Terbaik Sepanjang Sejarah Indonesia


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 10 August 2016 10:56 WIB    Dibaca : 49 kali

 

Eko Catat Hattrick Medali di Olimpiade 

Cabang olahraga angkat besi kembali menyumbangkan medali untuk kontingen Indonesia di Olimpiade Rio 2016. Lifter nasional paling kondang Eko Yuli Irawan, meraih perak pada kelas spesialisasinya 62 kilogram di Riocentro-Pavillon 2, Barra da Tijuca, Rio de Janeiro kemarin malam.

Eko mengikuti jejak Sri Wahyuni Agustiani yang sebelumnya mendulang perak pada kelas 48 kg putri. Capaian dua perak ini adalah prestasi terbesar angkat besi nasional di satu kali Olimpiade sepanjang sejarah. 

Eko sendiri sukses mencetak hat-trick medali di Olimpiade. Sebelumnya di Beijing 2008 dan London 2012, lifter kelahiran Metro, Lampung ini mendapatkan perunggu. Belum ada satupun atlet Indonesia yang bisa menyamai pencapaian itu. 

Emas nomor ini diraih lifter veteran Kolombia Oscar Albeiro Figueroa Mosquera. Atlet 33 tahun itu menjadi pria pertama dalam sejarah negerinya yang meraih emas Olimpiade. Tak heran, usai perlombaan, Figueroa menangis sesenggukan di atas panggung. Di sana, dia melepas sepatunya tanda pensiun. 

Ribuan fans Kolombia yang memadati Riocentro-Pavilion 2 ikut berpesta pora. Mereka bernanyi-nyanyi, menari-nari, dan mengibarkan bendera Kolombia. Banyak fans yang memilih bertahan di arena sampai lampu dipadamkan, menikmati aura kemenangan yang meletup-letup. 

Bahkan beberapa dari mereka sampai dikawal tentara keluar dari kompleks Riocentro karena enggan segera pulang.

“Peluang kami mendapatkan emas sangat terbatas. Hanya dari angkat besi dan mungkin BMX. Jadi rasanya luar biasa menjadi saksi sejarah hari ini,” ucap fans asal Bogota yang memakai jersey tim nasional sepakbola Kolombia, Mauricio Dorrado kepada koran ini. 

Sebaliknya, kubu Indonesia terlihat agak loyo. Sebab meski berhasil menaikkan prestasinya, namun peluang Eko untuk melesat mendapatkan emas sejatinya luar biasa besar.

“Kami gembira, bersyukur. Namun, rasanya ada yang kurang saja,” kata Ketua Umum PP PABBSI Rosan Perkasa Roeslani sambil memegang dadanya. 

Memang, kans angkat besi untuk mendapatkan emas perdana dalam sejarah terbuka sangat lebar. Pertama, pesaing utama Eko, juara kelas 62 kg London 2012 asal Korea Utara Kim Un-guk terkena doping dan absen di Rio 2016. 

Dan yang kedua, yang membuat harapan membumbung tinggi adalah ketika juara dunia 2015 sekaligus pemegang rekor dunia Chen Lijun mengalami cedera saat melakukan angkatan pertama. Lifter asal Tiongkok tersebut gagal melanjutkan perlombaan akibat cedera hamstring. 

Dengan keluarnya Chen, kompetisi sangat bisa ditebak. Hanya two-horse race, Eko melawan sang peraih perak London 2012, Figueroa. Eko sendiri mengawali perlombaan dengan sangat meyakinkan dengan angkatan snatch 142 kilogram. Dia berada di depan Figueroa yang memulainya dengan 137 kilogram. 

Ketika itulah drama terjadi. Chen mengalami cedera. Baik Eko dan Figueroa paham bahwa inilah saatnya. Keluarnya Chen, membuat tim pelatih Indonesia melakukan perubahan strategi.

Eko ditargetkan untuk mengangkat empat sampai lima kilogram lebih berat ketimbang Figueroa pada snatch. Namun dua angkatan Eko yakni 146 kilogram gagal. Sementara itu Figueroa sukses menajamkan angkatannya menjadi 142 kilogram pada kesempatan kedua. 

Skor di sesi snatch menjadi sama kuat 142-142. Figueroa mendapatkan keuntungan besar karena bobot tubuhnya lebih ringan ketimbang Eko. Jika total angkatan mereka sama, maka Figueroa yang akan jadi pemenang. 

Pada sesi clean and jerk, kendali strategi total berada di tangan Kolombia. Apalagi Figueroa memang lebih kuat dalam angkatan jenis itu ketimbang Eko. Benar saja, angkatan terbaik Eko hanya 170 kg pada kesempatan pertama.

Sedangkan usahanya untuk mengangkat 176 dan 179 kg gagal. Sedangkan Figueroa mampu mencatat angkatan terbaik 176 kg. Lifter bertinggi 165 kg tersebut memastikan emas dengan keunggulan 6 kg dari Eko. 

Eko mengatakan untuk secara pencapaian medali dia puas. Namun untuk total angkatan, lifter yang akan membela Jawa Timur di PON 2016 itu mengaku kecewa. Sebab di London 2012, Eko yang mendapatkan perunggu mampu mencatat 317 kg, lebih berat 5 kg dibandingkan kemarin. 

“Ketika Chen Lijun keluar saya memang agak terlalu percaya diri,” aku Eko. “Saya memang ingin menembak di snatch karena saya tahu lawan kuat di clean and jerk. Namun ternyata saya gagal. Padahal sehari-hari, saya bisa menangkat 146 kg (dalam snatch),” sesalnya.

Yang juga membuat Eko agak kecewa adalah, di Rio 2016, kondisi fisiknya jauh lebih baik ketimbang empat tahun lalu di London. Namun apapun hasilnya, Eko merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan tiga medali dalam tiga Olimpiade beruntun.

“Saya masih penasaran emas. Olimpiade selanjutnya (di Tokyo 2020) saya akan turun, belum mau pensiun dulu,” kata Eko yang empat tahun lagi berumur 31 tahun itu.

Eko sendiri akan mendapatkan bonus besar. Sama seperti Sri Wahyuni, negara akan mengguyurnya dengan uang Rp 2 miliar plus tunjangan Rp 15 juta per bulan seumur hidup.

Bonus besar datang juga dari Ketum PP PABBSI Rosan Roeslani. Dia menjanjikan satu unit rumah kepada Eko. “Alhamdulillah saya bersyukur sekali. Saya ingin membeli sapi untuk kurban dan juga membantu mertua naik haji,” kata Eko lantas tersenyum.

Pada nomor yang sama, junior Eko, M Hasbi berada di posisi ketujuh dengan total angkatan 290 kg. Angkat besi masih berpeluang untuk mendapatkan tambahan medali.

Peraih perak London 2012 Triyanto, pagi ini akan turun pada kelas spesialisasinya 69 kg. Di akan bahu membahu bersama I Ketut Ariana. Satu lagi adalah Deni yang berlomba di nomor 77 kg. Memang kalau melihat peta persaingannya, untuk mendapatkan medali lagi cukup berat. 

“Namun semuanya bisa saja terjadi. Ingat, Triyatno ini keberuntungannya besar. Di London, tujuh lifter yang berada di atasnya gagal mengangkat. Jadi, dia bisa mendapatkan perak. Semoga hal yang sama terjadi,” kata pelatih kepala angkat besi Indonesia Dirja Wihardja. (*)

 

© 2014 Padek.co