Susahnya jadi Masyarakat Biasa


Wartawan : Eka Rianto - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 17 January 2016 11:18 WIB    Dibaca : 111 kali

 

Awal minggu lalu penulis memiliki pengalaman yang menarik dalam layanan kesehatan di salah satu Puskesmas di Kota Padang ini. Ternyata, menjadi masyarakat biasa itu tak begitu mengenakkan. Layanan yang semestinya menjadi tanggung jawab Puskesmas, malah sulit didapatkan.

Itulah yang penulis rasakan. Senin (11/1) lalu, jadwal imunisasi anak penulis. Karena tinggal di Kelurahan Alai, dan hanya berjarak 1 kilometer dari Puskesmas Alai, penulis membawa anak untuk melakukan imunisasi polio. Anak penulis saat itu telah berusia 40 hari.

Namun, sesampai di loket pendaftaran, penulis ditolak petugas karena BPJS penulis rujukannya bukan ke Puskesmas Alai, namun disalah satu klinik di Jalan S Parman. Petugas menyarankan agar membawa anak ke klinik rujukan. Namun, sesampai di klinik rujukan BPJS, klinik diminta ke Puskesmas Ulakkarang karena pihak klinik tak mendapatkan vaksin polio dari pemerintah. 

Ingin mengikuti saran pihak klinik, penulis membawa ke Puskesmas Ulakkarang. Petugas Puskesmas merasa heran dengan penjelasan penulis karena mesti membawa anak imunisasi jauh dari rumah. Padahal pelayanan imunisasi ini bisa dilakukan di puskesmas mana saja. Seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 42/2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi. 

Meski disambut dengan ramah oleh petugas puskesmas, namun jadwal imunisasi baru bisa dilakukan esok harinya. Nah, disinilah penulis menyerah menjadi masyarakat biasa.

Dengan pertimbangan kesehatan anak, penulis menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Eka Lusti, tentu dengan menyebutkan lembaga dimana penulis bekerja. Akhirnya, sang Kadis meminta penulis untuk menanti sebentar saja karena anggotanya di Puskesmas Ulakkarang akan menemui penulis.

Namun, penulis terlanjur kecewa. Lebih baik ikuti aturan saja untuk datang esok hari. Pasalnya, petugas tadi menjelaskan jadwal imunisasi besok. Namun, Kadis  tadi tetap bersikukuh bisa dijadwalkan imunisasi hari itu. Sekali lagi, penulis bersikukuh tetap sesuai jadwal ditetapkan. Ingin menjadi masyarakat biasa.

Sepenggal kejadian itu bukan menunjukkan betapa hebatnya profesi dan tempat penulis bekerja. Sehingga, seorang Kadis bisa memerintahkan agar pelaksanaan imunisasi bisa dilakukan diluar jadwal. Bahkan, petugas puskesmas itu yang akan mencari penulis.

Tapi coba bayangkan jika masyarakat biasa. Anggap saja tukang becak, tukang ojek, atau yang setara dengan itu. Tentu saja, akan lebih sulit mendapatkan layanan dari pemerintah. 

Tak terbayangkan juga bagi penulis jika penulis tak menggunakan “kekuatan” profesi dan tempat penulis bekerja. Tentunya, sampai saat ini tak jadi anak penulis mendapatkan imunisasi.

Ketika peristiwa ini penulis ceritakan pada kawan penulis yang bekerja di perusahaan alat berat, kawan penulis merasa iri. Namun, kawan penulis memang mengakui menjadi masyarakat biasa di Padang ini memang sulit. Apalagi dalam mendapatkan layanan dari pemerintah.

Jika diminta jujur, ada untungnya juga profesi penulis ini. Tapi apakah itu pantas dilakukan. Layanan publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah, seharusnya memberlakukan sama. Anak pejabat, anak dokter, anak buruh, anak pengusaha, bahkan anak terlantas sekali pun mesti dilayani dengan sama.

Hal inilah yang menjadi sorotan pada Undang-undang No 25/2009 tentang Pelayanan Publik. Dalam diskusi penulis dengan Kepala Ombudsman Sumbar, Yunafri, persoalan layanan publik yang sering terjadi adalah standar.

Artinya standar pelayanan itu berbeda. Dengan siapa yang dilayani, apakah anak pejabat atau profesi tertentu. Jika anak pejabat akan cepat dilayani, termasuk profesi penulis ini. Petugas pelayanan publik akan memberikan pelayanan lebih. Sedangkan masyarakat biasa, akan ada saja kekurangan dan waktunya yang tak pasti. 

Tentunya, penulis tak menginginkan selalu memanfaatkan profesi dan nama besar perusahaan tempat penulis berbeda. Namun, jika amanat UU 25/2009 tadi berjalan baik, maka tak ada lagi perbedaan. Tak ada lagi keluar kelakar dari kawan penulis, susahnya jadi masyarakat biasa. (*)

 

 

© 2014 Padek.co