Mengejar Kebanggan di Rio


Wartawan : Redaksi - Editor : Riyon - 08 August 2016 11:15 WIB    Dibaca : 21 kali

 

Lebih dari 10.500 atlet dari 206 negara mulai Sabtu (6/8) berlaga di Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil. Mereka akan bersaing untuk memperebutkan 306 keping medali yang terdistribusi di 28 cabang olahraga (cabor). 

Indonesia yang merupakan bagian dari Komite Olimpiade Internasional juga ambil bagian dalam ajang multicabor empat tahunan tersebut. Dari jumlah atlet, Indonesia memang tidak sebesar kontingen Tiongkok, Amerika Serikat, atau Rusia. Mereka mengirimkan atlet hingga mencapai 400 orang. Indonesia? Hanya 28 atlet yang terjun di tujuh cabor.

Namun, Olimpiade bukan sekadar perburuan medali dan perebutan gelar juara. Ada nilai persahabatan, pesan perdamaian, dan kesetaraan derajat di sana. Di samping tentu saja kebanggaan.

Tidak ada istilah negara superpower atau negara kecil. Atlet dari negara adidaya seperti Amerika akan turun ke lapangan dengan status yang setara dengan negara baru dan kecil, seperti Kosovo misalnya. 

Bagi Indonesia sendiri, dengan hanya berkekuatan 28 atlet, tentu tidak mungkin kita berharap bisa bersaing dengan Tiongkok, Amerika, atau Rusia dalam perburuan medali. Sekeping atau dua keping emas tentu sudah merupakan kebanggaan tersendiri bagi kita. Sebab, dengan merebut medali emas, bendera Merah Putih akan berkibar dan lagu Indonesia Raya bakal berkumandang di arena multievent olahraga terbesar sejagat tersebut.

Akankah keinginan itu bisa terwujud? Berdasar sejarah dan melihat kondisi saat ini, hal tersebut sangat mungkin direalisasikan. Sejak Olimpiade Barcelona 1992, Indonesia hanya puasa medali emas pada Olimpiade London 2012. Ketika itu cabor bulu tangkis yang selama ini diandalkan untuk mendulang emas macet. Walhasil, Indonesia harus puas hanya membawa pulang satu medali perak dan satu perunggu. Semuanya berasal dari cabor angkat besi.

Kali ini, tanpa mengecilkan arti cabor lain, harapan besar raihan medali emas tetap dibebankan ke pundak atlet-atlet bulu tangkis. Bila empat tahun lalu kita hanya mengandalkan pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang akhirnya tersingkir di semifinal, kali ini beban itu bisa dibagi ke pada atlet lain. Ada pasangan ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda.

Dua pasangan tersebut juga sudah membuktikan kemampuan mereka. Seluruh pasangan terbaik dunia pernah mereka hadapi dan mereka saling mengalahkan. Belum lagi ganda campuran baru juara All England 2016 Praveen Jordan/Debby Susanto yang siap melapis seniornya, Tontowi/Liliyana.

Suntikan semangat juga ditiupkan pemerintah. Bonus Rp 6 miliar akan mengalir kepada atlet peraih medali emas. Belum lagi iming-iming dana pensiun. Semoga semua itu akan memacu semangat para atlet yang tengah berburu kebanggaan di Rio. (*)

© 2014 Padek.co