Trotoar dan Pejalan Kaki


Wartawan : Zulkarnaini - Editor : Riyon - 24 January 2016 11:25 WIB    Dibaca : 98 kali

 

Suatu hari, saya berjalan-jalan di sekitaran pasar Lubuk Buaya, Padang. Suatu pemandangan memiriskan yang saya lihat. Trotoar yang notabene untuk pejalan kaki, kini dimonopoli oleh pedagang kaki lima (PKL).

Pemandangan seperti ini, sudah lazim terjadi di kota-kota besar. Himpitan ekonomi jugalah yang memaksa orang rela melakukan apa saja, asal bisa mendapatkan uang. Termasuk harus mengorbankan hak pejalan kaki sekalipun.

Menariknya, Satuan Polisi-Pamong Praja (Satpol-PP) yang notabene instansi terkait untuk melakukan penertiban tersebut, masih terkesan menutup mata. Seakan ada skenario terselubung yang bermain untuk melestarikan praktik-praktik illegal tersebut.

Salah satu lokasi yang terang-terangan menempati fasilitas umum itu adalah pedagang buah yang berada di Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Lubuk Buaya. Para pedagang tergolong nekat dengan mendirikan lapak-lapak semi permanen.

Bagi para pejalan kaki yang hendak melintasi jalan tersebut, terlihat tidak bisa berbuat banyak. Pilihan untuk menggunakan jalan raya harus diambil. Meski faktor risiko kecelakaan sangat mengancam keselamatan para pejalan kaki.

Jalan-jalan di sana semakin sempit dan sembraut dengan banyak kendaraan pribadi yang memarkir kendaraannya di depan lapak-lapak tersebut, untuk bertransaksi buah-buahan. Tak jarang kemacetan panjang, pun menghiasi lokasi tersebut.

Persoalan kemacetan itu tidak hanya disebabkan oleh kendaraan pribadi saja, namun juga diakibatkan mobil-mobil barang yang sedang bertransaksi membayar retribusi. Kondisi itu, juga menutupi halte Trans Padang.

Lain lagi di sepanjang Ulakkarang hingga Lolong. Di mana, kebanyakan trotoar dipergunakan sebagai tempat untuk memajang mobil-mobil second oleh showroom. Meski praktik tersebut sudah berjalan lama, namun hingga kini belum juga ada penertiban.

Titik-titik lainnya, yang bisa ditemui persoalan seperti itu adalah di sepanjang jalan Khatib Sulaiman. Selain juga dipenuhi dengan sorum-sorum kendaraan, ada juga lokasi penjual tanaman hias yang sudah sejak lama menggunakan trotoar sebagai tempat berjualan.

Keseriusan tim penegak Perda dalam menegakan aturan memang dipertanyakan. Karena pemanfaatan trotoar sebagai tempat berjualan tidak hanya terjadi di daerah itu saja, namun masih banyak lagi di titik lainnya. Pertanyaannya, sampai kapan kah persoalan ini akan dibiarkan begitu saja? (*)

© 2014 Padek.co