mengalahkan Taiwan, menuju laga melawan Amerika Serikat. “Hal tersebut saya kira tidak boleh terjadi lagi. Saya harus siapkan semuanya,” kata Ega. 

Pelatih panahan Indonesia Denny Trisjanto mengatakan, yang harus diperkuat Ega saat ini adalah mental. Soal skill dan kemampuan, hampir semua pemanah di level itu sudah sangat merata. Siapa yang siap, dia yang menang. “Ega tahu bahwa banyak yang mendukungnya sekarang. Dia menjadi lebih bersemangat,” tutur Denny. 

Kalaupun bisa melewati Nespoli, jalan Ega untuk mendapatkan medali tetap sangat terjal. Sebab, di sana masih bercokol dua pemanah Korsel, Ku Bon-chan dan Lee Seung-yun. Sedangkan dua pemanah top AS, Brady Ellison dan Zach Garrett, sudah saling bantai di 16 besar. (*)

 

© 2014 Padek.co